Kesombongan Seorang Mantan

Kesombongan Seorang Mantan
episode 2


__ADS_3

"Kita kemana?"


"Kerumahlah, masa iya ke panti jompo," ucapku ketus.


"Kerumah Bapak? Emang masih akan di terima?" Aku diam seribu bahasa.


Pertanyaan yang di lontarkan Adi membuatku memijit kepala yang sedikit cenat-cenut.


Benar apa kata Adi. Apakah seorang Alira Martadilara masih diterima di rumah itu?


Rumah orangtua yang sengaja ditinggalkan karena lebih memilih seorang pria yang dicintainya.


Ah, otakku seperti tidak berfungsi. Apa yang akan Papa katakan ketika nanti aku pulang? Tertawa? Iya, mereka pasti akan menertawakan kemalanganku.


"Jadi, kita akan kemana non? tetap kerumah Bapak?" Adi mengulangi pertanyaan yang sama.


"Tidak"


"Lalu,,,?"


"Kita ke... ah, aku tidak tau Adi. Aku tidak punya tempat untuk tinggal sekarang ini. Jangan kan rumah, baju pun aku tidak memilikinya. Yang aku punya hanya,,, Seila" ujarku seraya memeluk tubuh putriku.


Adi menghembuskan nafas kasar. Sopir pribadi yang selalu setia mengabdi itu tidak lagi bertanya.


Ia tetap menjalankan roda empat tanpa berucap lagi.


Lucu, aku keluar dari rumah kedua orangtuaku meninggalkan fasilitas mewah yang mereka sediakan demi hidup sederhana dengan seorang pria yang bekerja di perusahaan Papa.


Namun, mas Nathan tidak tahu. Yang dia dan keluarganya tau ialah, Papa hanyalah seorang


pengusaha konveksi kecil dengan penghasilan sedikit.


Padahal, pabrik garmen tempatku dan mas Nathan bekerja masih dalam lingkup kekuasaan Papa.


Ada rasa kesal dan sesal pada diri ini. Coba saja jika dulu aku tidak keras kepala, mungkin jalan hidupku tidaklah sesakit ini.


Namun, nasi sudah menjadi bubur. Apa yang aku dapatkan sekarang adalah jalan yang aku pilih dahulu.


"Mama, ceila nakal ya,?" ujar putriku membuat mata ini seketika melihat ke arahnya.


"Enggak, kata siapa ceila nakal,?" Aku mengelus pipi chubby-nya dengan lembut.


"Kalau ceila enggak nakal, kok tadi ayah malah-malah".


Aku menarik tubuh mungil itu dan memeluknya dengan erat. Bukan seila yang nakal, tapi memang ayahnya lah yang jahat.


Hanya karena aku melahirkan seorang putri, dia enggan untuk mengakui seila sebagai putri nya.

__ADS_1


Mas Nathan akan berbuat baik kepada seila saat didepan orang saja. Dan itu sudah sejak seila lahir.


Bodohnya aku, masih percaya akan ada keajaiban yang merubah sikap buruk suamiku kepada putri nya. Namun, nyatanya tidak.


Empat tahun usia seila sekarang, hanya mendapatkan kasih sayang dari diriku saja. Ayahnya nol besar.


"Kita sampai"


Aku mengangkat kepala melihat ke sekitar dan,,, rumah Papa?


"Adi, kamu membawaku pulang?" ujarku kaget luar biasa.


"Wanita yang diceraikan suaminya, lebih baik pulang ke rumah orangtua nya. Disana Nona akan di jaga dengan baik".


"Bukankah tadi kamu bilang belum tentu aku akan diterima lagi disini. Lalu kenapa kamu malah membawa ku kesini?"


Kesal sekali aku pada supir itu. Dia membawaku kerumah Papa, disaat aku belum siap untuk bertemu dengan mereka.


"Jangan memikirkan ego, Non. Lihatlah gadis kecil yang ada dalam dekapan Non Alira. Apa Non akan tega, membiarkan dia sendirian disaat ibunya harus bekerja mencari uang?" ujar Adi seraya melirik ke arah Seila.


