
***
"Mah, pergi yuk."
Mama melihatku dengan mengerutkan kening.
"Kemana?"
"Ke salon, mungkin. Lama banget Alira gak perawatan."
"Boleh, yuk pergi."
Aku tersenyum senang. Menegak air minum hingga habis, lalu bangkit untuk bersiap-siap.
Enam tahun aku tidak pernah mendatangi salon kecantikan, rasanya rindu dengan sentuhan manja tangan-tangan beauty therapist yang kadang membuat mataku merasa kantuk.
Apalagi pesta yang tinggal beberapa hari lagi, tentunya aku harus tampil makin cantik untuk membuat tamu undangan takjub akan kehadiranku.
Termasuk mereka yang sudah dengan sadar merendahkanku diriku.
Ah, rasanya tidak sabar ingin melihat wajah-wajah itu ketika aku ada di pesta nanti.
"Sampai, Al. " ucap Mama.
Kami turun bersamaan dari mobil untuk segera masuk ke dalam salon.
Namun, pemandangan indah terpampang nyata saat mataku menangkap sosok lain di dalam sana.
Ibu mertua sedang ongkang-ongkang kaki membaca majalah.
Luar biasa. Anak menantu di suruh kerja, dia nongkrong cantik sampai perawatan wajah.
__ADS_1
Tapi, kok dia bisa datang ke salon mahal? Emang punya uang?
"Kamu saja, aku tunggu saja disini. Disini bayarannya mahal".
Mantan ibu mertua belum menyadari kehadiranku.
Dan aku tersenyum kecil saat tahu dia datang ke sini cuma mengantar temannya saja.
"Eh, ada apa ibu? apa kabar?" ujarku langsung membuat wanita itu menoleh dengan terkejut.
"Kamu ngapain disini?" tanyanya menatapku tajam. Selalu bengis jika melihatku.
"Mau perawatan, bu. Ibu sedang apa?".
"Perawatanlah. Masa numpang duduk."
Aku membulatkan mulut menahan tawa. Pasti dia gengsi jika mengaku hanya mengantar teman.
"Oh, aku kira ibu cuma mengantar temannya."
"Enak aja, kamu palingan cuma ngaku-ngaku doang, padahal cuma nganter majikannya. Iye kan?"
"Enggak kok, mah. Aku beneran mau perawatan. Ya memang sebenarnya mau di bayarin sama Nyonya." ujarku melirik Mama yang cuma diam dengan senyum yang di paksakan.
"Hahaha,, kamu keluar dari rumah anakku dan memilih jadi pembantu? kasihan kamu, Alira!".
"Aku lebih nyaman di rumah Nyonya, dibandingkan dengan rumah anak ibu. Disana, aku diperlakukan sangat baik, seperti seorang anak. Dirumah ibu, tidak sama sekali. Justru dijadikan sapi perah yang harus melayani kalian kapan saja, betul?"
"Kamu bicara seperti itu karena kamu di bayar disana."
"Iya, dan dirumah ibu, justru saya yang harus membayar. Setiap hari kerja, tapi gaji nya diambil ibu dan anak ibu."
__ADS_1
"Dasar kurang ajar, kamu mau mempermalukan aku disini, Alira?". ujar ibu seraya mendekat dan mencengkram lenganku dengan kuat.
Sakit, sampai aku meringis menahan tangan ibu.
Dari arah belakang, Mama memegang tangan ibu dengan tak kalah kuat.
"Jangan sakiti anakku lagi, nenek tua!!" ujar Mama geram.
"Anak? kamu mengakui pembantu mu sebagai anak?"
"Dia memang anakku. Dan akan selamanya jadi anakku!" ujar Mama lagi mengentakkan tangan ibu.
Lalu pergi membiarkan wanita itu yang terpaku di tempatnya.
****
"Bu, kalau tidak ada uang, tidak usah perawatan!".
Aku dan Mama yang hendak pulang, harus menghentikan langkah saat penjaga kasir berucap dengan nada tinggi.
Saat aku lihat, ada ibu yang berdiri dengan wajah gugup di sana.
"Ada apa, mbak?" tanyaku menghampiri nya.
"Ini loh, mbak. Ibu ini bukan nya bayar, malah minta ngutang. Emangnya ini warung." ujar si mbak kasir dengan nada ketus.
Wajah ibu semakin memerah menahan malu. Tangannya bergetar karena gugup.
🍁🍁🍁🍁
🍁🍁🍁🍁
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