
Setelah Belva dan Bams menyetujui rencananya, Tuan Adrian pun memasukkan teh yang Amora berikan pada Belva ke dalam wadah plastik.
"Jadi Nona, nanti anda tidak perlu ikut, biar Amora yang pergi bersama Tuan Muda. Anda tidak perlu khawatir Nona, ada banyak pasang mata yang memantau pergerakkan Amora, jadi tidak ada yang perlu anda khawatirkan." Ucap Tuan Adrian. Dari wajah Belva, ia tahu apa yang ada dalam hati Belva.
"Baik Tuan." Balas Belva.
"Kalau begitu saya permisi dulu." Pamit Tuan Adrian lalu keluar dari dalam ruang kerja Bams.
"Jangan gitu dong mukanya, kamu bilang mau mengungkap kebusukannya Amora, masa berkorban sebentar aja mukanya udah gak enak gitu." Bujuk Bams.
"Aku kan cemburu kak." Lirih Belva.
"Gak akan terjadi apa-apa aku sama dia nanti sayang. Kan Paman Adrian udah menjelaskan tadi." Balas Bams.
"Ayo senyum. Kalau kamu gak senyum, aku telpon nih Paman Adrian, biar aku bilang kalau rencananya di batalin aja." Ancam Bams.
Mau tak mau Belva pun tersenyum.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh kurang sepuluh menit.
"Kamu siap sayang?" Tanya Bams sebelum membuka pintu ruang kerjanya dan memanggil Amora.
Belva yang sudah berbaring di sofa dan pura-pura kesakitan menganggukkan kepalanya.
Melihat Belva menganggukkan kepalanya, Bams pun membuka pintu ruang kerjanya.
"Amora, tolong kamu ambilkan air hangat." Perintah Bams.
"Baik Tuan." Balas Amora.
Amora pun berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke tempat dispenser.
Sedangkan Bams kembali berjalan mendekati Belva dan sengaja tidak menutup lagi pintu ruang kerjanya.
Tidak sampai tiga menit, Amora pun masuk ke ruang kerja Bams.
"Ini Tuan, air hangatnya." Ucap Amora sambil menyerahkan segelas air hangat pada Bams.
"Loh, Nona Belva kenapa?" Tanya Amora pura-pura khawatir.
"Gak enak badan katanya, mungkin efek hamil muda." Balas Bams.
Tiba-tiba saja Tuan Adrian masuk ke dalam ruang kerja Bams.
"Tuan, sudah saatnya anda pergi." Ucap Tuan Adrian.
"Loh.. Nona Muda kenapa?" Tanya Tuan Adrian lagi pura-pura.
"Gak enak badan Paman." Balas Bams.
"Jadi gimana ini Paman? Tidak mungkin saya meninggalkan istri saya dalam keadaan seperti ini." Tanya Bams.
"Tuan serahkan saja pada saya, saya akan panggilkan tim medis. Tuan pergi saja dengan Nona Amora."
"Tapi kalau nanti istri saya kenapa-kenapa, gimana?"
__ADS_1
"Tenang Tuan, tidak akan terjadi apa-apa dengan Nona. Kalaupun sampai terjadi sesuatu. Saya akan langsung menghubungi anda." Jawab Tuan Adrian.
"Amora, aktivkan terus ponsel mu, manatau Tuan Muda tidak mendengar panggilan saya, jadi saya bisa langsung menghubungi kamu."
"Baik Tuan." Jawab Amora. Dalam hatinya ia sudah bersorak kegirangan, akhirnya rencananya untuk pergi bersama Bams pun berjalan lancar.
"Sayang, aku tinggal gak pa-pa kan?" Tanya Bams.
Belva menganggukkan kepalanya lemah.
"Ada Paman Adrian yang menjaga kamu sementara. Nanti kalau aku udah selesai pertemuan dengan Tuan William, kita langsung pulang kerumah."
"Iya kak. Pergi aja." Balas Belva.
"Ya udah aku pergi yah. Gak lama kok, paling hanya satu atau dua jam. Kamu sabar yah sayang." Ucap Bams lagi.
Belva menganggukkan kepalanya lagi.
Bams pun berdiri dari duduknya dan berjalan menuju meja kerjanya untuk mengambil kunci mobil dan ponselnya.
"Ayo Amora." Ajak Bams.
Amora dan Bams pun keluar dari dalam ruang kerja meninggalkan Belva dan Tuan Adrian.
Tuan Adrian memperhatikan Bams dan Amora, begitu melihat mereka masuk ke dalam lift, cepat-cepat Tuan Adrian menelpon tim yang akan mencari barang bukti kalau Amora memang mempunyai niat buruk dengan Belva. Sekalipun tidak menemukan barang bukti, mereka lah yang akan membuat barang bukti itu sendiri.