Aku mengusap kepala putriku. Melihat wajah polosnya yang tidak mengerti permasalahan orangtua nya ini.


Benar, dengan siapa Seila tinggal jika aku harus bekerja? Namun, untuk kembali kepada Papa pun rasanya aku sangat malu.


Kebodohan yang aku buat akan sangat memalukanku didepan Papa.


"Mama, kita dimana?" tanya Seila yang tidak aku jawab.


Aku harus apa? Aku tidak siap pulang dengan keadaan yang seperti ini.


"Non, turun!" Adi membuka pintu mobil menyuruhku keluar.


"Di...."


Aku tidak melanjutkan kata-kataku saat mata ini melihat siapa yang tengah berdiri di teras rumah.


Papa. Ia melihat kearahku dengan ekspresi datar. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana membuatnya terlihat lebih berwibawa.


"Alira!"


Suara teriakan seorang perempuan membuat air mataku luruh seketika. Namun, langkahnya ditahan Papa dengan sengaja mencekal tangan Mama.


'Semarah itukah Papa?, Sehingga ia tidak mengizinkan Mama untuk menghampiriku?'


Seila yang tidak mengerti apa-apa hanya diam saja melihat aku yang tiba-tiba menangis.


"Temuilah mereka, Non. Bukankah seharusnya seorang anak yang menghampiri orangtuanya, bukan orangtua yang menghampiri anaknya?" tutur Adi menyadarkanku.

__ADS_1


Iya, seharusnya memang seperti itu.


Disini, akulah yang salah. Akulah yang telah berdosa. Tanpa kata lagi, aku turun dari mobil.


Seila sudah di gendong Adi sesaat sebelum aku turun.


Aku berlari kecil ke arah kedua orangtuaku dan bersimpuh di kaki Mama.


"Mah...."


Tak mampu kata itu keluar dari bibirku. Yang aku bisa hanya menangis sesenggukan menyesali keputusan.


"Bangunlah, Al. Mama sudah memaafkanmu," tutur Mama menarik kedua pundakku.


Aku enggan untuk mengangkat kepala.


Rasanya sangat malu meski hanya sekedar menatap wajah Mama.


"Alira banyak salah sama Mama," ujarku terisak dengan memeluk kaki Mama.


"Tidak Sayang, kamu tetap anak baiknya Mama."


Mama terduduk, ia memeluk tubuhku yang bergetar karena menangis sesenggukan.


Namun, reaksi biasa saja di perlihatkan Papa padaku. Ia sama sekali tidak berucap sepatah katapun melihat istri dan anaknya yang menangis disampingnya.


Puas meluapkan rasa sesal pada Mama, kini tanganku beralih memeluk kaki Papa.


Abai, Papa seakan mati rasa. Ia sama sekali tidak tersentuh dengan rengekan kata maaf yang kuucapkan berulang kali.


"Pa, Papa tidak memaafkan Alira?" ujarku mendongak melihat wajah itu.


Namun, reaksinya tetap datar. Papa menatapku dengan biasa saja.


"Adi, berikan anak itu padaku" ujar Papa meminta Seila.


Adi memberikan putriku pada Papa. Hatiku cemas, takut jika Papa akan berbuat kasar kepada Seila. Namun, hal yang tidak terduga justru dilakukan Papa.


Dengan gemas, Papa menciumi kedua pipi Seila membuat putriku meringis geli dengan jenggot orangtuaku itu.


"Dia membuangmu, heh?" ujar Papa dengan menatap wajah putriku.


Kemudian, sebelah tangannya mengambil ponsel dan langsung menghubungi seseorang.


"Ya halo. Cari tahu kinerja orang yang bernama Nathan di garmen cabang. Laporkan dengan detail, tanpa ada yang kurang. Aku tunggu malam ini." Pungkasnya lalu masuk ke dalam rumah seraya membawa putriku.


🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁


🍁🍁🍁🍁


__ADS_2