Kesombongan Seorang Mantan

Kesombongan Seorang Mantan
episode 9


__ADS_3

Permainan hari ini sepertinya sudah cukup. Aku mengambil ponsel, menelepon supir derek yang membawa mobil mas Nathan.


"Pak, berhenti pak. Ternyata itu bukan mobil suami saya, mobil suami saya sudah di ambil sama karyawan bengkel."


"Lah, si ibu gimana sih? katanya bener itu mobilnya. Terus ini yang saya bawa mobil siapa?" tanya nya panik.


"Punya orang. Itu pemilik nya sampai ngejar-ngejar di belakang".


"Aduuhh,, si ibu bikin masalah saja, kalau orang nya minta ganti rugi gimana bu?"


"Tenang pak. Saya yang akan bertanggung jawab. Biaya angkut mobil itu juga akan saya bayar dua kali lipat. Bapak gak usah khawatir".


Sambungan telepon terputus. Mobil derek itu berhenti dan si supir itu keluar dari mobilnya.


Perdebatan antara mas Nathan dengan supir mobil derek pun terjadi. Namun, untung nya si supir tidak mengatakan diriku sebagai dalang dari permasalahan ini. Aku sudah mewanti-wanti dia dan akan aku beri imbalan yang setimpal untuk kerja sama yang menyenangkan ini.


Pak Nadi--supir Papa sudah datang. Mama pindah ke belakang dan kami segera pulang ke rumah meninggalkan mas Nathan yang masih marah-marah.


Sedangkan istrinya terduduk lemas dengan keringat meluluhlantakkan bedak di wajahnya.


Kasihan?

__ADS_1


Sedikit. Karena mereka pun tak memiliki belas kasih pada ku.


Saat sampai, aku melihat ada mobil lain yang terparkir di halaman. Mungkinkah Papa kedatangan tamu? mungkin saja, tapi... sepertinya bukan tamu.


"Abang," lirihku ketika melihat seorang pria tampan keluar dari dalam rumah.


Buru-buru aku turun dari mobil dengan menggendong Seila yang sudah bangun beberapa saat sebelum kita sampai.


"Bang Aldi," kataku seraya menghampiri kakakku itu.


"Dasar anak nakal, kepala batu. Sudah berani pulang ke rumah, hah?" ujarnya mengacak rambutku, lalu mencium pucuk kepala ini.


Bang Aldi tetap menemaniku dan bahkan dia lah yang menjadi wali nikah ku di saat Papa menolaknya. Sebagai gantinya, Papa membuatkan surat ikrar Taukil Wali agar aku bisa menikah dengan bang Aldi sebagai walinya.


"Kapan tiba, Al?" tanya Mama pada abangku itu.


"Lima belas menit yang lalu, Mah. Hei, ini ponakanku?" ujar bang Aldi menyentuh pipi chubby Seila.


Seila merengut. Enggan untuk di sentuh oleh pamannya itu. Dia yang baru bangun tidur, ditambah lagi tidak mengenali bang Aldi membuat Seila ketakutan dan menolak saat bang Aldi ingin menggendongnya.


"Baru bangun tidur dia bang".

__ADS_1


"Hm... pantas manyun gitu. Ini om, Sayang. Om tampan dan mapan," tuturnya masih menggoda putriku.


Aku memutar bola mata malas mendengar bang Aldi yang memuji dirinya sendiri.


Lalu kami masuk ke dalam rumah yang ternyata ada kak Rindu juga. Istri bang Aldi yang... ah, entahlah aku belum terlalu mengenal wanita itu.


Sedikit senyum, jarang bicara dan... kami tidak terlalu dekat sebelumnya.


Karena saat aku memutuskan keluar dari rumah Papa, waktu itu kak Rindu dan bang Aldi belum lama menikah.


Aku belum terlalu tahu mengenai sifat aslinya. Mudah-mudahan baik dan kami bisa menjadi teman.


"Hai dek, apa kabar?" sapa kak Rindu dengan seulas senyum tipis.


"Alhamdulillah, baik kak. Kakak sendiri? Oh ya mana anak kalian?" tanyaku karena tak kulihat anak kecil di sekitar sini.


🍁🍁🍁🍁


🍁🍁🍁🍁


🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2