Kesombongan Seorang Mantan

Kesombongan Seorang Mantan
episode 19


__ADS_3

"Pak, saya janda loh. Jika bapak bersedia, saya siap untuk... membunuh anda sekarang juga!!".


PRANGG!!


Secepat kilat aku mengambil ponsel Bima yang bersandar pada tisu dengan kamera yang menyala.


Aku banting ke lantai hingga terbelah menjadi dua.


Berhasil menghancurkan ponsel, aku berbalik badan menyerang Emira. Kedua pipi nya sudah aku hadiahi pukulan sebagai tanda perpisahan.


Setelahnya, aku langsung lari keluar tanpa menghiraukan teriakan serta umpatan mereka.


"Brengsek kamu, Alira!!"


"Ganti ponselku!!"


Saat aku kembali ke bawah, orang-orang menatapku dengan penuh tanda tanya.


Tanpa kata, aku langsung mematikan mesin jahit, berniat untuk keluar dari pabrik ini.


Sudah cukup aku berada disini dengan kesombongan mereka. Baru punya jabatan segitu aja, Bima dan Emira sudah merasa di atas awan.


Bertingkah sesuka hati dan merasa paling benar.


"Alira, mau kemana?" tanya Della melihat ku berkemas.

__ADS_1


"Pulang, tempat ini sudah tidak cocok untukku."


"Kenapa? dimarahi pak Bima?".


"Dipecat? kamu?"


Pertanyaan demi pertanyaan mereka lontarkan berharap mendapatkan jawaban dari ku.


Aku berdiri melihat wajah-wajah yang pasti akan aku rindukan.


Teman-teman yang menaruh rasa kasih serta peduli ketika diriku sedang berada dalam titik tersulit.


Meskipun di antara mereka ada yang tidak menyukaiku, tapi tak sedikit juga yang menaruh simpati hingga memberiku rasa nyaman untuk berbagi kisah.


"Lir, ada apa? kamu di pecat gara-gara status mantan suamimu?" tanya Della lagi seraya menghampiriku.


Tidak ada waktu untukku berbasa-basi atau sekedar bersalaman dengan teman satu grup.


Aku harus segera pergi dan menceritakan semuanya kepada Papa. Bukan untuk mengadu, tapi agar Papa lebih tegas kepada pemimpin seperti Bima.


Caranya memperlakukan pekerja, sangat jauh di bawah standar. Bisa di bilang kurang sopan dan tidak layak jadi seorang manager.


Di tempat parkir, aku melihat mas Nathan di samping mobilnya. Pantas dia tidak ada di dalam, rupanya pria itu tengah sibuk memasukkan sesuatu ke dalam mobilnya.


"Kena sekarang kamu, Mas."

__ADS_1


Aku mengeluarkan ponsel dari dalam tas, langsung menyalakan kamera ke arah mas Nathan yang tengah mencuri kain dari dalam gudang.


Dasar culas. Mencuri di tempat dia mencari makan.


Setelah merekam aksi mas Nathan, aku langsung keluar dari area pabrik tanpa ingin menjawab pertanyaan satpam yang bertugas.


***


"Disana memang kurang penjagaan. Karena Papa pikir, pabrik sekecil itu bisa teratasi tanpa cctv di setiap sudut. Tapi, ternyata justru di manfaatkan oleh tikus-tikus menjijikan."


Papa menyimpan ponselku ke atas meja. Rahang tegasnya semakin mengeras setelah melihat rekaman yang aku berikan padanya.


"Bertindak dong, Pah. Anak kita di tampar sama anaknya si Bima. Gak ridho Mama." ujar Mama seraya membawa sepiring cookies buatannya.


"Iya, nanti Papa akan tindak. Sekarang Papa harus mengumpulkan banyak bukti dulu, biar punya alasan untuk memecat mereka. Sudah, kamu istirahat saja, Papa mau pergi ke pabrik pusat." Papa berdiri siap untuk pergi.


Baru dua langkah, Seila berteriak minta ikut.


"Opanya mau kerja dulu ya, Sayang. Disini saja sama Oma ya?" bujuk Mama.


"Enggak, ikut Opa." Seila merentangkan tangan berharap Papa akan membawanya.


Melihat wajah polos Seila, membuat Papa tidak tega. Akhirnya, Papa membawa serta putri ku dengannya. Aku tidak mencegah, percaya jika Papa bisa menjaga Seila.


🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁


🍁🍁🍁🍁


__ADS_2