Ketika Aku Sudah Glow Up

Ketika Aku Sudah Glow Up
# 44. Ibu-ibu Julid, Jangan Atur Rahim Orang!!


__ADS_3

Setelah selesai mengisi perut mereka, Nyonya Kalina dan menantu semata wayangnya pun melanjutkan ke toko yang menjual pakaian dan perlengkapan baby.


"Selamat siang Nyonya, Nona. Ada yang bisa di bantu?" Sambut SPG begitu Belva dan Nyonya Kalina masuk ke dalam toko.


"Kami ingin lihat-lihat dulu." Jawab Nyonya Kalina ramah.


"Ayo sayang." Nyonya Kalina pun menarik tangan Belva.


"Mah, bisa gak Belva duduk aja. Belva kenyang banget, Belva juga jadi ngantuk." Ucap Belva.


Bagaimana tidak kekenyangan kalau Belva menghabiskan lima potong ayam, dua porsi besar kentang goreng dan dua burger dengan isian lengkap.


"Kamu sih banyak banget tadi makannya." Omel Nyonya Kalina.


"Namanya juga balas dendam Mah." Jawab Belva.


"Ya udah kamu duduk aja disitu. Jangan kemana-mana sampai Mama selesai pilih-pilih. Paham kamu."


Belva pun menganggukkan kepalanya lalu berjalan menuju tempat duduk yang di tunjuk Nyonya Kalina.


Setelah Belva pergi, Nyonya Kalina pun mulai berburu pakaian baby untuk cucu pertamanya.


Setengah jam kemudian.


Sangking asyiknya berburu perlengkapan untuk cucu pertamanya, Nyonya Kalina sampai lupa dengan Belva yang menunggunya di tempat duduk yang tadi ia tunjuk. Sedangkan di tempatnya, Belva yang memang mengantuk pun malah ketiduran karena menunggu Nyonya Kalina yang asyik berburu.


Tiba-tiba saja ibu-ibu yang seumuran dengan Nyonya Kalina pun duduk di samping Belva.


Belva yang merasakan ada seseorang yang duduk di sebelahnya pun perlahan membuka matanya, Belva pikir itu Mama mertuanya.


Belva meluruskan punggungnya saat sadar kalau yang duduk disebelahnya bukan Nyonya Kalina.


"Sendiri kesini?" Tanya ibu-ibu itu.


"Gak. Sama mertua saya." Jawab Belva ramah.


"Masa mertua kamu belanja, kamu nya malah enak-enakkan tidur?" Ucap ibu-ibu itu dengan nada sinis.


"Tadi saya capek, jadi saya duduk sebentar. Eh.. malah ketiduran." Jawab Belva masih ramah.


"Udah berapa bulan?" Tanya ibu-ibu itu sambil melirik perut Belva.


"Enam bulan Buk."


"Enam bulan kok udah beli pakaian bayi. Pamali tau gak. Kata orang dulu, hamil tujuh bulan baru boleh beli pakaian bayi."

__ADS_1


"Tapi ini kan saya dan Mama mertua saya bukan orang jaman dulu." Jawab Belva yang sudah tersulut emosi.


"Cih." Decih ibu-ibu itu sambil memutar bola matanya malas.


"Tuh lihat menantu saya disana. Kandungannya sudah masuk delapan bulan. Dari usia kandungannya seperti kamu, udah saya suruh jalan terus biar nanti waktu lahiran bisa lahiran normal. Kalau kamu duduk-duduk terus seperti ini terus, tidur-tiduran terus, bisa-bisa nanti kamu lahirannya operasi. Kamu tau gak kalau lahirannya dengan cara operasi, kamu tuh belum sah menjadi wanita seutuhnya." Julid ibu-ibu itu lagi.


"Siapa bilang kalau melahirkan dengan cara operasi belum jadi wanita normal? Tau apa anda tentang lahiran dengan cara operasi?" Tiba-tiba Nyonya Kalina datang dan menjawab kata-kata si ibu-ibu julid itu.


Mata ibu-ibu itu membulat saat melihat sosok Nyonya Kalina.


"A-anda bu-bukanya Nyonya Simeon?" Ucap ibu-ibu julid itu.


"Senang bertemu dengan anda Nyonya." Ibu-ibu julid itu hendak mengambil tangan Nyonya Kalina.


"Jangan sentuh-sentuh saya!!" Ucap Nyonya Kalina ketus sambil menghempaskan tangan si ibu-ibu julid yang ingin menyentuh tangannya.


"Kamu senang bertemu saya, tapi saya yang gak senang bertemu dengan kamu!!" Ucap Nyonya Kalina lagi.


"Ngomong apa tadi kamu sama menantu saya, hah!! Kamu bilang kalau wanita yang melahirkan dengan cara operasi belum bisa menjadi wanita seutuhnya, iya kan?!"


