
Mata Amora membulat sempura saat melihat Belva dan Tuan Adrian sudah duduk di sofa dengan tatapan tajam mereka.
Cepat-cepat Bams menutup pintu dan mengunci pintu itu, agar Amora tidak kabur saat diinterogasi. Setelah itu ia berjalan mendekati istrinya dan duduk di sebelah istrinya.
"No-nona Belva sudah sembuh?" Tanya Amora pura-pura.
"Kapan aku sakit?" Belva malah bertanya balik.
"Bukannya tadi Nona Belva sakit? Makanya tidak bisa menemani Tuan Bams?"
"Terus kamu senang sudah bisa bersama dengan suami saya?"
"Maksud anda apa Nona? Ini kan pekerjaan."
BUSH... Bunyi buku harian, beserta hasil lab pemeriksaan teh tadi yang Tuan Adrian lemparkan diatas meja.
Mata Amora makin membulat saja saat melihat buku harian yang di lemparkan Tuan Adrian.
"Jangan berpura-pura lagi!! Cepat katakan, siapa orang yang ingin kau balaskan dendamnya pada Nona Muda?!" Tanya Tuan Adrian dengan tatapan mengintimidasi.
"Saya tidak mengerti maksud anda, Tuan." Jawab Amora. Barang bukti sudah di depan mata tapi Amora masih saja tidak mau mengakuinya.
BRAAAK. Bams yang emosi pun menggebrak meja.
"Kau mau jujur atau ku ratakan semua usaha keluargamu dan ku seret ke penjara!!!!" Bentak Bams.
Mata Amora membulat sempura mendengar ancaman Bams.
Takut usaha keluarganya di ratakan oleh Simeon's Group dan takut dirinya di seret ke penjara, Amora pun langsung berlutut di hadapan Belva dan Bams.
"Maafkan saya Tuan, Nona. Saya salah, maafkan saya." Ucap Amora memohon.
"Saya sedang tidak mau mendengar maaf mu. Yang saya ingin tau, dendam siapa yang ingin kau balaskan pada istri saya!!" Teriak Bams emosi.
Amora bungkam, ia masih tidak mau membuka suaranya tentang hal itu.
"Oh.. gak mau jawab yah!! Oke!"
"Paman, telepon polisi. Dan suruh orang untuk menghancurkan usaha keluarga perempuan licik ini!!"
Tuan Adrian pun mengeluarkan ponselnya dari dalam saku dan bersiap menghubungi kepolisian.
"Jessica!" Teriak Amora.
Sontak Tuan Adrian pun tak jadi menghubungi pihak kepolisian dan kembali memasukkan ponselnya ke dalam sakunya.
"Apa kamu bilang? Jessica?!" Tanya Belva.
__ADS_1
"Apa hubungan mu dengan Jessica? Dan kenapa kau ingin membalaskan dendan Jessica? Memangnya apa yang di perbuat istri saya pada Jessica?" Timpal Bams.
"Bel..."
"Yang sopan kamu!!! Panggil Nona Muda!!" Bentak Tuan Adrian memberi peringatan.
"Nona Muda, apa Nona Muda tidak ingat saya? Kita pernah satu sekolah waktu SMA." Tanya Amora.
Belva mengernyitkan keningnya mencoba mengingat-ingat sosok Amora semasa SMA, hasilnya nihil, ia tak menemukan sosok Amora dalam ingatannya.
"Wajar kalau anda tidak bisa mengingat saya, karena saya juga bukan orang yang terkenal sewaktu sekolah."
"Jangan berputar-putar!!! Cepat katakan apa hubungan mu dengan Jessica?" Tanya Bams tidak sabaran.
"Jessica adalah sepupu saya, Tuan." Jawab Amora.
"Setelah Jessica di keluarkan dari kampus, Jessica depresi karena tidak bisa melanjutkan ke kampus manapun. Sangking depresinya Jessica beberapa kali pernah melakukan percobaan bunuh diri. Dan sekarang Jessica harus tinggal di rumah sakit jiwa." Amora menarik nafasnya dalam-dalam sebelum kembali melanjutkan ceritanya.
"Melihat itu saya menjadi kasihan, saya mencari tau, apa yang menyebabkan Jessica sampai di keluarkan dari kampusnya. Dan ternyata hanya masalah sepele. Karena menyebarkan video saat Nona Belva mengungkapkan cinta pada Tuan Bams." Lanjut Amora.
"Itu bukan masalah sepele Amora!! Sepupu anda itu bukan hanya merekam dan menyebarkan, melainkan mengedit dengan kata-kata hujatan sehingga membuat satu kampus menghujat Nona Belva." Timpal Tuan Adrian yang tak terima saat Amora mengatakan masalah yang di buat Jessica adalah masalah sepele.
Bams hanya menyimak pembicaraan Tuan Adrian dan Amora. Karena jujur, Bams tidak tahu tentang masalah ini.
