
Di luar ruang kerja Bams.
Saat Bams dan Belva sedang membuat banana smoothies mereka sendiri, di depan ruang kerja Bams ada Amora yang geram karena sedari tadi tidak bisa membuka pintu ruang kerja Bams untuk mengantar jus alpukat pesanan Belva.
"Hish... ngapain sih mereka di dalam!!!" Geram Amora.
"Apa jangan-jangan mereka di dalam sedang..." gumam Amora lagi saat pikirannya traveling ke hal yang berbau ranjang.
"Aaargh!!!! Dasar Belva ganjen!!! Bisa-bisanya dia goda Tuan Bams untuk berbuat mesum di kantor!!!" Dumel Amora.
"Ekhem." Tuan Adrian berdehem dari belakang.
Mendengar suara deheman Tuan Adrian, sontak Amora terkaget. Hampir saja nampan yang berisi gelas jus alpukat jatuh.
Amora pun memutar tubuhnya.
"Eeh.. Tuan Adrian." Sapa Amora salah tingkah. Ia takut Tuan Adrian mendengar ocehannya.
"Sedang apa kau berdiri di depan pintu?" Tanya Tuan Adrian. Tuan Adrian mendengar ocehan Amora, tapi Tuan Adrian pura-pura tidak tau saja.
"Aah... ini, saya ingin mengantar jus alpukat untuk Belva.." belum selesai Amora menyelesaikan kata-katanya, Tuan Adrian langsung membentak Amora.
"Jaga ucapan mu!!! Dia Nona Muda disini." Bentak Tuan Adrian.
"Tidak ada satu orang pun yang bebas memanggil Nona Muda Belva tanpa gelar di depannya. Paham kamu!!!! Ingat status mu!!!" Bentak Tuan Adrian lagi.
"I-iya Tuan. Saya paham." Balas Amora sambil tertunduk.
"Minggir!!" Perintah Tuan Adrian karena Amora menghalangi jalannya yang ingin ke ruang kerja Bams.
Namun belum juga Tuan Adrian memutar handle pintu, Amora langsung memberitahu Tuan Adrian kalau pintu ruang kerja Bams terkunci.
"Pintu nya terkunci Tuan." Ucap Amora.
Tuan Adrian hanya menghela nafasnya dan tanpa bicara apa-apa ia memutar tubuhnya lalu kembali ke ruang kerjanya.
"Gak Bapak, gak anak sama saja!" Dumel Tuan Adrian dalam hati.
***
Setelah setengah jam pintu terkunci akhirnya Amora mendengar suara orang yang memutar kunci.
"Huuh, lamanya!!" Keluh Amora.
Amora pun berdiri dari tempat duduknya, lalu berjalan menuju ruang kerja Bams dengan membawa jus alpukat yang Belva pesan.
Tok Tok Tok.
Amora mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Masuk."
Ceklek. Amora pun membuka pintu dan masuk ke dalam ruang kerja Bams.
__ADS_1
Amora menggertakkan giginya saat melihat penampakan Bams dan Belva. Rambut mereka sama-sama basah. Maklum saja, tidak ada pengering rambut di dalam kamar Bams itu, karena kamar itu juga hampir tidak pernah Bams gunakan, sekalinya digunakan untuk membuat banana smoothies.
"Ada apa Amora?" Tanya Bams.
"Oh.. ini Tuan, jus alpukat pesanan Nona Belva tadi." Jawab Amora.
"Aku sudah tidak ingin, kau minum saja." Sahut Belva ketus.
Amora menarik nafas dalam-dalam untuk mengontrol emosinya.
"Baik Nona." Jawab Amora.
"Oh.. iya. Sekalian kopinya suami saya, tolong kamu buang. Udah dingin, udah gak enak di minum." Ucap Belva lagi.
Amora kembali menarik nafas dalam-dalam.
"Baik Nona." Jawab Amora sambil mengulas senyum terpaksa.
Amora pun berjalan menuju meja kerja Bams untuk mengambil kopi itu, setelah itu Amora pun keluar dari ruang kerja Bams.
"Aaargh... menyebalkan!!!!" Gerutu Amora dalam hati. Kali ini ia hanya menggerutu dalam hati, takut-takut Tuan Adrian tiba-tiba muncul.
Di dalam ruang kerja Bams.
