Kesombongan Seorang Mantan

Kesombongan Seorang Mantan
episode 8


__ADS_3

Mama menepikan mobil, lalu mengambil ponsel dari tasnya. Sedangkan Seila, ternyata putriku itu sudah terlelap dalam dekapan.


Ah, jantung ku kembali berdenyut ketika mengingatnya kembali.


Benar kata Mama, kejadian tadi benar-benar membuatku syok berkali-kali.


Saat Mama sedang menelepon supir, mata ku menangkap sesuatu di depan sana. Tepat di depan sebuah restoran, aku melihat ada mobil mas Nathan terparkir paling belakang.


Tiba-tiba saja sebuah ide muncul untuk memberikan pembalasan atas apa yang dia lakukan pada Seila tadi.


"Mah, lihat deh mobil itu".


Mama mengikuti ke mana arah telunjukku.


"Terus?"


"Itu mobil mas Nathan. Aku ingin melakukan sesuatu pada mobil itu, tanpa aku menyentuhnya".


"Jangan gegabah, jangan berbuat kriminal." tutur Mama memberi peringatan.


"Tidak akan, Mah. Kan sudah Alira bilang, tidak akan menyentuhnya. Alira hanya ingin bermain-main saja".


"Lalu, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Mama menatapku serius.


Aku mengeluarkan ponsel. Mencari nomor jasa mobil derek melalui internet. Beberapa saat mencarinya, aku mendapatkan nomor itu. Aku pun langsung menghubunginya dan menyuruh mereka untuk segera datang menderek mobil mas Nathan yang aku akui sebagai mobil milikku.


Ah, sepertinya ini akan sangat menyenangkan.


Tidak sabar rasanya ingin melihat ekspresi wajah mereka ketika melihat mobilnya di bawa.

__ADS_1


Sekitar lima belas menit menunggu, aku melihat ada mobil derek berhenti di sekitar tempatku berada sekarang.


Langsung aku turun dari mobil setelah menitipkan Seila pada Mama terlebih dahulu.


"Pak," aku menghampiri supir mobil.


"Ibu, yang menelepon kami?" tanyanya.


"Iya Pak, itu mobilnya." Aku menunjuk mobil milik mas Nathan.


Supir mobil derek itu pun langsung melakukan apa yang aku instruksikan.


Menderek mobil mas Nathan keluar dari parkiran restoran di mana mantan suamiku dan istrinya berada.


Saat mobil sudah berada di jalan raya, aku buru-buru masuk ke dalam mobil Mama. Bersiap menikmati hiburan yang sebentar lagi akan dimulai.


"Tenang, Mah. Mas Nathan mana tahu yang begituan. Enam tahun hidup bersama, cukup untukku mengenal dia sampai ke dalam isi otaknya".


Perlahan, mobil derek kembali melaju membawa kendaraan roda empat milik mantan suamiku.


Dan pada saat itu juga, ternyata mas Nathan dan Emira keluar dari dalam restoran.


Mereka kaget luar biasa melihat kendaraan miliknya di bawa begitu saja.


"Hei, hentikan! kenapa membawa mobilku?!" teriak mas Nathan seraya berlari mengejar mobilnya.


"Mah, jalan Mah." Aku menyuruh Mama melajukan mobil untuk mengikuti mas Nathan.


"Astaga, ini anak udah tahu tangan Mama nya gemetaran malah di suruh nyetir lagi," tutur Mama menggerutu.

__ADS_1


Aku mengambil putriku kembali agar Mama bisa mengendarai mobil.


"Pelan-pelan saja," kataku.


Sedangkan disana, seorang pria dan wanita terus berlari mengejar kendaraan mereka sembari berteriak.


"Hei,, brengsek. Kembalikan mobilku!" mas Nathan melambaikan tangan berharap si supir mobil mau berhenti.


Di belakangnya, sang istri ikut berteriak menghentikan suami nya yang meninggalkan dia demi menyusul kendaraan mereka.


"Mas, tungguin aku!" ujar Emira kepayahan mengikuti langkah cepat suaminya.


Punggung mas Nathan sudah basah oleh keringat. Begitupun dengan Emira yang kini berlari dengan kaki telanjang. Menenteng sepasang sendal miliknya, juga tas selempangnya yang terombang-ambing tidak beraturan.


Orang-orang yang berada di sekitar jalan raya hanya bisa melihat dua orang itu tanpa ingin membantunya. Mungkin mereka pikir, suami istri itu melakukan parkir liar hingga mobilnya di bawa paksa.


"Mas, aku cape. Aku gak kuat Mas!"


"Kamu tuh, segitu saja sudah cape! buruan lari nanti kita kehilangan jejak!"


"Ah, kamu saja yang kejar sampai dapat Mas! Kalau tidak, tidak akan aku ijinkan masuk ke dalam rumah!".


"Ah,,, brengsek!!" jerit mas Nathan frustasi.


🍁🍁🍁🍁


🍁🍁🍁🍁


🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2