
Riuh gelak tawa serta tepuk tangan memenuhi ruangan.
Termasuk aku yang terbawa suasana ikut tersenyum.
"Tapi-tapi.. tidak semuanya!!"
"Yahhhh...!!"
Ucapan mbak Anita di sambut sedih oleh sebagian orang.
"Hanya ada satu line, atau satu grup saja yang di bawa ke gedung depeer, eh gedung pesta. Sebagai bentuk apresiasi karena selama setahun ini menghasilkan target produksi paling tinggi. Yaitu,,, Line nya bapak Nathan!"
Wajah bangga diperlihatkan mantan suami ku itu.
Dengan ekspresi senang, mas Nathan sampai menepuk dada saat namanya di sebut mbak Anita.
'Berbanggalah mas, sebelum nanti kamu akan terpuruk karena penyesalan'.
Mbak Anita menyudahi pengumumannya, lalu memberikan kartu undangan kepada mas Nathan.
Pria itu pun langsung membagikan kertas itu kepada kami dengan cara estafet dari depan ke belakang.
"Oh,,, nama AB itu ada singkatan dari nama anak si pemilik ternyata."
"Iya bener, Aldi dan Alira."
"Kok ada nama Aliranya ya?"
__ADS_1
"Iya ya, nama panjangnya sama lagi kayak si Alira di sini."
Suara-suara itu aku dengar saat mereka membaca kata per kata yang ada pada undangan.
Rasa heran bukan hanya di rasakan teman-teman satu grup denganku.
Tapi, juga dia yang saat ini tengah menyoroti ku dengan aneh.
"Lir, mantan memandang mu,tuh?" ujar Della berbisik.
"Bilangin gih, jangan melotot sekarang, nanti akan ada yang lebih mengejutkan," ucapku seraya melipat undangan, lalu menyimpannya dengan asal.
****
"Kamu tahu kenapa kamu di panggil ke sini?"
Wajahnya tak asing. Aku cukup mengenal siapa dia yang tak lain mertua baru mas Nathan , ayah dari Emira, sekaligus manager dari produksi di garment cabang ini.
Tadi, setelah riuh gembira teman-teman karena mendapatkan undangan dari Papa, aku di panggil untuk menghadap pimpinan.
Teman-temanku bingung, tidak tahu kenapa aku dipanggil oleh pimpinan.
Seingatku, aku tidak melakukan kesalahan fatal yang merugikan perusahaan.
Apa hanya karena tadi aku datang terlambat?
Seperti nya bukan. Telat sepuluh menit masih bisa masuk dan bekerja, meskipun ada potongan gaji nantinya.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan sudah di luar batas. Tidak seharusnya menjebak anak saya untuk membayar belanjaan kamu!"
Aku tertegun. Mencerna ucapan pak Bima yang baru saja dia ucapkan.
Dia membahas masalahku semalam dengan anak menantunya?
Aku tersenyum miring.
"Bapak memanggil saya datang ke sini untuk membahas masalah yang tidak ada hubungan nya dengan pekerjaan?".
"Memang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Tapi, ada hubungannya dengan saya. Semua yang berhubungan dengan saya dan keluarga, saya tidak akan tinggal diam."
Aku menyadarkan punggung pada sandaran kursi.
Menatap pak Bima yang menurut ku tidak seprofesional yang orang pikir.
Bahkan dia bisa mencampuradukan urusan pribadi dan pekerjaan.
"Maaf pak, seharusnya bapak tidak memanggil saya ke sini untuk masalah ini. Saya tahu, Emira dan Nathan adalah keluarga bapak. Menurut saya, tidak etis jika seorang pemimpin seperti bapak, tidak profesional dalam bekerja. Jika bapak ingin menegur saya karena ulah saya, silahkan temui saya di tempat lain, bukan pada jam kerja."
"Tidak profesional katamu? kamu yang tidak profesional, Alira. Kamu yang memutuskan untuk mundur dari poligami yang Nathan jalani, tapi masih mengganggu dia. Untuk apa minta cerai jika masih cinta?".
🍁🍁🍁🍁
🍁🍁🍁🍁
🍁🍁🍁🍁
__ADS_1