Kesombongan Seorang Mantan

Kesombongan Seorang Mantan
episode 5


__ADS_3

"Tetap mau ke pabrik?" tanya Mama saat kami tengah menikmati sarapan pagi.


Aku mengangguk seraya menyuapkan nasi ke dalam mulut dengan cepat.


Pagi ini aku bangun kesiangan. Bukan karena saking nyenyaknya tidur di kasur besar, tapi karena Seila yang merengek minta pulang. Ia tidak bisa tidur karena tidak ada boneka kesayangannya yang diambil Ibu mertua waktu itu.


Mama dan Papa bergantian membujuk, bahkan menggendong putriku, hingga akhirnya Seila bisa tidur karena sudah terlalu lelah menangis.


"Kenapa harus ke pabrik sih, Al. Sudahlah, mendingan kita jalan-jalan saja yuk. Belanja, bermain dan membeli boneka untuk Seila," tutur Mama membujuk.


Namun, keputusanku sudah bulat. Aku akan tetap pergi ke pabrik untuk bekerja. Menjalankan misi, yang semalam sudah aku bahas dengan Papa.


"Tidak bisa, Mah. Alira harus tetap bekerja. Dan... titip Seila ya, Mah?" ujarku melirik pada putri kecil yang ikut sarapan bersama kami.


"Gak usah dititipin juga Seila sudah menjadi tanggung jawab kami, Al. Percaya sama Mama, Seila akan baik-baik saja disini," Mama berujar yakin.


Aku percaya dan sangat percaya jika Mama bisa menjaga Seila dengan baik. Namun, masalahnya ada pada Seila. Gadis kecil itu merengut enggan aku tinggal. Wajar, rumah ini dan kedua orangtuaku masih asing untuk Seila. Alhasil, kami membutuhkan banyak waktu untuk membujuk putriku itu.


Setelah sarapan dan berhasil membujuk Seila, aku pun segera berangkat ke pabrik. Pagi sekali aku berangkat, karena jarak pabrik dari rumah Papa lumayan jauh.


"Berangkat Di," ujarku setelah masuk ke dalam mobil.


"Tetap kerja, Non? saya kira, Non Alira tidak akan ke pabrik lagi," ucap Adi membuka percakapan.


Adi melirik ku dari kaca spion depan. Ia menyimpan ponselnya di dashboard mobil, lalu mulai menghidupkan mesin mobil.


"Mana bisa begitu, Di. Aku harus tetap bekerja untuk menghidupi putriku," ucapku.


"Alah, modus. Palingan, Non Alira mau berbuat sesuatu. Mana mungkin sudah kembali ke istana masih mau kerja jadi upik abu. Pasti ada sesuatu ini," ujar Adi di akhiri dengan kekehan.


Aku hanya mengerucutkan bibir seraya menatap layar ponsel. Ponsel baru, yang di belikan Mama malam tadi.


Apa yang aku pakai sekarang ini, semua serba baru. Termasuk dalaman. Identitas mas Nathan benar-benar sudah hilang dari dalam diriku.


Akan aku buang jauh-jauh semua tentang dia, meski hanya bayangannya sekali pun.


"Non,"


"Hem," aku bergumam menjawab panggilan Adi.


"Boleh nanya sesuatu gak?"

__ADS_1


Aku menghentikan jari-jariku yang sedang menjelajahi layar ponsel sejenak, lalu kembali berselancar di dunia maya.


"Tanya aja, Di."


"Non Alira sudah berpisah resmi atau masih secara agama?"


Aku melirik sekilas pada Adi yang juga tengah melirikku lewat kaca spion depan.


Pertanyaan yang aneh.


"Kenapa tiba-tiba kamu nanya gitu? Kepo," ucapku kembali mengalihkan pandangan pada ponsel.


"Hanya nanya, Non. Biar tidak suntuk diperjalanan".


Aku diam. Menurutku, pertanyaan Adi tidak penting harus aku jawab. Itu sudah sangat pribadi, dan aku bukan tipe orang yang mudah membahas masalah rumah tangga dengan orang lain.


Kisahku dengan mas Nathan memang sudah selesai empat bulan yang lalu.


Surat dari pengadilan pun sudah aku pegang. Bahkan, aku menghabiskan masa iddah ku di rumah dia. Bukan karena aku tidak tahu malu, tapi demi menjaga harga diriku sebagai seorang wanita.


