
Gelak tawa laki-laki terdengar begitu menyenangkan saat kaki ini mulai mendekati ruang tamu.
Sepertinya, orang yang ingin bertemu denganku bukan lah orang baru untuk Papa.
Apa mungkin rekan bisnis Papa?
Lalu, kenapa dia mau menemuiku?
Seingatku, aku tidak mengenal siapa-siapa saja yang berbisnis dengan Papa. Dekat? apa lagi. Sangat tidak sama sekali.
Mungkinkah temanku? rasa nya tidak mungkin temanku bisa membuat Papa tertawa lepas seperti itu. Kepulangan ku ke rumah ini pun tidak di ketahui oleh mereka.
"Pak Gunawan, apa kabar pak?"
Langkah ku terhenti saat Mama menyebutkan satu nama yang tidak asing di telingaku.
Kakiku refleks berhenti dan mematung di belakang sofa yang kosong.
Gunawan.
Aku pernah mendengar nama itu disebutkan Papa beberapa kali di rumah ini. Yang aku tahu, dia adalah seorang pengusaha textile yang tak lain adalah sahabat Papa juga.
Pak Gunawan jugalah yang waktu itu menawarkan perjodohan antara aku dan putranya yang sampai saat ini belum aku ketahui. Penolakan dariku membuat anak dari Pak Gunawan enggan menemui ku dalam acara apa pun.
__ADS_1
"Al, sini duduk," ujar Mama melambai kan tangan.
Aku tersenyum tipis, berjalan mendekati mereka lalu mengulurkan tangan pada pria seumuran Papa itu.
Seila yang sedari tadi berada di pangkuan Papa, kini turun dan beralih duduk di dekat ku.
Putri kecil ku itu tak jauh dari kakeknya. Hampir semua aktivitas dia lakukan bersama Papa.
Peran seorang ayah yang sangat kurang dia dapatkan dari mas Nathan, membuat Seila selalu mencari perhatian Papa.
Ingin di sayangi, di lindungi layaknya seorang putri.
"Nak Alira apa kabar?"
Aku mengalihkan pandangan dari Seila, ke arah pak Gunawan.
"Syukurlah. Mudah-mudahan selalu sehat dan bahagia."
Aku mengangguk dengan seulas senyum hambar. Entah mengapa, batin ku mengatakan jika kedatangan pak Gunawan ke mari bukan hanya sekedar mampir dan ingin melihatku. Namun, ada maksud lain yang dulu pernah tertunda.
Ah, mudah-mudahan hanya pikiranku saja.
Sepanjang duduk di sini, aku hanya diam dan tersenyum saja. Obrolan di dominan oleh kedua pria dengan usia yang sama itu.
__ADS_1
"Sepertinya aku pamit sekarang. Terima kasih atas jamuannya," ujar pak Gunawan. Tangannya mengambil gelas berisikan kopi yang hanya tinggal setengah.
"Mau kemana? masih sore ini,"
"Ah, biasalah. Badan suka pegal-pegal kalau pulang larut. Maklum Din, usia kita sudah tidak lagi muda. Kesehatan harus di perhemat, kalau sudah sakit, repot."
Gelak tawa kembali terdengar begitu menyenangkan. Aku pun ikut tersenyum hanya untuk basa-basi saja.
"Oke oke. Aku paham. Ya sudah, aku antar ke depan". Papa dan Mama berdiri untuk mengantar tamunya hingga ke ambang pintu.
Namun, sebelum pak Gunawan benar-benar pergi, ia menoleh ke arah ku dengan seulas senyum manis.
"Sembuhkan dulu luka nya, nanti kita akan membahas yang dulu sempat terputus," ujar pak Gunawan seraya menepuk pundak Papa.
Ayahku itu hanya mangut-mangut. Sepertinya memang ada pembahasan serius yang mereka bicarakan sebelum aku datang tadi.
Perjodohan?
Ah, aku belum siap untuk menikah lagi. Luka yang di buat mas Nathan saja masih sangat basah dan menganga. Belum tentu bisa sembuh dalam waktu yang singkat.
Kata pernikahan pun sudah tidak lagi berselera untuk di bahas. Apa lagi harus menjalani nya.
🍁🍁🍁🍁
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁
🍁🍁🍁🍁