Kesombongan Seorang Mantan

Kesombongan Seorang Mantan
episode 7


__ADS_3

"Huhu... Seila," aku memeluk tubuh mungil putriku dengan sangat erat.


Jantung ini seakan berhenti berdetak kala sepeda motor tadi melesat cepat menghadirkan angin yang menyapu wajah ku.


Bayangan akan kehilangan putri semata wayangku sudah terpampang jelas.


Namun, Tuhan berkehendak lain membuat bayangan menyeramkan itu hilang berganti dengan rasa syukur tiada tara.


"Kamu tuh, kalau sama anak tangan nya jangan di lepasin. Untung saja aku bisa menarik dia, kalau tidak? mati tuh anak!" ujar mbak Lis yang tadi menolong Seila.


Wanita yang di kenal paling bengal di pabrik itu berujar kesal padaku.


Bagaimana tidak, dia harus jatuh terjengkang ke belakang seraya memeluk tubuh Seila demi menghindari sepeda motor tadi.


Aku tidak menjawab apa-apa. Masih duduk di tanah seraya terus memeluk putriku menciumi pucuk kepalanya berulang kali.


"Terima kasih ya, sudah menolong cucu saya," ujar Mama terdengar suaranya.


Orang-orang berkerumun melihat diri ini yang menangis bersimpuh masih enggan melepaskan tubuh mungil putriku.


Seila pun diam saja. Dia tidak sama sekali berontak ingin melepaskan diri.


Apa yang terjadi barusan, mungkin membuat jiwanya terguncang. Seila ketakutan dan kaget karena orang-orang berteriak dan tubuhnya yang di tarik kencang.

__ADS_1


Beberapa saat dian dan menangis di depan pabrik, Mama menyuruhku bangun dan membawa Seila ke mobil. Aku pun menurut dan mengendong putri kecil ku.


Namun, tidak dengan Mama. Wanita cantik yang telah melahirkanku itu masih di depan pabrik seraya berbincang dengan mbak Lis.


Hingga bisa aku lihat dari sini, Mama memberikan sejumlah uang kepada mbak Lis.


"Mama, Ceila haus".


"Oh, Ceila mau minum? ini Nak. Minum Sayang." Aku mengambil satu botol air mineral, membuka tutupnya lalu memberikannya pada Seila.


Saat mata ini kembali melihat ke sana, ternyata Mama sudah tidak ada. Hanya ada mbak Lis yang sedang mengobrol sambil memegang uang seratus ribuan di tangannya.


"Gimana Seila?"


"Masih syok kayaknya, Mah. Maafin Mama ya Sayang," ujarku untuk ke sekian kalinya.


"Ya sudah, sekarang kita langsung pergi saja ya? Huh, rasanya jantung Mama seperti akan copot, Al".


Jangankan Mama, aku pun sangat amat kaget. Rasanya seperti mimpi melihat kejadian yang menegangkan di depan mata.


Tidak siap jika aku harus kehilangan Seila.


Jangankan untuk kehilangan, melihat dia sakit pun aku sangat menderita.

__ADS_1


"Mah, barusan Mama kasih uang buat mbak Lis?"


"Iya Al, hanya untuk ucapan terima kasih. Kalau bukan karena dia, tidak tahu deh nasib Seila seperti apa".


"Banyak? kelihatannya mbak Lis seneng banget tadi," ucapku lagi.


Em.. Ada kali, ya sejuta. Gak ngitung Mama. Asal ambil aja tadi dari tas dan langsung nyamperin kamu dan Seila".


Aku mangut-mangut. Nanti akan aku pikirkan jawaban apa yang harus aku berikan jika besok mbak Lis menanyakan tentang Mama. Akan sangat tidak masuk akal jika seorang Alira wanita miskin memiliki ibu yang kaya raya.


Ya, memang pada kenyataannya seperti itu. Namun, belum saatnya aku mengakui yang sebenarnya. Masih ada beberapa hari untuk aku menjadi buruh pabrik di sana.


"Aduh, Al. Tangan Mama gemetaran nih. Kita menepi dulu ya?", ujar Mama membuatku khawatir.


"Mama sakit?"


"Tidak, Al. Cuma agak gemetaran saja. Mungkin karena syok mengingat kembali kejadian Seila tadi".


🍁🍁🍁🍁


🍁🍁🍁🍁


🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2