
"Apa itu, Al?"
Aku membalikkan badan, melihat pada Mama yang berdiri di teras rumah.
"Enggak tahu, Mah. Ini juga yang ngirimnya sok-sok an banget pake nulis 'teruntuk calon istri', padahal siapa juga yang mau nikah sama dia". ujarku menggerutu seorang diri.
Mama tidak lagi bicara. Ia malah mengambil kotak dari tanganku yang kini sudah berada tepat di depan pintu.
Lalu membawanya dan duduk di ruang tamu.
"Berat, Al. Apa ya isinya?" ujar Mama menimbang kotak berwarna merah maroon itu.
Aku mengedikkan bahu. Sama sekali tidak tertarik dengan isi dari kado tersebut.
Yang mau aku tahu, siapa pengirimnya?
Jangan-jangan anaknya pak Gunawan?
Aish,, bertemu saja belum, sudah berani panggil calon istri. Percaya diri banget kalau aku akan menerima lamaran dia.
"Ya Allah,, Alira lihat...ini bagus banget."
Mendengar Mama histeris, aku yang tadi nya tidak tertarik, kini malah melirik hadiah yang Mama buka.
Mataku memicing ketika sebuah gaun panjang Mama ambil dari dalam kotak tadi.
Indah, itu kesan pertama yang aku lihat.
Mataku seperti terhipnotis oleh gaun berwarna silver yang di penuhi dengan manik-manik mutiara bercampur dengan bunga-bunga kecil di bagian pinggangnya.
Anggun dan mewah menjadi pelengkap keindahan dari gaun yang tidak aku ketahui siapa pengirimnya itu.
"Cantik ya, Al?" ujar Mama lagi memuji.
__ADS_1
Aku meneguk ludah, mengerjapkan mata agar tersadar dan memalingkan pandangan ke arah lain.
Tapi, nyatanya tidak bisa. Dalam hati aku mengakui kecantikan gaun yang masih berada di tangan Mama.
Aku menyukainya.
"Al, ngomong dong. Gaunnya cantik, kan?"
"I-iya Mah, cantik. Eh, tapi keliatannya biasa aja deh,"
"Aah, kamu plin-plan. Tadi cantik, sekarang enggak. Dah, nih simpen. Kebetulan, kamu belum punya gaun buat ke pesta nanti, kan? Pakai ini, pasti cocok di badan kamu, Al."
Aku menggelengkan kepala menolak usulan Mama. Mana mungkin aku memakai gaun yang tidak aku ketahui dari mana sumbernya.
Nanti dia bisa besar kepala dan menganggapku menyukainya.
"Tidak, Mah. Alira gak mau pake itu, Alira ambil di butik Mama aja, deh." tolakku terang-terangan.
Mama merengut. Memasukkan kembali gaun itu ke dalam kotak.
Kemudian ia berlalu meninggalkan ku yang tengah dilema.
Hati dan pikiranku tidak sejalan. Antara ingin menolak, tapi sudah jatuh hati sejak pandangan pertama pada pemberian dia.
Iya,dia. Orang yang belum kutahu wujudnya seperti apa.
Ku angkat kembali gaun itu, sama seperti pertama aku melihatnya.
Cantik dan anggun. Tapi, masa iya aku harus memakai gaun ini?
Eh, tunggu. Seperti nya gaun ini tidak sendirian di dalam kotak.
Aku menyingkirkan gaun itu, dan nampaklah sepasang high heels dengan warna senada serta taburan swarovski di atasnya.
__ADS_1
"Ini cantik sekali." Aku mengambil sepatu hak tinggi itu, lalu mencobanya.
Pas, ukurannya sangat cocok di kakiku.
Aku mengakui kesempurnaan dari dua barang yang dia kirimkan untukku.
Sepertinya orang itu begitu sangat mengenalku sangat jauh. Buktinya, dia tahu warna favorit ku serta ukuran tubuhku.
Lagi-lagi aku dibuat dilema antara ingin menolak pemberiannya atau mengakui keberhasilannya yang telah membuatku jatuh hati pada kirimannya.
Saat pandangan ini tidak bisa lepas dari dua barang di depanku, tiba-tiba ponsel ku berdering.
Nama Della teman kerjaku yang tertera di layar ponsel. Sengaja aku memberitahukan nomor baruku pada dia untuk mencari informasi di pabrik.
"Hallo,, Del."
"Alira.. gawat, Lir,"ucapnya terdengar ambigu.
"Apanya yang gawat?"
"Tadi di pabrik, ramee banget pada ngomongin kamu. Katanya, kamu merusak hp pak Manager dan menampar mbak Emira. Bener itu, Lir?" tanya Della sangat serius.
Aku tersenyum kecil sebelum menjawab pertanyaan temanku itu. Menyilangkan kaki, duduk dengan setenang mungkin.
"Iya, itu beneran. Makanya, aku langsung pulang tadi,kan? aku udah males berurusan dengan mereka, Dell."
"Terus, kamu mau kerja dimana? Kamu mau kasih anakmu makan apa, Alira? cari kerja susah, Lir."
"Aku kembali ke rumah orangtua ku, Dell. Tenang saja, aku dan anakku tidak akan kekurangan makan meskipun tidak lagi bekerja di pabrik itu. Oh iya, jangan lupa untuk datang ke pesta nanti, ya? akan aku ceritakan semuanya yang terjadi antara aku dan Bima. Ok?"
Percakapanku terus berlanjut sampai larut. Della menceritakan sumpah serapah Emira yang dia tujukan untukku. Kata Della, Emira sampai melarang satpam untuk membukakan pintu gerbang jika aku datang lagi ke pabrik.
Uh... gayanya sudah seperti pemilik. Sok ngatur, sok nyuruh-nyuruh semaunya.
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁
🍁🍁🍁🍁