
Lima bulan kemudian.
Kini usia kandungan Belva telah memasuki bulan ke enam, perut Belva semakin membuncit dan Bams pun makin protektif pada Belva.
Orang tua Bams, Tuan Simeon dan Nyonya Kalina yang sangat bersemangat dengan kehamilan Belva pun sudah berada di Negara I, mereka sampai rela mengatur ulang jadwal mereka sampai Belva melahirkan. Maklum, ini cucu pertama mereka.
"Selamat pagi anak perempuan Mama yang paling cantik." Sapa Nyonya Kalina pada Belva saat anak dan menantunya itu baru turun dari lantai tiga.
"Loh, Mama kapan nyampe? Kok gak bilang-bilang Belva sih Mah." Dengan langkah tergesa-gesa, Belva pun berjalan mendekati Nyonya Kalina.
"Eeeeh... hati-hati jalannya." Teriak Tuan Simeon dan Bams bersamaan. Belva yang jalan, jantung dua laki-laki beda generasi itu yang hampir copot.
Sontak Belva pun berjalan dengan sangat pelan seperti kura-kura bunting.
Mendengar anak dan suaminya kompak khawatir dengan Belva, Nyonya Kalina hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Nyonya Kalina pun berjalan mendekati Belva yang sedang berjalan ke arahnya.
"Mama sama Papa sampe jam empat subuh, mau bangunin kalian gak enak." Jawab Nyonya Kalina setelah berada di dekat Belva.
Belva pun mencium punggung tangan Nyonya Kalina, setelah itu mendekati Tuan Simeon dan mencium tangan Papa mertuanya itu.
"Yuk sarapan." Ajak Nyonya Kalina.
Mereka pun berjalan menuju ruang makan. Belva berjalan dengan Nyonya Kalina terlebih dahulu. Sedangkan Bams dan Tuan Simeon ada di belakang mereka.
Sesampainya di ruang makan, Bams pun menarik kursi untuk Belva. Begitu pun Tuan Simeon, ia menarik kursi untuk istrinya.
Mereka pun mulai menyantap sarapan mereka.
"Mama denger di kantor udah ada tempat khusus untuk senam ibu hamil, benar Bams?" Tanya Nyonya Kalina.
"Iya Mah, bukan hanya senam sih Mah, tapi juga kelas ibu hamil. Daripada Belva pergi ketempat lain, ya mending Bams buka aja di perusahaan."
"Bagus itu, Papa dukung. Dulu juga Papa punya rencana seperti itu, tapi selalu lupa Papa realisasikan." Timpal Tuan Simeon dan diakhiri cengiran kuda.
"Jadi kapan jadwal kamu senam sayang?" Tanya Nyonya Kalina pada Belva.
"Nanti Mah."
"Woah. Mama mau ikut." Ucap Nyonya Kalina bersemangat.
"Uhuk.. uhuk.. uhuk.." Tuan Simeon dan Bams kompak tersedak mendengar ucapan Ibu Negara itu.
"Mama hamil?" Tanya Bams.
"Ngaco kamu!!" Malah Tuan Simeon yang memprotes.
"Emang kamu mau punya adik?" Tuan Simeon balik bertanya.
__ADS_1
Cepat-cepat Bams menggelengkan kepalanya. Siapa juga yang mau punya adik disaat dirinya sebentar lagi menjadi Ayah.
"Kalian berdua ini, memangnya kenapa kalau Mama mau ikut senam ibu hamil? Gak boleh!!!" Omel Nyonya Kalina.
"Boleh Mah, tapi kalau Mama ikut, nanti para karyawan mikirnya Mama juga lagi hamil. Mau taro dimana muka Bams, Mah!!" Balas Bams.
"Masukin kantong aja!!!" Balas Nyonya Kalina ketus.
"Pokoknya Mama mau ikutan senam ibu hamil. Dulu waktu Mama hamil kamu kan Mama gak pernah ngerasain yang namanya senam ibu hamil. Dulu waktu hamil kamu, kehidupan kita gak kayak sekarang. Paling senamnya yah nyapu, ngepel, nyikat kamar mandi, bersih sana bersih sini." Ucap Nyonya Kalina lagi.
"Oo..." Bams membulatkan mulutnya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
***
Kini Tuan Simeon-Nyonya Kalina, Belva-Bams sudah berada di perusahaan Simeon's Group.
Kedatangan Tuan Simeon di perusahaan Simeon's Group yang sangat tiba-tiba membuat para karyawan kocar-kacir.
Hanya satu orang yang terlihat biasa saja dengan kedatangan pendiri Simeon's Group itu, siapa lagi kalau bukan Tuan Adrian.