"Ah.. maksud saya..."


"Diam kamu!!!" Bentak Nyonya Kalina saat si ibu-ibu julid itu ingin berkelit.


"Nih, kamu bayangin yah. Sebelum operasi, tulang punggung harus di suntik anastesi. Kamu tau resiko anastesi epidural? Bergerak sedikit saja saat di lakukan anastesi, bisa-bisa terkena saraf rawan yang bisa mengakibatkan kelumpuhan permanen. Bukan itu saja, efek samping anastesi epidural itu sifatnya seumur hidup, wanita yang melahirkan dengan cara operasi, seumur hidup akan mengalami sakit punggung, dan gampang menggigil. Belum lagi pasca operasi, wanita yang melahirkan harus setengah mati belajar miring, duduk, berjalan. Belum lagi dia tidak bisa merawat anaknya sampai jahitannya benar-benar kering. Apa hal-hal seperti itu bukan perjuangan!!" Omel Nyonya Kalina.


"Mau melahirkan secara normal atau dengan cara operasi, semua sama-sama bertaruh nyawa, paham kamu!!" Bentak Nyonya Kalina lagi.


"Maaf Nyonya, saya salah." Balas ibu-ibu julid itu sambil menunduk.


"Cih.. gaya nya aja tadi sok-sok hebat nasehatin menantu saya. Giliran sekarang udah kayak ayam yang kehilangan jenggernya!!!" Sindir Nyonya Kalina.


"Ayo sayang, kita pergi dari sini!!!" Nyonya Kalina menarik tangan Belva keluar dari dalam toko tanpa membawa apa-apa.


"Mama gak beli apa-apa?" Tanya Belva karena melihat Mama mertuanya keluar dengan tangan kosong.


"Mama udah gak mood belanja. Kita ke butiknya Miss Mince aja." Ucap Nyonya Kalina.


"Mau ngapain?"


"Kita suruh aja Miss Mince ngedesain pakaian untuk cucu Mama, sekalian lah kita bikin couple bertiga. Mama, kamu dan cucu Mama."


"Kok cuma kita bertiga? Kak Bams dan Papa gak di bikinin sekalian?"


"Gak usah, mereka couple berdua aja." Jawab Nyonya Kalina.

__ADS_1


"Udah yuk." Nyonya Kalina pun menggandeng tangan Belva dan mereka pun berjalan keluar dari dalam mall menuju butik Miss Mince.


***


Malam harinya.


Setelah selesai makan malam dan berkumpul sebentar dengan orang tua Bams, Belva dan Bams pun kembali ke kamar mereka yang ada di lantai tiga.


Sesampainya di dalam kamar, Belva pun berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan wajahnya, setelah itu berjalan masuk keruang ganti untuk mengganti pakaiannya dengan daster berbahan satin yang nyaman untuk dirinya yang mulai sesak karena perut yang semakin menggelembung.


Sedangkan dari atas ranjang, Bams yang sejak tadi sedang menunggu Belva untuk memberi hukuman pada istrinya itu, langsung berjalan mendekati Belva yang hendak mendaratkan bokongnya di kursi meja rias.


Tanpa aba-aba, Bams langsung menangkup wajah Belva dan mendaratkan bibirnya di bibir istrinya itu, lalu menahan tengkuk istrinya itu agar Belva tak bisa melepas tautan bibir mereka. Belva yang tadinya kaget, lama-kelamaan malah menikmati dan membalas kunyahan bibir Bams.


Setelah beberapa detik beradu bibir, Bams pun melepaskan tautan bibir mereka.


"Kakak kenapa sih, nyerang kok tiba-tiba." Omel Belva.


"Itu hukuman buat kamu, gara-gara tadi siang kamu ninggalin aku."


"Aku kan pergi sama Mama."


"Kan udah aku kasih kode supaya jangan pergi."


"Ish.. begitu aja ngomel."


"Yah ngomel lah, kamu tuh kalau gak pergi sama aku tuh kesempatan. Kesempatan makan makanan cepat saji!!" Omel Bams terus.


Belva diam tak menjawab karena memang apa yang Bams katakan benar adanya.


"Kamu harus di hukum." Ucap Bams.


Belva memanyunkan bibirnya. Ia pikir hukuman yang Bams ingin berikan sekedar ciuman panas. Tapi...


"Siapa juga yang mau ngasih hukuman kayak gitu ke kamu."


"Terus?"


Bams menaik-turunkan alisnya sebagai kode pada Belva kalau ia ingin menghukum Belva di ranjang.


"Ya udah, tapi satu ronde aja yah." Ucap Belva pasrah.


"Iya satu ronde kamu diatas dan satu ronde aku yang diatas." Jawab Bams.


Mata Belva membulat, mulutnya juga menganga mendengar kata-kata Bams.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2