Ketika Aku Sudah Glow Up

Ketika Aku Sudah Glow Up
# 47. Copyan Bams


__ADS_3

"Owek.. owek.. owek.." suara bayi laki-laki menggelegar memenuhi ruang bersalin.


Setelah hampir dua puluh menit bertaruh nyawa mengeluarkan sosok mungil dari dalam rahimnya, akhirnya Belva berhasil melahirkan buah cintanya dengan Bams, dengan ditemani Nyonya Kalina. Lalu kemana Bams? Dia masih pingsan.


"Mah, itu suara anak Belva?" Tanya Belva saat mendengar suara tangis bayi nya.


"Iya sayang. Itu anak kamu, cucu Mama." Balas Nyonya Kalina sambil meneteskan air mata terharu.


"Kita IMD dulu yah Nona." Ucap bidan lalu meletakkan bayi laki-laki itu di atas dada Belva.


"Ya ampun, mirip banget sama Bams waktu bayi." Ucap Nyonya Kalina saat melihat wajah cucu nya.


"Untung yah Mah mirip kak Bams, kalau mirip Belva..."


"Hush!!! Gak boleh ngomong gitu!! Emang kenapa kalau mirip kamu? Kamu cantik kok, pintar, baik, attitude bagus." Potong Nyonya Kalina.


"Mama gak mau yah denger kamu ngomong gitu lagi!! Bagi Mama, kamu adalah anak perempuan Mama yang palin cantik." Lanjut Nyonya Kalina lagi.


"Maaf Mah." Balas Belva.


Sedangkan di ranjang lain tempat Bams berbaring, akhirnya Bams pun tersadar dari pingsannya.


"Eugh..." Bams mengerjapkan matanya.


"Sudah sadar Tuan Muda?" Tanya perawat yang melihat Bams membuka matanya.


"Selamat yah Tuan Muda, anaknya sudah lahir." Ucap perawat itu lagi.


"Hah, sudah lahir?" Sontak Bams pun bangun dari tidurnya dan beranjak dari atas ranjang, lalu menghampiri Belva yang sedang melakukan IMD pada bayi mereka.


"Sayang.." lirih Bams memanggil Belva.


"Sayang.. sayang.. sayang!!! Anak mau lahir malah pingsan!!!" Dumel Nyonya Kalina.


Bams tidak memperdulikan sindiran sang Mama dan terus mendekati Belva di sisi yang lain.


"Ini anak kita sayang?" Tanya Bams.


"Bukan. Anak Belva aja!! Buatnya berdua, giliran mau lahir, malah Belva berjuang sendiri!!" Sindir Nyonya Kalina lagi.


"Bams kan juga gak tau Mah bakal kayak gini!!" Balas Bams.


"Besok Mama mau saranin sama guru kelas ibu hamil, supaya para suami wajib nemenin istri pas kelas ibu hamil, biar gak ada suami yang kayak kamu." Omel Nyonya Kalina.

__ADS_1


"Eeek.." tangis kecil bayi laki-laki itu. Seolah bayi laki-laki itu mengerti kalau Ayahnya sedang di marahi sang Grandma.


"Tuh kan nangis. Jangan ngomel-ngomel Mah, anak Bams kan tau kalau kalau Ayahnya diomelin." Ucap Bams.


"Iya kan bang? Abang gak suka kan kalau Ayah dimarahin Grandma?"


"Pinter kamu yah!!" Omel Nyonya Kalina sambil menjewer pelan telinga anak semata wayangnya yang kini sudah menjadi Ayah.


"Maaf Nyonya, pakaian bayinya apa sudah ada?" Tanya perawat di tengah-tengah perdebatan Nyonya Kalina dan Bams.


"Astaga!!!" Nyonya Kalina menepuk jidatnya. Sangking paniknya, mereka sampai lupa menyuruh orang rumah untuk mengantar pakaian untuk Belva dan bayi laki-lakinya.


"Belum ada sus, tadi kan kesini cuma mau kontrol, bukan mau melahirkan makanya gak bawa apa-apa."


"Saya telepon orang rumah dulu yah, buat nganter. Gak lama kok." Ucap Nyonya Kalina.


"Iya Nyonya."


"Gara-gara kamu pingsan segala sih, Mama sampe lupa!!" Omel Nyonya Kalina lagi pada Bams, lalu keluar dari dalam ruang bersalin.


"Kakak udah gak pa-pa?" Tanya Belva setelah Mama mertuanya keluar.


"Gak pa-pa." Jawab Bams.


