
Aku tersenyum puas seraya keluar dari toko boneka tersebut.
Membayangkan wajah marah mas Nathan saat harus membayar tagihan yang jumlah nya lebih dari empat juta rupiah hanya untuk benda tanpa nyawa.
"Selamat marah-marah, Mas", ujar ku seraya mengibaskan rambut keluar dari toko.
"Yaampun ,Al. Banyak banget bonekanya,"
"Sttt.." aku memberikan isyarat kepada Mama karena putriku telah tidur dalam gendongan.
Mam mengerti, ia membiarkan aku masuk melewati dia yang masih kebingungan melihat banyak sekali boneka yang di keluarkan bang Aldi dari mobil.
Sampai di kamar, aku segera menurunkan Seila yang terlelap tidak melepaskan boneka barunya.
Hati terasa lega karena Seila tidak meminta boneka yang lama. Ia cukup senang dengan barang yang saat ini di peluknya.
"Popo".
Aku menyungging senyum saat bibir mungil itu berucap seraya mengeratkan pelukan pada mainan baru nya.
Setelah memastikan Seila tidur dengan nyaman, aku pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sesudahnya, aku langsung merebahkan diri di samping putri ku.
Mengistirahatkan tubuh serta pikiran.
__ADS_1
Biarkanlah bang Aldi yang menjelaskan kepada Mama kejadian di Mall tadi.
Jangankan Mama, bang Aldi pun terkejut karena aku keluar dengan banyak sekali boneka itu.
Ah, rasanya aku ingin tertawa dengan kelakuanku sendiri.
Malam semakin beranjak, tapi kantuk tak kunjung datang. Entahlah, padahal tidak ada hal apa pun yang mengganggu hati dan pikiranku.
Hanya sedikit tidak nyaman saja dengan kedatangan pak Gunawan tadi.
Seperti nya aku memang harus cari tahu putra sahabat Papa itu.
Aku mengambil ponsel, niat hati ingin mencari informasi tentang keluarga pak Gunawan .
Dan... benar saja dugaanku. Si dia mengekspresikan kekesalan hatinya dalam satu unggahan yang membuat ku terkikik.
[Dasar tidak tahu malu. Sudah menjadi mantan, kok masih minta-minta padaku seenaknya. Lihat saja akan aku tagih uang yang dia habiskan sampai ke liang kubur sekalipun!.]
Itu adalah unggahan mas Nathan dengan di lengkapi emoticon marah. Plus foto nota pembayaran dari toko boneka tadi.
Apa dia bilang? Akan menagihnya?
Selain sombong ternyata mantan suamiku itu pelit juga. Padahal jika dihitung, hasil keringatku yang dia nikmati sendiri jauh lebih banyak dari apa yang dia bayarkan tadi.
Bayangkan saja, selama aku bekerja uang gajiku selalu dia yang ambil dan pegang.
__ADS_1
Ingin protes, tapi tidak bisa.
Selain suami, mas Nathan juga atasanku waktu itu. Aku hanya bisa menikmati kebodohan dan kesialanku bersuamikan dia.
Beralih dari postingan mas Nathan, aku pun membaca unggahan Emira dengan foto yang sama.
Lebih parah, Emira lebih berani menunjukkan ekspresi marahnya dengan menyebut nama ku disana.
[Jadi wanita kok tidak tahu diri. Sudah di ceraikan masih minta-minta pada suami orang. Dimana muka mu Alira?]
"Disini," ucapku berujar sendiri menjawab tulisan yang di posting Emira.
[Anak, ya anak. Mantan, ya mantan. Jangan meminta seenaknya sampai harus menghabiskan uang istri sah. Dasar mental pengemis kau Alira!]
Lagi-lagi Emira mengunggah postingan dengan menyebut nama ku. Kalau sudah begini, pasti esok hari akan sangat ramai di pabrik.
Aku akan menjadi artis dadakan dengan berbagai komentar. Sama seperti pada saat mas Nathan memutuskan akan menikah lagi dengan Emira.
Saat itu aku diam, tidak berani mengeluarkan komentar. Hanya diam dengan menikmati luka. Tapi, jika besok itu terjadi, aku pastikan akan menjawab semua ucapan dan umpatan mereka.
🍁🍁🍁🍁
🍁🍁🍁🍁
🍁🍁🍁🍁
__ADS_1