
Keesokan harinya.
Bams dan Belva baru saja datang sedangkan Amora sudah setengah jam lebih dulu sampai dari Belva dan Bams.
"Selamat pagi Tuan, Nona." Sapa Amora sok ramah.
"Selamat pagi Amora." Balas Bams.
"Apa kamu sudah datang dari tadi?" Tanya Belva.
"Iya Nona, saya kan orang yang menjunjung tinggi profesionalitas. Jadi meskipun jam kerja di mulai pukul delapan, setengah jam sebelum nya saya sudah harus di meja kerja saya." Jawab Amora seperti sedang menyindir Belva.
"Oh.. bagus lah. Memang harus begitu kalau mau jadi karyawan tetap di Simeon's Group." Balas Belva tak mau kalah, ia tau kalau Amora sedang menyindirnya.
Amora tak membalas ia hanya tersenyum kecut pada Belva.
"Ya sudah selamat bekerja kalau begitu. Tunjukan profesionalitas mu." Ucap Belva.
"Ayo sayang." Belva dan Bams pun masuk ke dalam ruang kerja Bams.
"Jangan terlalu kelihatan kalau kamu tidak menyukainya sayang. Nanti dia makin menunjukkan taringnya."
"Bukannya bagus kalau dia cepat menunjukkan taringnya? Atau jangan-jangan kakak suka sama dia dan ingin dia berlama-lama disini?"
"Ngomong apa sih kamu! Bukannya suka, tapi menghadapi orang licik kita harus terlihat bodoh, agar kita tau trik apa yang akan dia gunakan untuk menjatuhkan kita. Kamu paham kan?"
Meski tidak setuju dengan jalan pemikiran Bams tapi Belva tetap menganggukkan kepalanya.
Tok Tok Tok. Tiba-tiba saja pintu ruang kerja Bams terketuk.
"Masuk."
Pintu pun terbuka.
"Ini Tuan, saya bawakan kopi." Ucap Amora.
"Woaah... berinisiatif sekali kamu yah." Sindir Belva.
Amora hanya membalas dengan senyum tipis.
"Kalau begitu tolong buatkan saya jus alpukat, tiba-tiba saya ingin minum itu." Pinta Belva.
Amora menggertakkan giginya geram, ia tidak suka Belva memerintahnya.
"Nona kan bisa menyuruh office boy." Tolak Amora ramah.
"Tapi saya mau nya kamu. Kamu kan disini bekerja sebagai asisten saya, jadi apa yang saya tugaskan untuk kamu, kamu kerjakan saja!" Balas Belva tegas.
"Ia Amora, buatkan saja jus alpukat untuk istri saya." Timpal Bams.
"Baik Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu." Amora pun keluar dari dalam ruang kerja Bams.
__ADS_1
"Sial!!! Dasar dakocan tidak tau diri!!! Mentang-mentang sudah di atas, seenaknya dia menyuruh orang!!!" Geram Amora sambil melangkah menuju pantry di lantai bawah.
Di dalam ruang kerja Bams.
"Tuh kan kakak liat kan gimana tingkahnya. Belum disuruh bikin kopi aja, dia udah sok-sok an bikinin kopi untuk kakak. Giliran aku yang suruh, banyak banget alasannya!!!" Dumel Belva.
Belva pun berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu.
"Mau kemana kamu?"
"Mau keruangan Tuan Adrian! Mau protes, kenapa perempuan genit seperti Amora bisa di terima kerja di tempat ini!!" Jawab Belva.
Bams pun cepat-cepat berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Belva.
"Gak usah sayang. Tanpa kamu protes pun, Tuan Adrian juga bisa membaca gerak-gerik yang tidak baik. Kalau pun Amora punya niat jahat, sebelum niatnya itu berjalan, Tuan Adrian pasti sudah menendang Amora."
"Kalau emang bisa membaca gerak-gerik orang, kenapa Tuan Adrian nerima Amora?"
"Salah satu syarat untuk bisa bekerja di Simeon's Group selain nilai akademik yang tinggi, tes psikologi juga menjadi salah satu syarat. Mungkin hasil keduanya, Amora masuk kategori. Tapi kedua tes itu kan tidak bisa membuka niat terselubung seseorang. Jadi kamu sabar yah. Gak semudah itu orang mau menghancurkan Simeon's Group." Jawab Bams sambil memeluk Belva dan mengelus rambut Belva.