Rasa sakit ku tekan, demi sebuah kebebasan yang sesungguhnya.


"Tak apa, Di. Aku hanya tidak ingin membahas masalah itu," pungkasku.


Tidak ada obrolan lagi antara aku dan Adi hingga akhirnya kami sampai di depan pintu gerbang pabrik.


Saat turun, aku menjadi pusat perhatian karena keluar dari mobil sedan buatan Jerman berwarna putih mengkilap.


Kasak kusuk orang-orang ku dengar tidak enak di telinga. Ada yang bilang itu adalah taxi online, tapi tak jarang juga ada yang mengatakan jika yang baru saja mengantarku adalah pelangganku.


Duh, pemikiran yang sangat sempit. Apa hanya karena jadi janda, aku rela menjajakkan diri pada seorang pria?


Itu tidak mungkin.


"Lin, tadi siapa? pacar atau langganganmu?" tanya seorang wanita berambut pirang saat aku melewatinya.


"Bosnya kali," timpal teman yang ada disampingnya.


Aku sama sekali tidak menghiraukan ucapan-ucapan sumbang mereka. Bergegas masuk ke dalam pabrik, lalu berjalan ke arah kamar kecil. Mencuci muka mungkin akan membuat suasana hatiku kembali dingin.


"Baru beberapa bulan menjanda, sekarang sudah berani di antar laki-laki kaya. Atau jangan-jangan... sebenarnya wanita penggoda,"

__ADS_1


Aku berhenti melangkah, menatap tajam pada seorang wanita yang baru saja menyindirku. Dia memang tidak menyebut nama, tapi kata-katanya sangat jelas mengarah padaku yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri. Dan hanya ada kami berdua di tempat ini.


"Apa kata-katamu tadi untukku?" tanyaku seraya melangkah pelan ke arahnya.


"Iya, untukmu".


"Terima kasih. Kata-kata mutiara mu sangat bagus. Tapi... apa kamu tidak tersindir dengan kata-kata mu itu?"


Wanita beralis tebal itu menatap ku penuh tanda tanya. "Apa maksudmu?" tanya nya.


Ah, aku kira mantan maduku itu pintar. Ternyata tidak secerdas yang aku pikirkan. Atau, dia sedang berpura-pura polos seperti saat mengatakan kepada semua orang tentang pernikahannya dengan mas Nathan yang dia akui atas permintaanku.


Dasar ratu drama.


Aku kembali melangkah. Mengikis jarak, membuat dia berada dalam ancaman. Suatu keuntungan kami bisa bertemu disini. Karena apa? karena disini tidak ada CCTV yang akan merekam perbuatanku pada wanita sok kaya itu.


"Wanita penggoda. Bukankah kata itu sangat pantas untukmu? Kamu menggoda seorang pria yang pada saat itu masih menjadi suami wanita lain. Lalu kemudian menikah, tanpa sedikitpun memikirkan perasaan istrinya," ujarku mengeratkan gigi gemas.


Ingin sekali aku mencakar wajahnya dan memakan dia hidup-hidup. Namun, itu tidak akan menyenangkan untukku. Yang menyenangkan ialah... aku terus berjalan hingga membuat ia memundurkan langkah kaki nya menghindariku.


"Untuk apa aku harus memikirkan perasaanmu? Aku menikah karena mas Nathan yang minta. Dia bosan pada mu yang tidak bisa memberikan apa yang dia inginkan. Sedangkan dariku, semuanya dia dapatkan. Kehangatan, kebahagiaan, bahkan kekayaan."


"Bangga dengan itu?" ujarku sembari terus melangkah.


"Ya, tentu saja. Buktinya, setiap hari Nathan terus memuji kecantikanku dan menjelekkanmu. Kamu tidak ada apa-apanya dibandingkan diriku, Alira," ucap Emira dengan begitu sombongnya.


Aku berhenti melangkah. Menelengkan kepala memastikan jika target akan mengenai sasaran.


"Benarkah? Oke, kita lihat apakah Nathanmu itu akan datang menolong ketika istrinya ini berada dalam..."


BYURR!


Aku mengangkat kedua tangan, mendorong pundak Emira hingga ia tercebur ke dalam ember besar berisikan air kotor bekas mengepel lantai.


Kemudian aku berlari tunggang langgang menjauh dari area toilet sebelum ada orang lain yang melihat keberadaanku.


"Alira!!"


🍁🍁🍁🍁


🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2