Setelah mendapat energi tambahan, Bams pun kembali semangat bekerja. Bams sangat serius memeriksa laporan keuangan perusahaannya. Tapi tidak dengan Belva, dia malah lemas dan mengantuk dan itu membuat dirinya menjadi tidak konsentrasi bekerja. Lagipula, memangnya apa yang di kerjakan Belva? Karena semua pekerjaan yang seharusnya Belva kerjakan dialihkan ke Amora. Kalau itu bukan ide Belva, melainkan ide si suami siaga.
"Hoaaaam..." Entah sudah berapa kali Belva menguap.
"Kak, kok badan aku lemes terus kayak gini yah?" Tanya Belva dari meja kerjanya.
"Namanya juga hamil sayang." Jawab Bams tanpa melihat Belva.
"Emang kalau orang hamil gini yah? Tapi kok aku gak mual, gak muntah? Dulu, ibu-ibu di kampung ku kalau lagi hamil muda pasti muntah-muntah."
"Setiap orang kan beda-beda sayang. Kamu pernah denger gak kalau ada istrinya yang hamil, tapi suaminya yang ngidam?"
Belva menggeleng.
"Emang ada?"
"Ada sayang."
"Terus kakak gak ngidam gitu?"
"Gak sih. Tapi kalau kamu gak sanggup melewati masa morning sickness, aku rela kok gantiin kamu."
"O... so sweet." Balas Belva terharu.
"Sini sayang." Bams mengulurkan tangannya, meminta Belva mendekatinya.
Belva pun berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri suaminya.
Setelah Belva tepat di hadapannya, Bams langsung menarik pinggang Belva dan mencium perut istrinya yang masih rata.
__ADS_1
Cup. Cup. Cup. Ciuman bertubi-tubi Bams berikan di perut istrinya itu.
"Sehat-sehat yah anak Papa." Ucap Bams.
"Manggilnya jangan Papa, kak."
"Terus kamu mau di panggil apa?" Tanya Bams sambil menarik Belva duduk di pangkuannya.
"Gimana kalau Ayah dan Ibu."
"Oke, gak jadi masalah." Balas Bams lalu mendaratkan bibirnya di bibir Belva. Mereka pun saling mengunyah bibir dengan sangat lembut.
Ceklek. Tiba-tiba saja pintu ruang kerja Bams terbuka.
Mendengar pintu ruang kerja Bams terbuka, cepat-cepat Belva berdiri dari pangkuan Bams.
Ternyata yang membuka pintu adalah Tuan Adrian.
Melihat Belva dan Bams yang salah tingkah, Tuan Adrian tau kalau Bams dan Belva pasti baru melakukan hal yang macam-macam.
Tapi sekali lagi, Tuan Adrian memilih pura-pura tidak tahu.
"Ada apa Paman?"
"Ini berkas yang harus anda tanda tangani Tuan Muda." Tuan Adrian meletakkan berkas itu ke meja kerja Bams.
"Oh.. iya Tuan Muda, besok Tuan William akan tiba di negara ini kira-kira pukul sepuluh pagi dan beliau mengatakan ingin langsung bertemu dengan anda di restoran tempat biasa anda dan Tuan William bertemu." Ucap Tuan Adrian lagi.
"Baik lah." Balas Bams.
"Apa kamu mau ikut besok sayang?" Tanya Bams pada Belva.
"Boleh." Balas Belva.
"Kalau begitu saya undur diri dulu Tuan, Nona." Tuan Adrian pun undur diri dari dalam ruang kerja Bams.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Seperti saat Bams belum menikah dengan Belva, jam segini Bams sedang asyik mabar dengan teman-temannya meninggalkan Belva yang uring-uringan di atas tempat tidur karena tidak bisa tidur.
Belva terus berputar-putar, kiri-kanan kanan-kiri.
"Iiiish!!! Kok ini mata gak mau diajak tidur sih!!!" Geram Belva sambil menendang selimut.
Ia menengok sisi ranjang sebelahnya, tempat biasa Bams membaringkan tubuhnya.
"Pasti lagi mabar deh!!!" Dumel Belva.
"Istri lagi hamil, bukannya di temenin sampe tidur, malah dianggurin." Rengek Belva.
Belva pun turun dari atas ranjang dan keluar dari dalam kamarnya lalu berjalan menuju ruang game Bams. Mau apalagi kalau bukan mau protes.
Bersambung...
__ADS_1