
"Aakh... Kak, aku..." racau Belva saat merasakan ada sesuatu yang ingin keluar dari tubuhnya.
"Sama-sama sayang." Balas Bams karena dia juga merasakan sesuatu ingin keluar dari dalam tubuhnya.
Dan...
"Aaargh...." erangan panjang keluar dari mulutnya.
Bams pun ambruk seketika diatas tubuh Belva.
"Makasih sayang..." ucap Bams.
Belva tidak menjawab, ia hanya melingkarkan tangannya di leher Bams.
"Kenapa? Mau lagi?" Goda Bams.
"Ish... apaan sih!" Balas Belva malu-malu.
Setelah milik Bams sudah kembali ke bentuk semula, Bams pun mengeluarkan miliknya dari dalam milik Belva lalu membaringkan tubuhnya di sebelah Belva, lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka yang polos.
Bams menarik tubuh Belva ke dalam pelukannya dan mereka pun tidur dengan berpelukan.
***
Keesokan paginya.
"Eugh..." lenguh Belva sambil mengerjapkan matanya.
"Selamat pagi sayang." Ucap Bams yang sejak tadi memperhatikan Belva.
"Selamat pagi kak." Balas Belva.
"Kakak gak kerja?"
"Gimana mau kerja, kalau kamu menggoda begitu." Jawab Bams sambil menunjukkan bagian dada Belva yang menyembul.
Belva mengikuti arah pandang Bams.
"Ish... mesum!!" Omel Belva sambil menaikkan selimut.
"Aku kan mesumnya sama istri sendiri sayang. Jatuhnya tuh malah ibadah." Balas Bams.
"Kakak gak kerja?" Tanya Belva sekali lagi.
"Kamu mau ikut?"
"Mau sih. Tapi...."
"Tapi apa?"
"Tapi aku gak bawa pakaian. Aku kesini kan buru-buru, jadi gak inget bawa pakaian." Jawab Belva.
"Kita kan bisa pesan." Balas Bams.
Bams pun mengangkat gagang telepon dan menghubungkan ke layanan kamar. Lalu Bams meminta layanan kamar untuk membelikan pakaian dan pakaian dalam untuk Belva.
"Beres." Ucap Bams sambil menutup teleponnya.
"Mandi yuk." Ajak Bams dengan tatapan tak biasa.
Belva tau apa maksud ajakan suaminya itu.
"Kakak duluan aja." Jawab Belva.
"Tapi aku mau mandi bareng kamu. Biar ada yang gosok in punggung aku."
"Ish... selama ini juga bisa kan gosok sendiri."
"Gak bersih sayang." Balas Bams.
"Udah ayo." Bams pun turun dari atas ranjang, lalu memutar langkah kakinya ke sisi dimana Belva berada dan langsung menggendong istrinya itu.
__ADS_1
"Aargh... kak turunin!!" Teriak Belva.
Bams tidak menghiraukan teriakan Belva dan terus melangkah menuju kamar mandi.
Setelah di dalam kamar mandi, Bams langsung mendudukkan Belva di wastafel.
Bams menangkup wajah Belva dengan kedua tangannya, lalu perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Belva.
Cup. Bibir Bams pun mendarat dengan mulus di bibir Belva.
"Iikh... kak." Protes Belva sambil mendorong tubuh Bams.
"Kenapa?"
"Katanya mau mandi."
"Gak pa-pa lah sebelum mandi kasih keluar keringat dulu."
"Kan semalem udah dua kali."
"Kurang sayang. Pengen lagi. Ya..ya..ya."
"Tapi kan...."
Belum selesai Belva mengucapkan protesnya, Bams langsung menarik tengkuk Belva dan mengunyah bibir Belva.
Kalau sudah seperti itu, Belva bisa apa, selain meladeni apa mau suaminya. Dan pagi itu mereka pun kembali melakukannya di kamar mandi.
***
Waktu berlalu, setelah satu bulan berada di Negara L, akhirnya mereka pulang ke negara asal mereka.
Dan disini lah mereka sekarang, di perusahaan Simeon's Group.
Hari ini ada yang tak biasa dari Belva, biasanya Belva penuh semangat, tapi hari ini Belva terlihat sangat lemas.
"Selamat pagi Nona Belva." Sapa Tuan Adrian.
"Selamat pagi Tuan Adrian."
"Apa anda sakit Nona?" Tanya Tuan Adrian karena melihat wajah Belva yang pucat.
Belva menggelengkan kepalanya.
"Tidak Tuan, cuma lagi lemes aja. Mungkin efek perjalanan panjang." Jawab Belva.
Tuan Adrian manggut-manggut saja, masuk akal karena Belva dan Bams baru kemaren pulang dari Negara L.
