
Aroma makanan yang tersaji semakin membuat perutku keroncongan. Berjam-jam mengelilingi toko pakaian, menghabiskan banyak tenaga yang pada akhirnya lapar pun menyerang.
Disinilah sekarang aku berada, di restoran cepat saji dengan nuansa yang menyegarkan mata. Sangat estetik, dan yang pasti nya kekinian.
"Enak?" tanyaku pada Seila yang tengah mengunyah makanan favorit nya.
Putriku mengangguk, lalu kembali menyuapkan paha ayam goreng yang menjadi kegemarannya.
"Mah, ini tepungnya dikit, ya?"
"Iya, Sayang."
"Kalau di lumah nenek, aku makan tepungnya aja, dagingnya di makan nenek."
Sesak dadaku seakan di himpit batu yang sangat besar.
Sudah satu minggu aku keluar dari rumah itu, tapi Seila masih saja mengingat kenangan pahit di dalamnya.
Padahal, tidak satu kalipun aku membahas kejadian itu dengannya.
Aku tersenyum hambar dengan tangan mengusap ubun-ubun Seila.
Menyuruh putriku melanjutkan makan, tanpa harus mengingat masa lalu.
Melihat perubahan wajahku, Adi berhenti makan dan mengajak Seila bicara hingga putriku tertawa terbahak dengan lelucon yang dia buat.
Entah apa tujuannya, mungkin ingin menghiburku lewat Seila. Dan dia berhasil.
Melihat Seila tertawa sambil menikmati makanannya, membuat rasa pedih itu menguar perlahan.
Jika Seila saja dengan mudah melupakan rasa sakit, kenapa aku tidak?
"Di,"
"Kenapa, Non?"
"Sudah punya calon istri atau istri?" tanyaku.
__ADS_1
Dia terkekeh, tangannya mengambil segelas jus, lalu meminumnya sedikit.
"Apakah saya pernah memberikan undangan pernikahan pada Non Alira?"
Aku menggelengkan kepala.
"Itu artinya, belum ada pernikahan yang saya jalani."
"Ya, siapa tahu aja kan, kamu menikah tanpa mengundangku, Di."
"Tidak akan mungkin, Non. Keluarga Bapak, sudah seperti keluarga sendiri. Jadi, tidak akan mungkin terlewatkan jika kabar bahagia itu datang. Justru, bisa saja Bapak dan Ibu orang pertama yang saya kasih tahu." tutur Adi.
Tiba-tiba sebuah ide muncul begitu saja.
Ah, ini akan terdengar konyol, tapi tidak ada salahnya untuk mengatakannya kepada Adi. Aku harap, dia memahami.
"Di,"
"Iya, Non?"
"Em...." aku menggaruk tengkuk yang sebenarnya tidak gatal.
"Jadi gini.." aku memperbaiki letak duduk menjadi semakin tegak.
Piring yang berisikan setengah porsi makanan, aku singkirkan ke samping.
Aku melihat Adi dengan lekat bersiap untuk berucap kembali.
"Papa kan memberikan opsi lain tentang perjodohan aku dengan anaknya pak Gunawan. Yaitu, dengan aku membawa calon yang Papa kenal dengan baik. Nah, gimana kalau kamu bantuin aku, Di."
Kedua alis Adi mengernyit.
Pandangannya tak beralih dariku.
"Maksudnya, Non?"
"Mau gak, jadi calon pura-puraku?"
__ADS_1
Kini mata Adi melebar. Mulutnya mengatup sempurna seperti orang kehabisan kata-kata.
Aku jadi salah tingkah setelah berucap demikian. Harga diriku turun merosot sangat jauh ketika Adi tak kunjung membuka suara dengan pandangan tak lepas dariku.
Entah apa yang ada dalam pikiran pria itu hingga sampai mematung seperti itu.
Serendah ini kah aku di matanya, hingga ia enggan menjawab pertanyaanku?
"Di.."
"Kenapa?" tanyanya ambigu.
"Kenapa apanya?" Aku kebingungan dengan pertanyaan dia.
"Kenapa harus saya yang Non Alira jadikan pacar pura-pura? Saya kan cuma supir."
"Ya, terus kalau kamu supir kenapa? gini ya, Di. Papa minta aku bawa calon yang benar-benar Papa sudah mengenalnya. Dan, hanya kamu yang waktu itu ada dalam pikiranku. Kamu kerja sama Papa sudah lama, Papa pun tahu kamu siapa dan sangat mempercayakan aku ke kamu. Jadi, ya menurutku tidak ada salah nya mencoba. Aku hanya ingin melihat reaksi Papa saat aku memperkenalkan kamu sebagai calon ku. Akankah dia menepati janji, atau bahkan akan tetap melakukan perjodohan itu.Ayolah, Di. Bantu aku... plisss..,"
Adi mengusap wajahnya dengan kasar. Selera makannya seperti hilang setelah mendengar penuturanku.
"Kalau seandainya Bapak menghentikan perjodohan itu, dan percaya jika kita benar-benar akan menikah, gimana?" tanya Adi setelah sekian menit membisu.
"Itu akan kita pikirkan nanti. Yang penting, berusaha saja dulu, untuk menghentikan perjodohan. Mau ya, Di..?" ujarku lagi seraya memohon.
Anggukan kepala Adi membuat kedua sudut bibirku terangkat. Hatiku lega, sudah mendapatkan cara untuk tidak menikah dengan cepat.
Aku belum siap.
"Non, Ibu sudah menelepon sejak tadi. Kita harus segera pulang." Adi memperlihatkan ponselnya.
Aku mengangguk, menghabiskan air minum yang tinggal setengah. Lalu membersihkan bibir Seila yang penuh dengan noda makanan.
Setelahnya, kami keluar dari restoran itu dan melanjutkan perjalanan pulang.
Langit mulai menghitam. Waktu pesta pun tinggal dua jam lagi. Pantaslah Mama terus menelepon menyuruh kami pulang.
Jika nanti sampai, sudah di pastikan Mama akan memberondongku dengan berbagai pertanyaan. Mengomel sepanjang waktu hingga ia lelah sendiri.
__ADS_1
bersambung....