"Siapa mereka Tuan?" Tanya Belva saat melihat lima orang yang memakai jubah putih layaknya seorang dokter.
"Mereka yang akan mencari bukti niat busuk Amora, Nona." Balas Tuan Adrian sambil tersenyum.
"Baik Tuan."
"Lalu obat apa yang Amora masukkan ke dalam teh tadi?"
"Itu brooklax yang sudah di buat bubuk, Nona." Balas Tuan Adrian.
"Brooklax? Brooklax bukannya obat pencahar?"
"Benar Nona."
"Dasar Amora, niat sekali ingin menyingkirkan ku!!" Geram Belva.
"Tuan, ini." Ucap salah seorang dari kelima orang itu sambil memberikan buku harian Amora pada Tuan Adrian.
Tuan Adrian pun mengambil buku harian itu dari tangan orang itu, lalu membuka lembar perlembar sambil membaca sekilas.
"Ada apa Tuan?" Tanya Belva penasaran.
"Sepertinya Amora ingin membalaskan dendamnya untuk seseorang."
"Bisa saya lihat Tuan?"
Tuan Adrian pun memberikan buku harian Amora ke tangan Belva.
Jika Tuan Adrian hanya membuka lembar perlembar dan membaca sekilas, beda dengan Belva, ia membuka lembar per lembar dan membacanya dengan seksama.
__ADS_1
"Siapa orang yang dendamnya ingin Amora balaskan? Dan kepada siapa?" Lirih Belva.
"Yang pasti kepada anda, Nona. Tapi membalaskan dendamnya siapa, saya juga kurang tahu." Balas Tuan Adrian.
"Tuan, ada ini lagi." Ucap salah satu dari ke lima orang itu sambil memberikan satu bungkusan yang berisi serbuk. Kalau yang ini adalah barang bukti yang di buat oleh mereka sendiri.
"Apa itu? Apa itu nar koba?"
"Bukan Nona, sepertinya ini racun." Jawab orang itu.
"Hah, racun?" Bulu kuduk Belva bergidik membayangkan kalau seandainya tadi Amora memberikan itu pada Belva dan Tuan Adrian tidak memberitahu tanda bahaya. Sudah dipastikan, saat ini Belva tidak akan ada lagi di dunia.
"Sepertinya Amora menyimpan ini, kalau ia sudah benar-benar tidak punya cara lain untuk menyingkirkan anda, Nona."
"Tapi kenapa Tuan?"
"Mari kita temukan jawabannya setelah Amora datang, Nona." Jawab Tuan Adrian.
Tuan Adrian pun menghubungi Bams dan melaporkan kalau mereka sudah menemukan bukti tentang kebusukan Amora.
***
Setelah satu jam, akhirnya Bams dan Amora pun pulang ke kantor.
"Tuan, apa Tuan tidak ingin makan siang terlebih dulu? Kan tadi kita tidak ada makan, Tuan." Tanya Amora saat mereka sudah hampir sampai di kantor.
"Apa kamu lupa, istri ku sedang tidak enak badan?!"
"Kita kan bisa memesan untuk Nona Belva sekalian, Tuan."
"Nanti saja. Saya ingin istri saya yang memilihkan makanan untuk kami berdua"
"Haish!!!!" Geram Amora dalam hati.
Tak lama mobil yang Bams kendarai akhirnya sampai di gedung Simeon's Group.
Bams dan Amora pun keluar dari dalam mobil, sedangkan mobilnya di parkirkan oleh petugas valet.
Meski Bams tau Belva dalam keadaan baik-baik saja, tapi Bams tetap jalan terburu-buru. Selain untuk membuat Amora yakin kalau Belva tidak baik-baik saja, Bams juga sudah sangat merindukan istri semata wayangnya itu.
Ting. Pintu lift terbuka. Bams dan Amora pun keluar dari dalam lift.
Lantai khusus untuk Bams itu terlihat biasa saja, seperti tidak terjadi sesuatu.
"Amora, ikut saya keruangan saya." Perintah Bams setelah sampai di depan meja kerja Amora.
Tanpa banyak bertanya, Amora pun mengikuti Bams ke ruangan Bams.
Ceklek. Bams membuka pintu.
"Silahkan masuk." Ucap Bams mempersilahkan Amora masuk terlebih dahulu.
Mendapat perlakuan manis dari Bams, bukannya curiga, Amora malah kegirangan.
Amora pun masuk ke dalam ruang kerja Bams. Dan...
__ADS_1
Bersambung...