
"Bangun, Al. Ayo, kita masuk" ujar Mama menarik kedua pundakku.
Bingung. Sikap Papa yang enggan bicara padaku membuat diri ini tidak pantas untuk ikut masuk ke dalam rumah. Namun, untuk pergi pun aku tidak bisa. Papa sudah membawa Seila ke dalam rumah sana.
Tidak mungkin aku berteriak meminta Seila dari Papa. Untuk memaksa agar Papa bicara padaku pun, aku tidak punya hak.
Mulut-mulut Papa, tidak bisa aku memaksakannya. Ah, aku benar-benar bingung.
"Alira, Ayo!" Mama menarik kembali tanganku.
"Tapi, Mah. Papa tidak bicara. Dia tidak memaafkan Alira,"
"Ck, enam tahun berpisah, kamu sudah lupa karakter Papamu? Apa kamu tidak mendengar apa yang tadi dia katakan?".
Aku menggelengkan kepala tanda tidak paham.
"Papa sudah menyuruh anak buahnya menyelidiki mantan suamimu, itu artinya dia akan membuat perhitungan dengan si Nathan itu. Sudah, ayo cepetan masuk," titah Mama lagi.
Aku mulai bergerak. Berdiri dan melangkahkan kaki mengikuti Mama.
Mata ini melihat ke sekeliling rumah. Tidak ada perubahan yang signifikan dari rumah ini.
Suasananya, letak perabotannya pun hanya sedikit yang berubah. Dan satu lagi, foto besar yang terpampang di ruang tamu membuatku menyunggingkan seulas senyum.
"Papa tidak menurunkan foto itu?"
Mama berhenti melangkah, melirik foto yang aku tunjuk. Foto sebuah keluarga yang tengah tersenyum bahagia.
Papa, Mama, Kakakku, dan...Aku.
Itu adalah foto lama sebelum aku mengenal cinta. Dimana anak perempuannya ini masih menjadi gadis manis yang penurut. Bukan pembangkang seperti enam tahun yang lalu.
"Apa yang ingin diubah? tidak ada yang harus diubah. Itu sudah benar, dan selamanya akan seperti itu," celetuk Papa yang ternyata berdiri tak jauh dari kami.
Seila yang dari tadi berada di gendongannya, kini sudah turun dan berdiri dengan tangan di gandeng Papa.
Benar kata Mama. Enam tahun berpisah menjadikan aku anak yang tidak lagi mengenali sifat orangtuanya.
Lupa, jika Papa bukan tipe laki-laki yang suka berbasa-basi. Dia tegas, keras, tetapi,,, pemaaf.
__ADS_1
Aku berjalan cepat ketika dengan sukarela Papa membuka kedua tangannya mempersilahkanku untuk masuk dalam dekapan hangatnya.
"Papa..."
"Berhenti menangis. Ini bukan saatnya untuk meratap. Jika sudah berada disini, itu artinya kamu menjadi tanggung jawab Papa lagi," ujarnya membuatku semakin mengeratkan pelukan.
Lama aku menenggelamkan wajah didada nya yang masih gagah. Aku memang sudah berhenti menangis, tapi rasa sesal semakin besar ketika kurasakan kasih sayang mereka masih sangat begitu tulus untukku.
Aku merasa, aku lah anak paling bodoh.
Mengabaikan restu demi sebuah hubungan yang tidak abadi.
Sadar diri ini jika restu orangtua sangatlah penting. Sebesar apapun cinta pasangan, tidak akan bisa menandingi tulusnya cinta kasih orangtua.
Aku sudah merasakannya sendiri.
"Mama... Ceila mau mamam,"
Aku menarik diri, melepas pelukan dari tubuh Papa. Menatap wajah Seila yang hanya diam melihatku dengan mata yang sendu.
"Astaga, apa dia belum makan?" tanya Papa.
Aku baru ingat jika tadi keluar dari rumah mas Nathan tanpa sarapan. Tentulah putriku akan merasakan perutnya keroncongan.