"Selamat pagi Tuan dan Nyonya Simeon." Sapa Tuan Adrian.
"Selamat pagi Adrian." Balas Tuan dan Nyonya Simeon bersamaan.
Mereka pun berjalan bersama menuju lift khusus.
"Jam sepuluh Mah." Jawab Belva.
"Adrian, apa kau tidak bisa menyuruh instruktur senam dan guru kelas ibu hamilnya datang sekarang? Aku sudah tidak sabar ingin merasakan senam ibu hamil." Ucap Nyonya Kalina.
"Hah? Nyonya Besar hamil?" Sama seperti Bams dan Tuan Simeon yang tadi kaget. Tuan Adrian pun memberi respon yang serupa.
"Ish. Memangnya kenapa sih kalau saya mau ikut senam ibu hamil dan kelas ibu hamil? Memangnya hanya ibu hamil saja yang bisa mengikuti senam dan kelas ibu hamil?" Dumel Nyonya Kalina.
"Maaf Nyonya." Balas Tuan Adrian sambil menundukkan wajahnya.
"Saya akan menghubungi instruktur senam dan guru kelas ibu hamil agar mereka datang sekarang." Ucap Tuan Adrian lagi.
Ting. Pintu lift pun terbuka tanda kalau mereka sudah sampai di lantai khusus ruang kerja Presdir dan asisten Presdir.
Begitu keluar dari dalam lift, Tuan Adrian pun menghubungi instruktur senam dan guru kelas ibu hamil agar segera datang sebelum Nyonya Besar mengamuk.
Setelah selesai menghubungi mereka, Tuan Adrian pun berjalan menuju ruang kerja Presdir.
"Apa kamu sudah menghubunginya Adrian?" Tanya Nyonya Kalina.
"Sudah Nyonya. Setengah jam lagi mereka tiba." Jawab Tuan Adrian.
__ADS_1
"Ayo Bel, kita siap-siap." Ajak Nyonya Kalina sambil menarik tangan Belva.
"Kalian bertiga, apa kalian sibuk?" Tanya Nyonya Kalina dengan tatapan mencurigakan.
Tuan Simeon yang tau arti tatapan istrinya langsung cepat-cepat menjawab.
"Iya, kami sibuk." Jawab Tuan Simeon.
"Benarkah?" Tanya Nyonya Kalina sekali lagi.
Tuan Simeon memberi kode pada Tuan Adrian dengan tatapan matanya, seolah mengatakan 'bilang sibuk!'
Tuan Adrian yang paham dengan kode yang Tuan Simeon berikan pun menjawab seperti yang Tuan Simeon minta.
"Benar Nyonya, kami sangat sibuk hari ini." Jawab Tuan Adrian.
"Benarkah? Sepertinya kita tidak terlalu sibuk hari ini. Paling hanya memeriksa dokumen, dua-tiga jam pun selesai." Celetuk Bams tanpa dosa.
Tuan Simeon dan Tuan Adrian menghela nafas panjang mereka bersamaan.
"Cih." Decih Nyonya Kalina karena tau suami dan asistennya itu sedang berbohong.
"Kalau tidak terlalu sibuk, kalau begitu ayo kita semua ikut senam dan kelas ibu hamil. Kita semua harus mendukung Belva dalam kehamilannya, karena yang ada di dalam kandungan Belva ini kan penerus Simeon Group." Ucap Nyonya Kalina.
Sontak mata Bams membulat sempurna. Rasanya ia menyesal sudah mengatakan kalau mereka tidak sibuk.
Karena selama ini Bams hanya menemani Belva senam bukan ikut senam hamil bersama Belva.
"Ayo cepat, kita siap-siap!!" Ucap Nyonya Kalina bersemangat.
Nyonya Kalina pun keluar terlebih dulu dari ruang kerja Bams bersama Belva.
"Tuan, saya izin...."
"Hey.. gak ada izin-izinan!!! Pokoknya kita bertiga harus ikut!" Ucap Tuan Simeon.
"Tapi Tuan..."
"Kalau kau memang mau izin, izin langsung sama istri saya sana." Ucap Tuan Simeon lagi.
Tuan Simeon pun berdiri dari tempat duduknya.
"Hish.. ini semua gara-gara kamu!" Omel Tuan Simeon pada Bams.
"Mana Bams tau Pah. Habis Papa cuma ngasih kode ke Paman Adrian." Jawab Bams. Bams pun mengikuti sang Papa dari belakang.
"Astaga. Istri ku hamil saja, aku tidak pernah menemani senam atau kelas ibu hamil, ini malah harus ikut senam dan kelas ibu hamil disaat istri ku sudah steril." Gumam Tuan Adrian dalam hati.
__ADS_1
Bersambung...