Kesombongan Seorang Mantan

Kesombongan Seorang Mantan
episode 4


__ADS_3

"Nenek bilang jangan, ya jangan. Bandel banget sih, gak bisa di bilangin!"


Aku yang tengah mencuci piring di dapur, segera meninggalkan pekerjaanku saat mendengar suara tangis Seila dengan diiringi bentakan Ibu.


"Entah apa yang di perbuat Seila sehingga membuat Neneknya itu marah. Ah, paling juga nyenggol barang atau mungkin Seila lari-lari yang kemudian tidak sengaja menginjak kaki Ibu," pikirku.


Namanya juga anak-anak, pasti ada saja kelakuan dia yang orang dewasa harus memakluminya. Namun, tidak untuk Ibu mertua ku itu. Sekecil apa pun kesalahan Seila, selalu dipandang dengan serius. Dibesar-besarkannya hingga tidak jarang anakku dicubit sampai menangis.


"Ih,,,, disuruh diem juga. Diem, jangan nangis terus!" bentak Ibu lagi seraya menggiring Seila dengan kasar sehingga anakku tersungkur ke lantai.


"Ya Allah,, Ibu. Kenapa Seila di dorong gitu, sih?" Segera aku mengambil putriku dan mengusap kedua pipi nya yang basah oleh air mata.


"Didorong gimana? Orang anakmu jatuh sendiri. Jangan nuduh, deh!"


"Aku enggak nuduh. Aku lihat sendiri kok kalau barusan Ibu dorong Seila. Emangnya Seila salah apa sih, Bu?" tanyaku seraya mengusap-usap pucuk kepala putriku.


"Tuh, mau nyamperin tukang es krim di depan rumah. Gegayaan anak kecil gituan," ujar Ibu dengan nada ketusnya.


Aku menggelengkan kepala menyayangkan sikap Ibu yang terlalu berlebihan.


"Ya Allah, cuma gara-gara es krim doang. Kenapa tidak di beliin, Bu?" ujarku kemudian menggendong Seila.


"Ih, ngapain beliin dia es krim? Boros! jangan di biasakan anak jajan makanan mahal. Tapi dapetnya dikit, buang-buang uang saja," cetus Ibu seraya berlalu pergi menenteng keresek hitam.


Aku hanya bisa mengelus dada seraya menghembuskan nafas kasar. Pantaslah Seila menangis menginginkan es krim, karena dia sangatlah jarang menikmati makanan dingin itu.


Setiap hari, aku pergi bekerja meninggalkan Seila yang aku asuhkan ke tetangga.


Tidak tega dengan dia yang terus merengek meminta es krim, aku pun membelikannya satu corong kecil dengan harga tiga ribu rupiah. Meski hanya sedikit, itu sudah membuat tangis Seila berubah menjadi senyuman manis.


Semurah itu untuk membuat putriku tersenyum bahagia.


****


"Ukhuk,,ukhukk!"

__ADS_1


Aku mengerjapkan mata, bangun dari lamunan masa lalu yang menyesakkan.


"Pelan-pelang makannya, Sayang. Enak es krim nya?" tanyaku seraya mengusap sudut bibirnya.


"Enak, Mah. Cuka deh, ada di cini. Ceila jadi makan ayam banyak. Ada eskim juga di kukas."


Aku tersenyum, mengusap pucuk kepala putriku yang tengah menikmati makanan penutup yang di berikan Mama. Bukan lagi dalam wadah corong kecil, melainkan mangkuk ukuran besar yang tidak akan mungkin bisa di habiskan Seila.


"Tapi, udah dulu makan es krimnya, ya. Sudah batuk loh tadi. Nanti kapan-kapan di makan lagi".


Aku mengambil mangkuk yang ada di depan Seila, memasang tutupnya kembali sebelum aku simpan ke dalam kulkas.


Wajah Seila merengut. Sepertinya ia sangat keberatan. Namun, aku menjelaskan untuk tidak mengonsumsi terlalu banyak es krim.


Seila cerdas, dia menurut dengan apa yang aku katakan. Mengikhlaskan makanan itu untuk aku simpan di lemari pendingin.


"Mama, kapan kita pulang?" tanya Seila polos.