"Ya ampun, apa untuk memberikan makan satu anak pun dia tidak sanggup?" ujar Papa geram.
Aku paham kemana arah bicaranya. Sebelum Papa semakin emosi, Mama langsung menggendong putriku untuk membawanya ke meja makan.
Mama juga memberikan isyarat kepada ku agar segera mengikuti dia tanpa harus menjawab pertanyaan Papa lagi. Bukan tidak sopan, tapi jika sudah mengobrol, Papa akan lupa waktu.
"Duhh Gusti... rasanya bibi sedang bermimpi ini. Neng Alira beneran pulang?"
Saat masuk ruang makan, aku di sambut oleh Bi Ijah yang tak lain asisten rumah tangga di rumah ini.Enam tahun tidak berjumpa, wanita yang selalu mengomel jika aku bangun siang itu ternyata kini sudah banyak keriput di wajahnya.
Betapa jahatnya aku meninggalkan orang-orang yang aku sayangi.
"Apa kabar,Bi ?" tanyaku seraya mencium tangannya. Dia sudah seperti orangtua kedua bagiku.
"Baik Neng. Ya Allah, ini anaknya Neng Alira?" Bi Ijah beralih mengelus kepala putriku.
__ADS_1
Aku hanya mengangguk untuk itu. Bi ijah mencium kepala putriku dengan berlinang air mata. Ah, cengengnya dia tidak hilang meski usianya sudah semakin tua.
"Sudah, Bi. Jangan main drama terus, biarkan cucuku makan. Mending Bibi beli cemilan anak-anak ke supermarket, gih" ujar Papa posesif, enggan cucunya di ganggu.
"Ih, nanti dulu atuh Pak. Masih mau lihat anaknya Neng Alira."
"Ngapain diliatin? Tidak kamu ucapkan pun, dia memang sudah cantik. Keturunan Dilara, gitu loh."
Aku masih menjadi penonton di sini. Humor Papa sudah mulai keluar, walaupun ekspresinya masih tetap datar. Setidaknya, Papa memang masih menerimaku dengan baik.
"Iya Pak, iya," ujar Bi Ijah berlalu.
Kami pun mulai menikmati makan pagi yang sudah sangat terlambat.
Hatiku sangat teriris ketika melihat Seila makan dengan begitu lahapnya. Dia benar-benar kelaparan, juga sangat menikmati hidangan yang di suguhkan.
Bagaimana tidak? Lauk disini tidak seperti lauk yang kami nikmati di rumah mas Nathan dulu.
Jika dirumah mas Nathan dulu, kami harus makan dengan lauk yang sedikit, tapi nasi yang banyak. Sedangkan disini, Mama memberikan nasi yang sedikit dengan lauk yang banyak pada piring Seila.
Sangat kelihatan jika Seila jarang sekali makan lauk yang enak.
Bahkan dia makan dengan begitu cepat, membuat kami menghentikan menyuapkan makanan dan hanya menonton Seila saja.
"Mama... ceila suka makan di sini. Ayamnya banyak, kalau di lumah nenek, kan gak boleh makan banyak ayam, nanti bisa cacingan," celetuk Seila membuat Mama dan Papa seketika menatapku dengan lekat.
Aku hanya bisa menggigit bibir memahami arti tatapan itu. Dan aku bisa lihat, Papa mengepalkan tangannya dengan kuat hingga urat-urat di tangannya terlihat jelas.
Ya Tuhan... polos sekali putriku. Dia tidak tahu jika ucapan yang baru saja dia lontarkan akan menjadi sebuah ancaman untuk ayahnya.
"Oh, ya? Nenek yang bilang begitu?" tanya Mama pada putriku.
"He-em..." Seila mengangguk seraya bergumam.
Matanya menyipit, karena mulut yang penuh terisi.
"Oke,, sebentar lagi nenek-nenek itu yang akan seperti cacing kepanasan. Tunggu saja," ujar Mama dengan seringai menakutkan.
🍁🍁🍁🍁
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