Ketika Aku Sudah Glow Up

Ketika Aku Sudah Glow Up
# 22. Bertemu Tuan Simeon


__ADS_3

Tak ingin ada orang yang mendengar perdebatan mereka, cepat-cepat Bams menarik tangan Belva untuk masuk ke dalam unit apartemen Belva.


"Lepas!!!" Belva menyentak tangan Bams.


"Apa sih mau kakak? Kakak mau sok-sok an jadi superhero buat aku? Biar kakak bisa mainin aku seperti dulu, iya?!" Teriak Belva emosi.


"Kok kamu mikirnya gitu sih? Aku ngelakuin ini karena aku ingin bersihin nama kamu dan perusahaan keluarga aku. Gak ada pikiran aku buat mainin kamu!!" Jawab Bams dengan suara yang meninggi.


"Kalau kakak mau bersihin nama Simeon's Group, yah udah bersihin aja!! Kenapa harus bilang kalau kita udah nikah!!! Apa coba maksudnya!! Kan aku udah bilang aku gak butuh bantuan kakak!! Aku bisa nyelesein masalah ku sendiri!!" Balas Belva.


"Pokoknya aku gak mau tau, sekarang kita harus buat klarifikasi lagi!!" Ucap Belva lagi sambil menarik tangan Bams. Ia berniat ingin membawa Bams ke tempat klarifikasi tadi.


"Gak bisa Bel. Nama kamu akan semakin hancur nanti."


"Mau nama aku hancur atau gak itu bukan urusan kakak!!! Yang penting kita harus buat klarifikasi lagi!!"


Bams langsung menyentak tangan Belva dari tangannya.


"Semua masalah kamu itu udah jadi urusan aku!!" Bentak Bams.


"Emang kakak siapa ikut campur urusan aku? Ingat kak, kita cuma sebatas atasan dan bawahan!!! Kalau bukan karena surat perjanjian sia•lan itu, aku juga gak mau berurusan sama kakak lagi!!"


Mendengar itu, darah Bams pun mendidih.


Tanpa pikir panjang, Bams langsung menarik tubuh Belva dan menahan tengkuknya. Bams pun mendaratkan bibirnya ke bibir Belva dan mengunyah bibir manis Belva dengan sangat lembut.


"Hemph..." Belva mendorong tubuh Bams sekuat tenaga.


Begitu tautan bibir mereka terlepas, tangan Belva mengudara siap untuk menampar Bams, tapi dengan cepat tangan Bams menangkap tangan Belva yang sudah mengudara dan langsung menarik tangan Belva dan memeluk tubuh Belva.


"Kamu tau alasan aku melakukan ini semua? Karena aku mencintai mu Bel." Akhirnya Bams mengakui perasaannya pada Belva.


Bukannya senang, Belva malah mendorong tubuh Bams. Ia tidak mau terbawa perasaan dengan pernyataan Bams itu.


"Permainan apalagi yang sedang kakak mainkan sekarang?" Tanya Belva dengan tatapan tajam.


"Aku serius Bel, aku gak main-main." Jawab Bams dengan raut wajah seriusnya.


"Keluar!!! Aku gak mau denger apa-apa lagi dari mulut kakak!!!"


"Tapi Bel..."

__ADS_1


"Keluar sekarang!!!" Teriak Belva.


Bams menghela nafasnya kasar. Ia tau pasti saat ini Belva masih sangat emosi dan dia sadar kalau dia menyatakan cinta di waktu yang salah.


Bams pun mengalah.


"Oke, aku keluar. Tapi tentang perasaan ku itu, aku serius Bel, sangat serius. Tolong pikirkan baik-baik." Ucap Bams sebelum keluar dari unit apartemen Belva.


Setelah Bams keluar, Belva terduduk lemas di lantai. Mulai dari Bams menciumnya sampai Bams menyatakan cinta padanya, sebenarnya tubuh Belva sudah bergetar hebat. Bibit-bibit cinta yang masih ada dalam hati Belva untuk Bams mulai menyegar kembali. Tapi Belva terus menahan pertumbuhan bibit-bibit cinta itu, karena ia tak mau merasakan sakit hati yang kedua kali karena mencintai Bams.


"Kuatkan pendirian mu Bel, percaya lah ini hanya permainan kak Bams. Kak Bams melakukan ini semata-mata hanya untuk menjaga nama baik keluarganya, bukan untuk membersihkan nama mu. Apa yang kak Bams katakan barusan jangan di masukkan ke hati. Nanti hati mu sakit lagi." Lirih Belva menguatkan dirinya sendiri.


