Ketika Aku Sudah Glow Up

Ketika Aku Sudah Glow Up
# 50. TAMAT


__ADS_3

"Tapi gak grasak-grusuk juga dong kak." Omel Belva.


"Ya udah, kamu aja deh yang mulai." Balas Bams sambil merentangkan kedua tangannya di sandaran sofa, lalu memejamkan matanya. Pasrah.


Belva menarik nafasnya terlebih dahulu lalu membuangnya kasar sebelum memulai memberi sengatan pada Bams.


Belva pun mendekatkan wajahnya ke wajah Bams lalu mendaratkan bibirnya ke bibir sang suami. Mengunyahnya pelan dan lembut.


Tapi sayangnya justru Bams yang tidak sabaran dengan apa yang Belva lakukan.


Bams menahan tengkuk Belva dan memperdalam kunyahan bibir mereka, tidak ada lagi kunyahan yang lembut seperti yang Belva lakukan di awal dan kata-kata Bams yang menyuruh Belva untuk memimpin permainan. Karena ujung-ujungnya Bams lah yang mendominasi.


Tangan Bams pun sudah tak bisa diam, tangan yang kini sudah mahir memoloskan dan memuaskan Belva mulai menyusup ke balik sleepwear Belva.


Belva yang tidak memakai saringan susunya membuat Bams tidak perlu bersusah payah membuka pengait saringan susu. Tangan mahir itu pun langsung mere mas bakpao susu yang kini terdapat susu cair di dalamnya.


"Aah.. kak.." Belva bukan mendes ah, melainkan meringis karena ia merasa susu cairnya yang belum banyak berproduksi itu ingin keluar.


Tau kalau suara yang di keluarkan istrinya bukan des ahan, Bams pun menghentikan aksinya.


"Kenapa?" Tanya Bams.


"Kayaknya susunya mau keluar deh kak, ngilu-ngilu gimana gitu." Jawab Belva.


Mendengar itu, cepat-cepat Bams menaikkan sleepwear Belva.


"Kakak mau apa? Itu punya Bian kak." Ucap Belva memberi peringatan pada Bams.

__ADS_1


"Biar keluarnya makin deras sayang, jadi biar aku bantu sedot." Balas Bams.


Dan tanpa banyak bicara lagi, Bams pun menyedot susu cair cap nona milik Belva.


Ada rasa enak, geli, ngilu yang Belva rasakan saat Bams menyedot susunya.


"Tangan kamu sambil kerja dong sayang. Jangan cuma mau menerima, tapi juga harus memberi." Ucap Bams di sela-sela aktifitasnya menyusu.


Belva yang paham pun memasukkan tangannya ke balik jeruji kain tempat banana Bams di sembunyikan.


Mulut Bams bekerja, tangan Belva pun ikut bekerja memijat pelan banana Bams.


"Aku gak tahan lagi sayang. Sekarang." Ucap Bams.


Cepat-cepat Bams membuka kain yang menempel di bagian bawahnya sehingga mempertontonkan banana Bams yang sudah berubah menjadi pisang tanduk.


"Kok dilihatin doang? Ayo cepet di icip." Ucap Bams.


"Pake tangan aja yah kak, kayaknya gak muat kalau pake mulut."


"Muat sayang. Coba deh."


"Nanti robek lagi mulut aku."


"Gak akan sayang. Udah ayo cepetan, gak tahan lagi nih." Balas Bams sudah sangat tidak sabaran.


Meski sedikit ragu dan takut, tapi Belva tetap memajukan wajahnya mendekati pisang tanduk suaminya.

__ADS_1


Perlahan tapi pasti, Belva membuka mulutnya dan memasukkan pisang tanduk ke dalam mulutnya.


"Ssh... ah..." des ah Bams saat pisang tanduknya masuk ke dalam goa bergigi Belva.


Bams pun membantu menggerakkan kepala Belva dengan lembut. Gerakan yang tadinya pelan, lama kelamaan menjadi cepat dan tak beraturan.


"Hemph..." ronta Belva sambil memukul lengan Bams agar Bams berhenti menggerakkan kepalanya dengan sangat cepat.


Tapi Bams tidak memperdulikan rontaan Belva.


"Tahan sayang, sebentar lagi." Ucap Bams.


Sedangkan Belva terus meronta minta di lepaskan.


"Ssh... aaaargh..." erangan panjang pun keluar dari mulut Bams saat banana smoothies berhasil tumpah dengan sempurna di dalam mulut Belva.


Cepat-cepat Belva berlari ke dalam kamar mandi dan memuntahkan banana smoothies yang Bams tumpahkan kedalam mulutnya lalu mencuci mulut dan pabrik susunya yang tadi sempat terkontaminasi dengan mulut Bams.


"Nyebelin!!" Gerutu Belva sambil menyeka mulutnya.


Setelah membersihkan mulut dan pabrik susunya, Belva pun keluar dari dalam kamar mandi.


Belva yang tadinya mau mengomel karena Bams menumpahkan banana smoothiesnya di dalam mulut Belva, niatnya itu ia urungkan saat melihat penampakan Bams yang sedang telaten mengganti popok Bian.


Ternyata, saat Belva ada di dalam kamar mandi, Bian terbangun karena popoknya yang sudah penuh.


"Aku tak menyangka kalau hidup ku bisa seperti ini. Di kelilingi orang-orang yang sangat menyayangi ku, di anugerahi suami yang sangat mencintai ku dan anak yang begitu tampan dan lucu." Gumam Belva dalam hati.

__ADS_1


TAMAT.


__ADS_2