"Ya sudah, saya ke ruang kerja Tuan Muda dulu." Ucap Tuan Adrian.
Belva menganggukkan kepalanya.
Ceklek. Tuan Adrian membuka pintu ruang kerja Bams.
"Selamat pagi Tuan Muda."
"Selamat pagi Paman." Balas Bams.
"Tuan Muda, tadi saya melihat wajah Nona Belva pucat sekali. Apa tidak sebaiknya Nona Belva beristirahat di rumah?"
"Tadi saya sudah menyuruhnya untuk tidak bekerja Paman, tapi dia tidak mau. Katanya bosan kalau hanya di rumah saja." Jawab Bams.
"Tapi kalau saya boleh kasih saran, sebaiknya Nona Belva beristirahat di rumah saja, takutnya nanti makin drop."
"Iya Paman, terimakasih. Nanti saya akan mencoba membujuknya lagi." Jawab Bams.
Tuan Adrian tak lagi membahas tentang Belva dan memberikan berkas-berkas yang harus ditanda tangani oleh Bams.
Setelah urusan dengan Bams selesai, Tuan Adrian keluar dari ruang kerja Bams.
"Astaga, Nona Belva." Teriak Tuan Adrian saat melihat Belva terkapar di samping meja kerjanya.
__ADS_1
Mendengar teriakan Tuan Adrian, Bams pun berdiri dari tempat duduknya dan berlari keluar untuk melihat Belva.
"Bel... Belva... Belva sayang." Bams menepuk-nepuk pipi Belva. Tapi Belva sama sekali tak merespon.
"Kita bawa saja kerumah sakit Tuan."
"Iya Paman." Bams pun menggendong Belva.
Setelah hampir lima belas menit, mobil yang di kendarai Tuan Adrian pun tiba juga di pelataran rumah sakit.
Sudah ada tim medis yang menunggu kedatangan Bams disana.
Begitu pintu mobil terbuka, tim medis pun langsung membaringkan Belva ke brankar dan membawa Belva masuk ke ruang pemeriksaan.
Lima menit kemudian.
"Bagaimana dok? Istri saya sakit apa?" Tanya Bams.
"Nona Muda tidak sakit apa-apa Tuan Muda.." belum juga dokter itu menyelesaikan kata-katanya, Bams sudah menyela.
"Bagaimana tidak sakit, orang jelas-jelas istri saya pingsan!!" Teriak Bams kesal.
"Tenang Tuan, kita dengar kan dulu penjelasan dokter." Ucap Tuan Adrian menenangkan Bams.
"Nona Muda tidak sakit Tuan, melainkan Nona Muda sekarang sedang berbadan dua." Ucap dokter.
Mata Bams mengerjap, ia seperti diantara dua alam, alam nyata dan alam mimpi.
"A-apa tadi dokter bilang? Is-istri saya..."
"Iya Tuan Muda, Nona Muda sedang hamil." Ucap dokter.
"Selamat Tuan Muda." Ucap dokter itu lagi sambil menyalam tangan Bams lalu pergi dari hadapan Bams.
"Tuan Muda." Tuan Adrian menepuk pundak Bams karena Bams malah terbengong di tempatnya.
"Apa ini nyata Paman? Belva hamil? Aku akan jadi ayah?" Tanya Bams masih tak percaya dengan apa yang tadi dokter katakan.
"Iya Tuan Muda, Nona Belva sedang hamil dan Tuan Muda akan menjadi seorang Ayah. Selamat Tuan Muda." Jawab Tuan Adrian.
"Sekarang masuk lah Tuan Muda, temani Nona Belva di dalam." Ucap Tuan Adrian.
Bams menganggukkan kepalanya lalu masuk kedalam ruang pemeriksaan tempat Belva masih terbaring.
Ceklek. Bams membuka pintu.
Mendengar suara pintu terbuka, Belva yang sudah sadar pun menoleh ke arah pintu.
"Kak..."
"Bel..."
Bams langsung memeluk Belva dan menangis, menangis bahagia tentunya.
"Aku..."
"Iya sayang, aku tau. Makasih yah sayang." Ucap Bams.
"Mulai sekarang kamu gak boleh makan sembarangan. Dan kamu gak usah kerja lagi, kamu di rumah aja."
"Iiish.. bosen kak kalau aku di rumah terus!!!"
"Tapi kamu lagi hamil Bel, aku gak mau terjadi apa-apa dengan kamu dan anak kita."
"Pokoknya aku mau tetap kerja, titik!"
"Oke. Aku akan cari sekretaris lain yang akan bantu kamu, jadi kamu gak terlalu capek. Gimana? Setuju?"
Belva berpikir sejenak lalu menganggukkan kepalanya menyetujui usul suaminya itu.
Bersambung...
__ADS_1