Tanpa Belva sadari kalau tiga orang penyusup suruhan Tuan Simeon sudah memberi laporan berupa video pada Tuan Simeon. Video saat Bams mencium dan menyatakan cinta nya pada Belva.


***


Keesokan harinya.


Kini Tuan Simeon dan Nyonya Kalina sudah tiba di Negara I.


Sesampainya di Negara I, Tuan Simeon beserta istri langsung meluncur ke perusahaan Simeon's Group dengan pengawalan super ketat. Maklum saja, para wartawan yang sudah mengendus kedatangan Tuan Simeon beserta istri ingin meminta keterangan langsung dari klarifikasi yang Bams katakan tadi malam.


"Dimana Bams dan Belva sekarang?" Tanya Tuan Simeon pada Tuan Adrian yang ikut menjemput Tuan Simeon dan Nyonya Kalina di bandara.


"Apa Belva baik-baik saja?" Tanya Nyonya Kalina khawatir.


"Nona Belva baik-baik saja Nyonya." Jawab Tuan Adrian.


"Antar aku ke apartemen Belva. Aku ingin melihat keadaannya." Pinta Nyonya Kalina.


"Kita ke kantor dulu sayang. Kita harus membicarakan pernikahan mereka terlebih dulu dengan Bams." Ucap Tuan Simeon.


"Tapi aku tidak tenang sayang, aku sangat mengkhawatirkan Belva." Jawab Nyonya Kalina.


Tuan Simeon menghela nafasnya.


"Adrian, kita ke apartemen Belva dan suruh Bams menyusul ke apartemen Belva." Perintah Tuan Simeon.


"Baik Tuan."


Dan supir pun memutar arah mobil yang membawa Tuan Simeon dan Nyonya Kalina menuju apartemen Belva dan Bams.

__ADS_1


Setelah kurang lebih dua puluh menit membelah jalanan, akhirnya mobil yang membawa Tuan Simeon dan Nyonya Kalina tiba juga di gedung apartemen tempat tinggal Bams dan Belva.


Ting Tong Ting Tong. Tuan Adrian menekan bel unit apartemen Belva.


Tak lama pintu terbuka.


Ceklek. Belva membuka pintu unit apartemennya dengan keadaan yang berantakan.


"Astaga Belva, kamu gak pa-pa sayang?" Tanya Nyonya Kalina sambil memeluk Belva.


"Nyonya....." tangis Belva pun pecah dalam pelukan Nyonya Kalina. Kehangatan pelukan Nyonya Kalina yang Belva rasakan membuat Belva merasa nyaman dan tak kuasa mencurahkan keluh kesah dalam hatinya.


"Sudah sayang, sudah. Kita masuk dulu yah." Ucap Nyonya Kalina.


Nyonya Kalina dan Belva pun masuk terlebih dahulu ke dalam unit apartemen Belva.


"Saya ke kantor dulu Tuan." Pamit Tuan Adrian setelah Nyonya Kalina dan Belva masuk ke dalam unit apartemen.


"Suruh Bams secepatnya datang." Balas Tuan Simeon.


"Baik Tuan."


Tuan Adrian pun pergi dan Tuan Simeon pun masuk ke dalam unit apartemen Belva menyusul Nyonya Kalina dan Belva yang sudah berada di ruang tengah.


Belva mengernyitkan keningnya saat melihat ada pria paruh baya yang bukan Tuan Adrian berjalan mendekatinya. Belva mencoba mengingat-ingat siapa pria itu.


Tak lama Belva membulatkan matanya sempurna.


"Apa itu Tuan Simeon, Nyonya?" Tanya Belva setelah mengingat wajah Tuan Simeon dari media cetak maupun media elektronik yang Belva baca.


"Senang bisa melihat mu langsung Nona Belva." Sapa Tuan Simeon.


Belva yang sudah duduk di sofa pun mengangkat bokongnya hendak menghampiri Tuan Simeon.


"Tidak perlu berdiri. Disitu saja." Ucap Tuan Simeon.


Tuan Simeon pun mendaratkan bokongnya di single sofa.


"Bagaimana kabar mu? Apa kau baik-baik saja dengan pemberitaan yang ada?" Tanya Tuan Simeon.


"Saya baik-baik saja Tuan." Jawab Belva berbohong. Padahal hatinya ingin sekali menjerit pada Tuan Simeon, ia ingin sekali mengatakan pada Ayah Bams itu kalau anaknya sudah berhasil membuat hatinya jedag jedug lagi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2