
Adzan maghrib berkumandang bertepatan dengan berhentinya mobil di depan rumah.
Tak banyak bicara, aku langsung turun dan masuk seraya menuntun Seila yang menenteng paperbag berisikan gaun miliknya.
"Nah, nah, ini nih, orangnya. Ditelepon gak di angkat, dikirimin pesan gak di balas. Dari mana Tuan Putri?" ujar Mama membungkukkan badan menatap wajah putriku.
Padahal aku tahu, jika pertanyaan itu ditujukan untukku.
"Beli baju, Oma. Bagus, cantik kayak Ceila."
"Oh ya? coba Oma lihat."
Seila memberikan paperbag pada Mama, dan langsung di buka oleh wanita yang masih cantik di usianya yang tak lagi muda.
Mama tersenyum manis pada Seila, tapi tidak padaku.
"Masuk dan cepat bersiap. Itu orang-orang salon udah nungguin dari tadi." ujarnya menyuruh.
"Iya, tapi aku mau sholat dulu."
"Makanya, jangan pergi lama-lama. Beli baju satu aja kayak beli segudang. Lamanya minta ampun."
Tak aku hiraukan Mama yang menggerutu. Aku langsung ke kamar dan membersihkan diri. Setelahnya, melaksanakan salat tiga rakaat.
Usai melaksanakan kewajiban sebagai seorang umat, aku membuka lemari dan melihat gaun yang sejak kemarin berada di sana. Tanganku terulur, mengambil gaun itu dan menempelkannya di dada.
"Yakin mau pakai baju ini?" ujarku berucap seorang diri.
"Kalau nanti bertemu dia disana, gimana?" ucapku lagi masih melihat ke cermin.
"Aliraa,, cepetan!!"
Teriakan Mama dari luar menyudahi lamunanku. Tanpa berpikir panjang, aku pun segera memakai gaun itu dan keluar dari kamar seraya menenteng high heels.
Kemudian masuk ke kamar tamu yang Mama jadikan tempat berhias. Disana sudah ada perias yang akan menandani kami menjadi cantik bak putri kerajaan malam ini.
Saat aku masuk, ternyata sudah ada kak Rindu yang tengah di make up. Ia sangat cantik dengan balutan dress merah maroon dengan belahan dada rendah.
Rambutnya di sanggul rapi, memperlihatkan leher jenjang nan putih bersih.
"Sepatu nya bagus, beli dimana?" tanya kak Rindu membuatku tersadar tengah memperhatikan kakak iparku itu.
"Oh ini, dikasi orang."
__ADS_1
"Baik banget. Pacar?"
Aku menggeleng. "Bukan, aku tidak punya pacar, Kak."
"Mau aku kenalkan dengan cowok keren? aku punya teman single, tampan dan mapan. Kapan-kapan aku atur pertemuan kalian."
Aku hanya membalas dengan seulas senyum ucapan kak Rindu. Tidak enak jika harus mengatakan tidak. Takutnya, dia berpikir kalau aku adik ipar yang tidak sopan dan membuat dia tersinggung.
Bertemu dengan anaknya pak Gunawan saja belum, sudah di tawari laki-laki lain oleh kak Rindu.
Duh, beginilah nasib wanita tanpa suami. Harus siap dengan resiko di jodoh-jodohkan.
"Em... cantiknya istriku." ucap bang Aldi yang langsung mendaratkan kecupan pada pipi kiri kak Rindu.
Aku yang melihat keromantisan mereka, hanya bisa tersenyum getir merutuki nasib pernikahan yang tak seharmonis mereka.
Aku iri?
Iya. Iri dengan kesetiaan bang Aldi yang tetap romantis meskipun kak Rindu belum memberikannya momongan.
Tidak seperti mas Nathan yang langsung berubah drastis ketika tahu aku melahirkan seorang putri.
Karena pada hakikatnya, keturunan adalah mutlak ketetapan Tuhan.
"Mbak Alira, silahkan."
Aku tergagap setelah perias menepuk pundakku. Baru aku sadari jika kak Rindu dan bang Aldi sudah tidak ada disini.
Segera aku duduk agar perias itu melakukan tugasnya.
Tiga puluh menit sudah, kini aku sudah siap untuk pergi ke pesta. Mama dan Papa serta Seila pun sudah terlihat rapi. Mereka menungguku di ruang tengah seraya menemani Seila menonton kartun.
"Mah, bisa kita pergi sekarang?" ujarku membuat semua orang menoleh.
"Ya Allah,,, cantiknya putriku!!" Mama berseru seraya berdiri menghampiriku.
"Mah, berlebihan deh," ucapku ketika Mama menatapku takjub.
"Bukan berlebihan, tapi ini kenyataan. Papa, lihat deh, Alira, cantik kan Pah?"
Papa menganggukkan kepala membenarkan ucapan Mama. Bang Aldi pun tak mau ketinggalan. Ia menghampiriku, menggoda adiknya ini dengan kata-kata memuji, tapi mengejek.
"Ciee yang udah cantik. Bau-bau babu udah hilang, nih!"
__ADS_1
Aku hanya mendelikkan mata mendengar ocehan abangku itu.
Karena semuanya sudah siap, kami pun berangkat menuju gedung dimana acara pesta berlangsung.
Rasa nya sangat tidak sabar ingin segera sampai disana, melihat wajah-wajah itu ketika tahu siapa diriku.
Huft. Deg-degan sekali dada ku membayangkan keramaian pesta yang akan menjadi momen mengejutkan bagi mereka.
[Alira, kamu dimana? aku udah sampai nih]
[Aku lagi dijalan, tungguin ya]
[Siapp..!]
Aku menyimpan kembali ponsel pada tas kecil setelah berkirim pesan dengan Della.
Semakin dekat dengan gedung, dada ku semakin berdetak kencang.
Beberapa kali menarik nafas, untuk menetralkan perasaan gugup. Hingga akhirnya mobil berbelok dan berhenti di depan gedung yang sudah ramai banyak orang.
Aku dan Mama turun bersamaan, hendak masuk ke dalam gedung. Namun, langkah kami terhenti saat ada teman Mama yang menyapa.
Lama Mama dan Papa mengobrol dengan temannya, membuat ku merasa bosan. Akhirnya, aku meminta izin pada Papa untuk mencari teman-temanku.
Aku berjalan seorang diri melirik kesana sini, mencari keberadaan teman-teman pabrikku. Tapi, mata ku belum menangkap keberadaan mereka.
"Dimana si Della, sih?" gumam ku seraya melihat ponsel berniat menelepon dia.
Mata yang tidak melihat pijakan, membuatku harus bertubrukan dengan orang yang ada di depanku. Aku mengalihkan pandangan dari ponsel ke wajah pria yang saat ini tengah menatapku intens.
"A-alira..?" ucapnya tergagap.
Aku mundur satu langkah memberi jarak antara aku dan dia.
Kusunggingkan seulas senyum kepada pria yang menatapku tidak berkedip.
"Hai mas, selamat malam? Eh, maaf pak Nathan." ucapku seraya menutup mulut.
"Kamu.. Can--"
"Aliraa..!"
bersambung ya gaess...
__ADS_1