"Lanjutkan Amora." Pinta Belva yang penasaran.
"Dan disaat tau Nona Belva telah menikah dengan Tuan Bams, saya tidak terima. Tidak terima kenapa Nona Belva harus bahagia sedangkan sepupu saya harus terisolasi di rumah sakit jiwa." Ucap Amora.
"Seharusnya, sebelum anda berniat membalaskan dendam sepupu anda, harusnya anda cari tahu dulu tentang kebenarannya." Timpal Tuan Adrian.
Amora tak menjawab, ia hanya menundukkan wajahnya.
"Saya gak ngerti, sewaktu saya belum glow up, semua orang membully saya, menghina saya, merendahkan saya, tak ada yang memandang saya. Tapi kenapa ketika saya sudah glow up, orang juga membenci saya, iri kepada saya, tidak senang dengan perubahan diri saya?"
"Itu lah sifat manusia sayang. Disaat kita lebih rendah dari orang lain, orang-orang itu tidak akan pernah menganggap kita, selalu menekan kita dengan ucapan maupun perbuatan mereka. Namun disaat kita sudah berada diatas mereka, mereka pun akan berusaha mencari kesalahan kita, memfitnah kita, dan sebagainya. Asal kita mencapai perubahan itu dengan jalan yang benar, dengan kerja keras, yakin lah, orang-orang yang memfitnah kita itu lah yang nantinya akan jatuh ke kubangan." Jawab Bams memberikan semangat pada istrinya.
"Paman, kamu tau kan apa yang harus kamu lakukan pada perempuan ini?"
"Baik Tuan, saya mengerti." Jawab Tuan Adrian.
Tuan Adrian pun berjalan mendekati Amora dan menarik Amora agar berdiri dari aksi berlututnya.
"Ikut saya." Perintah Tuan Adrian.
"Saya mau di bawa kemana Tuan?" Tanya Amora pada Tuan Adrian.
"Tuan Bams, Nona Belva, saya mohon ampuni saya, jangan hukum saya." Teriak Amora.
__ADS_1
Tapi Bams dan Belva tak memperdulikan teriakkan Amora.
"Mau di apakan Amora kak?" Tanya Belva.
"Nanti kamu juga tahu sayang." Jawab Bams.
"Udah yuk, kita makan siang. Habis itu kita pulang kerumah. Aku lagi gak mood bergelut dengan kerjaan. Aku mau gelut sama kamu aja di ranjang." Ucap Bams lagi.
"Iiikh.. apaan sih!" Belva memukul dada Bams pelan karena malu.
Sedangkan di sebuah ruangan kosong, Tuan Adrian mendudukkan Amora dengan satu kamera tepat di hadapannya.
"Ada apa ini Tuan?"
"Sekarang kamu bicara di depan kamera, seperti yang kamu katakan tadi sewaktu di ruang kerja Tuan Muda."
"Apa maksud Tuan? Kenapa saya harus berbicara lagi di depan kamera?"
"Agar satu dunia tau siapa anda." Balas Tuan Adrian dengan santainya.
Mata Amora membulat mendengar kata-kata Tuan Adrian.
"Saya tidak mau Tuan, ini sama saja mempermalukan diri saya sendiri."
"Ya sudah kalau tidak mau, maka tidak ada pilihan lain selain menyeret mu ke kantor polisi dengan tuduhan percobaan pembunuhan terhadap Nona Belva."
Makin membulat saja mata Amora.
"Tapi saya tidak pernah melakukan itu!"
"Itu katamu, tapi bukti mengatakan lain. Ini." Tuna Adrian pun mengeluarkan senjata terakhir, racun yang di temukan oleh tim pencari barang bukti, barang bukti yang sebenarnya ciptaan mereka sendiri.
"Apa itu? Saya tidak tau barang apa itu!"
"Jangan pura-pura tidak tahu barang apa ini. Barang ini kami temukan di meja kerjamu beserta dengan buku harian mu. Dan disini juga banyak sidik jarimu."
"Itu bukan punya ku!!"
Tuan Adrian menghela nafasnya.
"Baiklah, kau jelaskan saja kalau begitu di kantor polisi nanti. Kita lihat apa polisi akan percaya pada mu." Tuan Adrian pun mengeluarkan ponselnya.
"Baiklah-baiklah. Nyalakan kameranya. Saya akan berbicara. Tapi apa setelah ini saya tidak akan di hukum?" Tanya Amora.
"Tenang saja, anda bebas hukuman setelah mengatakan niat buruk anda." Jawab Tuan Adrian.
"Tapi bersiap-siaplah mendapat sangsi sosial dari masyarakat." Gumam Tuan Adrian dalam hati.
__ADS_1
Amora pun mulai menceritakan dari awal yang membuat dirinya ingin balas dendam pada Belva. Dipikiran Amora dari pada di penjara seumur hidup, lebih baik ia membuka sendiri kebusukannya.
Bersambung...