
Dia satu-satunya anak kecil di atas panggung yang pada akhirnya jadi pusat perhatian karena terus berlari-lari kesana ke mari menangkap balon.
Tidak sampai di situ, Seila pun merebut mikrofon dari MC yang sedang bernyanyi. Dia meniup, berbicara asal yang mengundang gelak tawa.
"Dia anak saya." celetuk seseorang dari belakangku.
"Oh, benarkah? kenapa tadi tidak ikut naik ke panggung saat keluarga di panggil?" seorang pria berjas hitam bertanya pada laki-laki yang mengaku sebagai ayah dari putriku.
"Ah, tidak pantas. Saya hanya orang biasa bukan pengusaha."
Tanganku mengepal kuat saat mendengar ucapan mas Nathan. Secara tidak langsung, dia mengatakan jika Papa tidak menganggapnya sebagai ayah dari putriku. Padahal, jelas dia yang menolak Seila. Tidak mengakui karena anaknya bukan laki-laki.
"Masa sih, pak?" tanya pria itu lagi.
"Maaf pak, anda di panggil kesana untuk pengambilan hadiah." aku menghampiri mereka. Mendahului mas Nathan yang hendak berucap.
Pria tadi pergi ke tempat yang aku tunjuk. Sedangkan mas Nathan, ia masih berdiri di tempatnya.
"Al, kita bisa bicara sebentar?" bisik mas Nathan membuat ku bergidik ngeri.
"Tidak bisa."
"Aku hanya membicarakan tentang Seila."
What? tentang Seila?
Sejak kapan dia peduli?
Oh lupa, jika sekarang Seila sudah menjadi cucu bosnya.
__ADS_1
"jangan sok peduli pada Seila. Bukankah kamu tidak mau mengakui dia sebagai anak?"
"Jangan bicara seperti itu, Al. Itu hanya emosi sesaat. Anak, ya tetap anak. Tidak ada yang bisa mengubah itu."
Lihatlah, dia bahkan bisa berubah dengan sangat singkat begitu tahu semuanya. Dasar tidak tahu malu.
"Sayangnya aku masih sangat mengingat kata-katamu yang tidak menginginkan Seila. Perlakuanmu dulu pun masih sangat terekam jelas di kepalaku."
"Alira, kita bisa memperbaikinya."
Aku menoleh, melihat tajam wajah pria itu tanpa berkedip. Sedangkan tangan kanan ku menggapai kue yang berada tak jauh dariku. Menggenggam nya lalu....
PLUKK...
Aku menempelkan kue itu ke wajah mas Nathan dengan sedikit kasar membuat pria itu terhuyung ke belakang.
Emira yang melihat suaminya, langsung naik ke atas panggung dengan menubruk sebelah pundakku. Lalu membawa mas Nathan ke kamar kecil untuk membersihkan noda cake.
"Kamu apa-apaan sih, Al? kalau ada yang merekam gimana?" ujar Mama saat aku duduk di samping nya.
"Masa bodo ah, Ma. Aku benci sama dia, masa iya dia jelekin Papa tadi."
Mama tak lagi bertanya. Menyuruhku untuk segera makan karena acara masih akan berlangsung lama.
Namun, saat aku akan menyuapkan makanan, Seila meminta ke kamar kecil karena kebelet buang air besar. Mau tidak mau, aku harus mengantarnya.
"Mau Mama antar, Al?"
"Tidak usah, Mah. Mamah makan aja, ya."
__ADS_1
Aku pun segera berlalu karena Seila sudah sangat tidak tahan.
Sebenarnya Seila memakai diapers. Tapi, dia tidak biasa jika harus buang air besar di sana. Sejak dulu, Seila memang di biasakan untuk ke toilet jika kebelet.
Maklum, dulu aku irit, jangan terlalu banyak membeli diapers.
Saat kami hendak masuk ke area toilet, aku melihat mas Nathan berjalan keluar beriringan dengan istrinya. Menyadari ada Seila, mas Nathan tersenyum senang memanfaatkan keadaan.
"Seilaa..!" ujar mas Nathan seraya berjongkok merentangkan kedua tangan.
Senyum Seila mengembang, dia pun berlari dengan tangan melambai. Sebenarnya hatiku tidak terima, tapi....
"Om Adi!! Tadi Seila potong kue besal!!" ujar Seila melewati mas Nathan dan malah menubruk kaki Adi yang juga baru keluar dari toilet.
Waw, wajah mas Nathan langsung memerah menahan malu dan marah.
"Bagaimana rasanya tidak di anggap mas? nikmat bukan?"
"Kamu sengaja mendekatkan Seila dengan pria lain agar dia melupakanku?"
Mataku menoleh dengan cepat, menyeringai ke arah mas Nathan yang berucap seraya menatapku tajam.
"Apa untungnya aku melakukan itu?" tanyaku sembari bersidekap dada. Bersandar pada tembok yang mana di dalam nya ada putriku bersama Adi.
Tadi, mas Nathan terus berusaha mengambil hati Seila agar mau di gendong, tapi anakku menolak. Ia malah merengek meminta Adi untuk menemani dia ke dalam toilet, meskipun aku sudah membujuknya.
Hingga akhirnya, kini aku di serang oleh pertanyaan mas Nathan yang tidak terima anaknya lebih memilih Adi dibandingkan dia. Menyalahkan aku, karena putrinya enggan untuk dia sentuh.
bersambung.....
__ADS_1