Diam adalah caraku untuk memikirkan jawaban yang bisa membuat dia paham, tapi tidak melukai perasaannya.


Aku tahu, meskipun ayahnya selalu bersikap tidak ramah padanya, tapi rasa kasih dari diri Seila ada buat mas Nathan.


Tidak mengerti dengan ucapan Mama, tatapan Seila kembali mengarah padaku mencari kebenaran. Dengan hati-hati, aku pun menjelaskan jika apa yang di katakan Oma-nya itu memang benar.


Entahlah, dia akan paham atau tidak, yang jelas aku sudah berusaha menjawab pertanyaan Seila dengan tanpa merendahkan ayahnya. Bukan karena aku masih memiliki rasa pada mas Nathan, tapi lebih tepatnya tidak ingin mencederai pikiran Seila.


Dengan seiring waktu dan bertambahnya usia dia, pasti Seila pun akan mengerti kenapa sekarang kami tidak tinggal lagi bersama ayahnya.


"Nanti, Ayah yang akan ke cini ya Mah?" ujar Seila kemudian. Aku hanya tersenyum kecil.


Justru yang aku harapkan ialah, mas Nathan tidak lagi datang dalam kehidupanku. Meskipun itu sekedar urusan Seila. Seperti janji ku saat itu, aku tidak akan mengabarkan apapun tentang Seila kepada mas Nathan.


Hingga akhirnya, Seila sendiri yang datang menemui ayahnya. Jika Seila sudah dewasa dan akan menikah nanti.


Egois kah aku?

__ADS_1


Iya. Seperti dia yang juga hanya memikirkan kesenangan dirinya sendiri tanpa meraba perasaanku sedikit pun. Menyuruhku bertahan dan membiarkan dia melakukan poligami yang sangat tidak adil.


Menyuguhkan madu untuk wanita itu dan memberikan bubuk racun padaku.


"Alira, Papa bisa bicara sebentar?" ujar Papa memanggilku.


Aku menganggukkan kepala, mengikuti langkah kaki Papa. Sedangkan Seila, di bawa Mama untuk melihat kamar yang sudah disediakan mereka untuk putriku.


Ah, Adi. Aku kira dia sangat setia padaku. Ternyata tidak. Diam-diam dia selalu memberikan informasi mengenai diriku pada Papa dan Mama.


Memang, laki-laki itu tidak bisa dipercaya. Janji nya setia, malah mendua. Janjinya rahasia, tapi malah dibuka juga.


Menyebalkan.


"Duduklah, Al," suruh Papa.


Ruangan ini masih sama. Ruangan kerja Papa yang selalu menjadi tempatku bersembunyi jika Bi Ijah menyuruh ku mandi waktu dulu.


Selain keluarga inti, tidak ada yang bisa masuk ke dalam sini karena pintunya yang memakai kode rahasia. Hanya keluarga yang tahu.


"Papa akan membuat pengumuman di seluruh garmen, mengatakan jika kamu adalah putri Papa. Papa juga akan memecat semua orang yang berhubungan langsung dengan mantan suamimu. Termasuk Bima, atasan mantan suamimu yang kini menjadi mertuanya".


"Jangan, Pah!" kataku cepat.


"Jangan?" Papa menatapku dengan heran.


"Kamu keberatan Papa memecat mantan suamimu?" tanya nya lagi dengan nada kesal.


Aku menganggukkan kepala. "Alira bukan keberatan mas Nathan kehilangan pekerjaan. Namun, hukuman itu terlalu ringan untuk mereka Pah. Setidaknya, biarkan aku bermain-main dahulu dengan mereka sebelum akhirnya dia tahu siapa wanita yang dicampakkan ini," ujarku membuat Papa diam tanpa mengalihkan pandangan dariku.


Kemudian pria yang selalu terlihat tampan di usianya yang tak lagi muda itu memajukan tubuh. Tangannya bertumpu pada meja yang jadi penghalang antara aku dan dirinya.


"Lalu, apa yang ingin kamu lakukan pada mereka?" tanyanya kemudian.


Aku hanya memberikan seulas senyuman seraya mengedipkan mata. "Tunggu saja, nanti pun Papa akan tahu".

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁


🍁🍁🍁🍁


__ADS_2