Mencium aroma maskulin dari dada Bams, membuat Belva ingin bermain jungkat-jungkit dengan Bams. Mungkin karena pengaruh hormon kehamilan yang membuat hasrat Belva gampang terprovokasi.
Merasa Belva sudah tenang, perlahan Bams pun menjauhkan Belva dari tubuhnya. Tapi Belva langsung memeluk Bams dengan erat kembali.
"Kenapa?" Tanya Bams.
Dalam pelukan Bams, Belva menggelengkan kepalanya.
Belva tak menjawab, ia hanya menggigit bibir bawahnya sambil menundukkan wajahnya malu-malu.
"Katakan, apa mau mu sayang?" Tanya Bams sekali lagi sambil mendongakkan wajah Belva.
"Mmmmm...." Belva makin hilang fokus kala melihat bibir dan rahang tegas suaminya.
Tak sanggup menahan dan tak sanggup mengatakan apa yang ia inginkan, Belva pun memilih untuk langsung mendoser bibir Bams.
Bams yang kaget dengan serangan Belva langsung menarik wajah Belva.
"Hei.. kamu kenapa?"
"Aku pengen kak." Akhirnya Belva jujur.
"Astaga. Ini kantor sayang."
"Tapi..."
Jujur, mendapat serangan dari Belva membuat naluri kelaki-lakian Bams pun meronta-ronta. Setan dalam dirinya mengatakan untuk menerobos saja meski sekarang mereka ada di kantor, tapi malaikat dalam dirinya meminta Bams untuk menunggu sampai di rumah.
"Ah shiit!!!" Umpat Bams.
Cepat-cepat ia mengunci pintu ruang kerjanya. Lalu mengunyah bibir istrinya itu dengan rakus. Bams pun menggendong Belva seperti anak koala menuju kamar yang ada di dalam ruang kerjanya.
__ADS_1
Akal sehatnya hilang seketika, kala banana nya minta di blender hingga menghasilkan banana smoothies. Maklum saja semenjak kepulangan mereka dari Negara L, banana Bams belum lagi di blender.
Sesampainya di kamar, Bams pun membaringkan Belva dengan perlahan di atas ranjang.
Tanpa basa-basi atau minta ijin seperti saat mereka melakukannya pertama kali, Bams langsung memoloskan Belva dan memoloskan dirinya.
Setelah mereka sama-sama polos, Bams pun langsung menindih tubuh Belva dan mengunyah bibir istrinya itu dengan sangat rakus.
Puas mengunyah bibir, sekarang saatnya menikmati bakpao susu. Bams pun menikmati bakpao susu milik Belva secara bergantian agar tidak ada kecemburuan sosial.
"Uh... kak, sekarang!!!" Racau Belva yang sudah tidak tahan ingin memblender banana Bams.
"Sayang, gak pa-pa nih kalau bang banana masuk? Aku takut kenapa-kenapa sama anak kita?"
"Gak pa-pa kak, kan kemaren dokter juga bilang gak pa-pa asal pelan-pelan dan banana smoothies nya buang di luar." Balas Belva.
"Oke. Ingetin aku yah kalau aku kasar." Balas Bams.
Belva hanya menganggukkan kepalanya.
Bams pun mulai mengarahkan banananya kedalam blender milik Belva.
"Sssh... aaaah.." erang keduanya saat banana Bams masuk sempurna di dalam blender.
Bams pun mulai menggerakkan pinggulnya dengan sangat lembut.
"Ganti gaya sayang." Bams pun membalikkan Belva layaknya tempe di penggorengan.
Layaknya siput nyungsep, Belva pun pasrah Bams mencangkulnya dari belakang.
Gerakan Bams yang tadinya lembut, makin lama semakin cepat dan kasar.
"Aah... kak, pelan-pelan!!" Belva mengingatkan Bams.
"Sabar sayang, udah mau keluar." Balas Bams yang sebentar lagi merasakan banana smoothiesnya hampir meledak.
"Inget buang di luar kak!!!" Sekali lagi Belva mengingatkan Bams.
"Iya sayang."
Tiga menit kemudian.
Bams cepat-cepat mengeluarkan banananya saat banana smoothiesnya sudah di ujung jalan.
"Aaargh.." erangan panjang keluar dari mulut Bams saat banana smoothiesnya menyembur keluar.
"Iikh... kak Bams, kok di buang dipunggung aku sih!!!" Omel Belva.
"Maaf sayang, gak tahan lagi." Jawab Bams.
Bersambung...
__ADS_1