Kesombongan Seorang Mantan

Kesombongan Seorang Mantan
episode 10


__ADS_3

"Kami belum dipercaya untuk itu, Al. Doakan ya, secepatnya aku dan Rindu bisa membawa malaikat kecil ke rumah ini."


Aku mengangguk lemah dengan senyum tipis. Melihat ke arah wajah kak Rindu yang menunduk lesu.


"Maaf,, kak aku.."


"Gak apa-apa, Al. Santai saja, kita pun santai kok. Iya kan sayang," ujar bang Aldi memeluk bahu istrinya.


Santai, sih. Namun, melihat rona wajah kak Rindu membuatku tidak enak hati. Merasa bersalah karena menanyakan anak pada pasangan yang tengah berjuang untuk mendapatkannya.


Jauh dari mereka, membuatku tidak tahu bagaimana kehidupan saudara sendiri yang ternyata tidak seberuntung aku.


Namun, aku sangat yakin jika bang Aldi bukan tipe lelaki seperti mas Nathan yang karena istrinya melahirkan anak perempuan, lalu memutuskan untuk menikah lagi demi anak laki-laki.


Ah kenapa juga harus membandingkan kakakku dengan dia, sih. Ya, jelas akan sangat berbeda pasti nya.


****


"Papa sudah menceritakan semuanya, Al. Sedih sih, saat tahu kamu di campakkan oleh si Nathan. Tapi... ada senangnya juga, karena akhirnya kamu bisa kembali kepada kami. Terlebih pada Papa yang saat itu sangat terpuruk ketika kamu memilih pergi dengan laki-laki itu."


Aku menyesap teh manis yang tersaji di meja. Melihat kolam renang yang di penuhi mainan setelah tadi Seila bermain di sana bersama Papa.


"Aku durhaka ya, bang?" ucapan yang sebenarnya tidak memerlukan jawaban. Karena memang begitu kenyataannya.


"Aku tidak tahu devinisi anak durhaka itu apa saja. Yang pernah aku dengar, jika orangtua sudah memaafkan dosa anaknya, maka Tuhan pun akan memaafkan," ujar bang Aldi menoleh ke arah ku.


Aku menarik nafas panjang, mengembuskan nya dengan kasar seraya mengangguk-anggukkan kepala.

__ADS_1


"Sekarang waktunya kamu untuk berbakti. Mengikuti apa mau nya Papa."


"Memangnya, apa mau nya Papa?" tanya ku membalas tatapan pria berjambang tipis itu.


"Ya,, nurut. Udah, itu aja. Kamu nurut sama mereka, tidak membangkang lagi."


Aku tidak menjawab. Memilih diam menikmati teh manis seraya memandang langit yang mulai menghitam.


Aroma harum bunga melati tercium membuat ku ingin memetik bunga putih yang berada di taman kecil di pinggir kolam renang.


Aku bangkit dari kursi, berjalan memutari kolam lalu memetik dua bunga melati yang bermekaran.


Membawa nya ke tempat semula, kemudian memasukkan nya ke dalam cangkir keramik berisikan teh manis. Menyesap nya lagi, menikmati harum serta manis yang menenangkan jiwa.


Lama sudah aku tidak menikmati suasana ini. Rindu untuk kembali ke masa lalu pun menyerang kembali. Lari-lari nakal bersenandung riang menjelajahi taman kecil di sudut sana. Mengejar kupu-kupu cantik yang terbang dan hinggap pada setiap kelopak bunga yang bermekaran mengeluarkan aroma segar.


"Al,"


"Iya, Mah!"


"Iya, Mah!"


Kami menjawab bersamaan membuat Mama menutup mulut membulatkan mata.


"Lupa, jika ada dua 'Al' di rumah ini", tuturnya menghampiri kami.


Mencium sebelah pipiku, lalu beralih ke pipi bang Aldi.

__ADS_1


"Coba lihat sini. Mama butuh pendapat kalian mengenai pesta hari jadi AB Garment."


Mama menyimpan buku dengan gambar-gambar dekorasi pesta di gedung mewah. Aku menggaruk alis, tidak tahu harus memberikan pendapat apa.


"Menurut kalian, mana yang bagus?"


"Ini."


"Ini."


Aku dan bang Aldi menunjuk gambar yang berbeda.


Mama berdecak. "Kok enggak kompak sih? asal banget jawabnya. Menurut Mama, ya bagusan yang ini dong. Lihat, sangat cantik dan mewah. Cocok banget nih, buat pesta hari jadi perusahaan kita."


Aku dan bang Aldi saling pandang dengan mengedikkan bahu. Ternyata Mama masih tidak berubah. Meminta pendapat kami hanya untuk mencari alasan agar bisa mengobrol dengan putra-putrinya. Yang dia ambil, tetap pendapat diri sendiri.


Ah, dasar Mama.


"Mah, Mama sama Alira di panggil Papa. Katanya ada tamu yang ingin bertemu dengan Alira", ujar kak Rindu yang berdiri di ambang pintu kaca.


Tamu untukku? siapa?


🍁🍁🍁🍁


🍁🍁🍁🍁


🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2