
Diatas sana, Papa pun menceritakan sedikit kilas balik terbentuknya atau berdirinya AB Garment. Dari dia yang mulanya penjahit keliling, hingga menjadi seseorang seperti sekarang ini.
"Dukungan keluarga disini sangat penting bagi saya, senyum mereka adalah sumber tenaga saya yang setiap hari selalu menghiasi perjalanan perjuangan saya. Dan mereka adalah istri dan anak-anak saya." tutur Papa mengulurkan tangan kepada kami yang ada di bawah.
Semua orang bertepuk tangan, sedangkan pemandu acara meminta aku dan Mama serta bang Aldi untuk naik ke atas panggung.
Kami pun tidak menolak, dimulai dari Mama, Seila, terus aku, lalu bang Aldi dan istrinya naik ke atas panggung berdiri di samping Papa.
"Bagi yang sudah lama bergabung dan bekerja sama dengan perusahaan AB Garment, mungkin wajah-wajah ini sudah tidak asing lagi. Tapi, untuk yang baru bergabung 6 tahun kebelakang, mungkin tidak mengenali wajah mereka. Karena apa? karena selama enam tahun kebelakang, saya tidak membuat pesta perayaan ulang tahun perusahaan semeriah ini. Hanya perayaan kecil yang tidak melibatkan mereka."
Papa berhenti sejenak, memindai tamu yang duduk dengan rapi di sana.
Bisa aku lihat ada wajah-wajah tegang dengan gerak tubuh gugup saat aku naik ke atas panggung.
Satu meja bundar yang di penuhi dengan berbagai hidangan tidak di sentuhnya sama sekali. Mata itu fokus padaku, tapi entah dengan pikirannya. Mungkin saja mereka sedang memikirkan bagaimana nasib nya esok hari.
Bima dan menantunya salah tingkah saat aku dengan sengaja melihat mereka dari atas sini.
"Untuk yang tidak tahu, akan saya perkenalkan kepada rekan-rekan sekalian. Anak dan istri saya." ujar Papa lagi.
Pertama, Papa memperkenalkan Mama sebagai istri yang selalu setia dan sabar dalam mendampingi dirinya.
__ADS_1
Di lanjutkan memperkenalkan bang Aldi sebagai jagoan yang cerdas dan pemberani.
Entah kenapa, saat Papa hendak memperkenalkan diriku, ada rasa sedih yang menyelusup dalam relung hati ini.
Merasa tidak secerdas bang Aldi, tidak sesabar Mama, dan merasa paling banyak menyusahkan Papa sejak dari dulu.
Bahkan, sampai sekarang pun aku masih makan dari keringat Papa.
"Dan ini, anak bungsu saya. Nama nya Alira Martadilara. Anak yang paling cantik, paling manja, paling bandel, paling keras kepala. Tapi, saya sangat menyayangi dia. Saya pernah kehilangan nya, tapi pada akhir nya takdir membawa nya kembali pada saya."
Aku langsung memeluk Papa hingga suasana menjadi hening dan haru.
Tidak hanya kami sebagai keluarga yang ikut dalam pemotongan kue tersebut. Papa juga mengajak para staf nya untuk naik dan memegang pisau raksasa, memotong kue tart yang sangat besar dan tinggi itu.
"Mama, Seila mau pegang!!" ujar putri ku berjinjit. Aku menggendong tubuh mungil Seila, memberikan dia celah untuk memegangi pisau.
Tidak hanya ada satu pisau di sini, enam pisau raksasa yang disediakan untuk kami memotong kue bersama-sama.
Termasuk dia.
Iya, si dia mantan suami yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingku. Entah apa mau nya, dia seperti sengaja ingin mendekat ke arah ku.
__ADS_1
"Ekhem! pindah sini!" titah bang Aldi yang menyadari keberadaan mas Nathan.
Merasa usahanya gagal mendekatiku, mas Nathan hanya bisa pasrah saat berdiri di himpit kakakku dan satu staf yang lain.
Sedangkan aku, pindah ke tempat paling ujung yang hanya ada aku dan Seila saja sebagai pemegang pisau.
"Dalam hitungan ketiga, potong sama-sama oke?!" ujar MC memberikan aba-aba.
Aku dan Seila bersiap, putri ku itu sudah cengengesan tidak sabar.
"Satu, dua, tiga, potong!!"
Aku menurunkan pisau hingga menggoreskan kue raksasa itu. Tepuk tangan menggema di seluruh ruangan sebagai tanda suka cita.
Musik serta taburan balon serta kertas warna-warni menambah meriah pesta malam ini.
"Mama, Seila mau balon!!" ujar putri ku memaksa turun dari gendonganku.
🍁🍁🍁🍁
🍁🍁🍁🍁
__ADS_1