
"Saya tidak mencintai menantu bapak. Apalagi, mengganggu dia. Maaf pak, seperti nya saya harus kembali ke tempat kerja. Tidak tepat membahas masalah pribadi disini." ujarku seraya bangkit.
Saat akan melangkahkan kaki, tiba-tiba seseorang datang dan langsung menyerangku dengan menampar pipi sebelah kiri.
Sakit, panas, bercampur menjadi satu.
Aku memegangi sebelah pipi yang mungkin sudah memerah seraya menatap dia dengan tajam.
"Apa lihat-lihat? tidak terima aku menampar mu? ingin balas, atau ingin mengadu? sayangnya kamu tidak punya siapa-siapa yang bisa mendengar aduanmu, Alira."
Kuangkat wajah, menatap Emira dan Bima satu per satu.
"Inikah cara kerja kalian? mengeroyokku? dasar pengecut!". Hardik ku dengan dada naik turun.
Emira menyeringai puas melihatku sudah di kuasai emosi.
Sedangkan bima, laki-laki tua itu mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja nya.
Aku masih mengawasi pergerakan mereka. Menebak sekiranya apa yang akan dia lakukan lagi padaku.
"Kamu yang pengecut Alira. Masa aku tampar kamu diam saja, lawan dong. Katanya berani demi harga diri, tapi kok masih diam saja, cemen." Cibir Emira menantang ku.
Emira terus menerus mengompori berharap aku akan membalas perbuatannya.
__ADS_1
Tapi, aku tidak bodoh. Mereka sengaja ingin menjebakku, menjadi tersangka yang akan di rekam oleh ponsel Bima.
Hebat!!
Kerja sama yang luar biasa. Jika aku melawan, tentunya aku akan terpojokkan.
Bisa saja Bima melaporkanku dengan tindakan tidak menyenangkan.
Atau, mungkin besok akan ada berita viral seorang Alira telah menampar atau mencakar mantan madunya.
"Kenapa diam saja, Alira! sini, pukul aku kalau kamu berani!" ujar Emira lagi menepuk-nepuk pipinya.
"Oh iya, gaji mu bulan ini tidak akan di bayarkan. Semua upahmu akan saya berikan kepada Emira atas ganti rugi uang dia yang kamu pakai semalam." Bima ikut menimpali.
Ubun-ubun ku rasanya mulai mengeluarkan asap.
"Ehem.." Aku berdehem seraya menegakkan tubuh.
Mengusap pipi yang tadi di tampar Emira, lalu duduk kembali di kursi berhadapan dengan Bima.
Menghadapi mereka harus dengan pikiran yang tenang dan matang.
"Pak Bima yang terhormat, tidak kasihan kah Anda dengan saya yang hanya seorang janda? Jika bapak mengambil upah saya, bagaimana kehidupan saya sebulan ke depan?"
__ADS_1
Aku memajukan tubuh, bersedikap dengan kedua tangan yang di lipat pada meja.
Beberapa kali ku kedipkan mata pada pria yang terlihat gugup itu.
"Jangan coba-coba merayu saya, Alira. Saya tidak tertarik pada gadis miskin sepertimu." ujar Bima mencodongkan tubuh dengan kedua tangan bertumpu pada meja.
Jarak aku dengan mertua mas Nathan ini sangat dekat.
Hembusan nafas bau rokok tercium oleh hidungku.
Muak, ingin aku menarik kerah kemejanya, lalu menghempaskan dia dari lantai dua ini. Namun, bukan itu tujuanku.
"Saya tidak merayu bapak, tapi jika bapak tertarik pada saya, itu adalah takdir. Seperti yang pernah bapak katakan ketika mas Nathan akan menikahi Emira dulu. Takdir yang menanamkan rasa suka cinta pada sepasang mata.Betul?!"
"Cih,, dasar murahan!" Emira berdecih di belakangku.
Tidak aku hiraukan. Karena tujuan utama ku ada di depan mata.
Aku menggeserkan tanganku merapatkannya dengan tangan Bima. Mengusap punggung tangan yang sudah penuh dengan keriput itu membuat dia menatapnya tanpa berkedip.
🍁🍁🍁🍁
🍁🍁🍁🍁
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁
🍁🍁🍁🍁