"Jangan ngomong gitu kak, kakak nemenin aku kok, walaupun pingsan. Aku tau kakak udah berusaha kuat, tapi emang gak bisa aja. Aku ngerti." Balas Belva.


"Kayaknya kita cukup punya satu anak aja deh Bel, aku gak sanggup ngedenger kamu kesakitan kayak tadi, sekujur tubuh aku langsung lemes Bel." Ucap Bams.


"Hish kakak gimana sih!! Katanya gak mau anak kita jadi anak tunggal, takut kesepian kayak kakak." Protes Belva.


"Tapi aku gak sanggup Bel."


"Kok aneh sih, harusnya kan aku yang ngomong gitu. Lah ini malah kakak. Kita buat satu lagi yah kak, biar si abang ada temennya." Bujuk Belva.


Bams menghela nafasnya.


"Bener yah, satu lagi. Tapi kalau nanti anak kedua, aku pingsan lagi dan gak bisa nemenin kamu, kamu jangan marah yah."


"Emangnya ada aku marah? Gak kan?" Tanya Belva sambil tersenyum.


Cup. Satu kecupan mendarat di kening Belva.


"Makasih yah sayang, sudah berjuang melahirkan anak kita. Makasih udah memberikan aku kebahagiaan yang tak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata."

__ADS_1


"Sama-sama kak. Ini kan hasil kerja keras kakak juga. Kalau aku sendiri mana mungkin bisa jadi kayak gini." Jawab Belva.


"Lihat tuh, mukanya mirip banget sama kakak." Ucap Belva lagi.


Bams pun memperhatikan wajah anaknya.


"Bukan cuma wajah yang mirip aku, sayang. Cara nyedotnya juga mirip aku." Balas Bams.


Bams tidak sadar kalau suaranya terdengar oleh bidan, perawat dan dokter yang masih ada disitu. Bidan, perawat dan dokter pun hanya tersenyum kecil sambil geleng-geleng kepala mendengar kata-kata Bams.


Ceklek. Pintu ruang bersalin terbuka. Ternyata Nyonya Kalina yang membuka pintu sambil membawa dua tas, satu tas yang berisi pakaian Belva dan satu tas yang berisi pakaian baby.


Ternyata disaat semua orang sibuk di dalam ruang bersalin, ada Tuan Simeon yang teringat dengan pakaian untuk menantu dan cucu nya itu. Tuan Simeon pun menyuruh pak supir untuk pulang ke rumah dan mengambil pakaian yang sudah disiapkan Belva jauh-jauh hari.


"Ini pakaiannya." Ucap Nyonya Kalina pada perawat sambil memberikan dua tas itu.


Perawat pun mengambil dua tas itu dari tangan Nyonya Kalina.


"Kok cepet banget Mah?"


"Papa kamu yang urus. Tapi tadi langsung di taro di kamar." Jawab Nyonya Kalina.


"Papa udah di kamar rawat?"


Nyonya Kalina menganggukkan kepalanya.


Melihat Mama dan Papa mertuanya begitu perhatian padanya, Belva pun terharu, air mata bahagia pun lolos begitu saja dari matanya.


"Loh kamu kenapa sayang?" Tanya Nyonya Kalina saat melihat menantunya menangis.


"Makasih yah Mah untuk segala kasih sayang yang udah Mama berikan untuk Belva. Mama memperlakukan Belva seperti anak Mama sendiri." Ucap Belva sambil terisak.


"Hey, memang kamu anak Mama kan. Bagi Mama kamu tuh bukan menantu sayang, tapi anak perempuan Mama. Jadi jangan berterimakasih sama Mama, justru Mama lah yang berterimakasih sama kamu karena kamu mau jadi anak perempuan Mama, ngasih Mama cucu laki-laki yang ganteng." Balas Nyonya Kalina sambil memeluk tubuh Belva lalu mengusap air matanya.


"Udah jangan nangis lagi, ibu yang baru melahirkan gak boleh stress, sedih, nanti ASI nya gak keluar loh." Ucap Nyonya Kalina lagi.


"Nanti kalau ASI kamu gak keluar, suami kamu yang keenakan!!" Sindir Nyonya Kalina sambil melirik Bams.


Bams yang sedang asyik memandang hasil mahakaryanya sontak kaget dengan apa yang Mamanya katakan.


"Kok Bams lagi sih?! Perasaan Bams diem aja dari tadi." Gerutu Bams dalam hati. Cukup dalam hati karena kalau Bams benar-benar menggerutu, pasti Mamanya akan menyindir dirinya yang tadi pingsan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2