Ketika Aku Sudah Glow Up

Ketika Aku Sudah Glow Up
# 49. Bams Tidak Sabaran


__ADS_3

Tiga hari kemudian.


Belva dan Bian kini sudah pulang kerumah utama Simeon.


Dan kamar khusus Bams untuk bermain game harus Bams relakan untuk menjadi kamar putra nya.


Kamar itu pun sudah Bams sulap dengan wallpaper action figur kesukaan Bams. Tetap saja, sekalipun itu kamar untuk Bian, action figur kesukaan Ayahnya yang menghiasi kamar Bian.


Meski Bian sudah di sediakan kamar, tapi tetap saja Bian akan tidur bersama orangtuanya. Bukan hanya tidur, bahkan Belva belum mau menggunakan jasa baby sitter untuk membantunya. Selain karena ingin menciptakan bonding dengan Bian, lagipula ada Mama mertuanya dan asisten rumah tangga yang akan membantunya, jadi Belva merasa memakai jasa baby sitter hanya membuang-buang uang. Apalagi baru-baru ini sedang viral baby sitter yang menjadi selingkuhan majikan dan Belva tidak mau sampai hal itu terjadi pada rumah tangganya.


Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari.


Belva dan Bian juga sudah tertidur pulas, tapi tidak dengan Bams, ia gelisah tidak bisa tidur. Apalagi yang tidak bisa membuat Bams tidak bisa tidur kalau bukan karena banana smoothiesnya sudah empat hari tidak keluar.


Bams berguling ke kanan lalu ke kiri, tengkurap lalu tak lama telentang lagi.


"Haish!!!" Bams yang merasa frustasi pun mendudukkan dirinya lalu menoleh kesampingnya di mana Belva sedang tertidur. Atau lebih tepatnya pura-pura tidur.


Siapa yang bisa tidur jika orang di sebelah kita terus bergerak tak mau diam, untung saja Bian yang tidur satu ranjang dengan Bams dan Belva tidak terbangun karena ulah sang Ayah.


Melihat Belva yang tertidur, malaikat dalam diri Bams mengatakan untuk tidak mengganggu Belva. Kasihan, bisik malaikat.


Tapi merasakan jiwa kelaki-lakiannya yang ingin mengolah pisang menjadi banana smoothies, setan dalam diri Bams juga tak kalah hebatnya menghasut Bams.


Setelah tidak terlalu lama memandang Belva, akhirnya setan lah yang menjadi pemenang dalam pergumulan jiwa kelaki-lakian Bams.

__ADS_1


Bams mendekatkan dirinya ke tubuh Belva yang sedang membelakanginya.


"Bel..." bisik Bams di telinga Belva.


"Mmmm..." balas Belva dengan mata yang masih tertutup.


"Tolong aku sayang." Bisik Bams lagi.


Belva pun berpura-pura mengerjapkan matanya.


"Tolong apa kak? Kakak laper?" Tanya Belva.


Bams menggelengkan kepalanya.


"Terus apa?" Tanya Belva sambil mendudukkan dirinya.


"Ish.. kakak!!" Omel Belva sambil menarik kembali tangannya.


"Tolong.." mohon Bams dengan wajah memelasnya.


Melihat wajah memelas suaminya, Belva mana sanggup untuk menolak. Tapi Belva baru ingat kalau goa kramat nya masih tahap renovasi.


"Tapi kan belum bisa kak."


"Kan bisa pake tangan sama pake..." Bams menunjuk mulutnya.

__ADS_1


"Aakh.. gak mau, jijik." Tolak Belva.


"Kok jijik sih, gak bau kok banana nya. Yah sayang, please." Mohon Bams.


Belva diam sejenak nampak menimbang-nimbang permintaan Bams.


"Ya udah deh, ayo." Balas Belva.


Mendapat persetujuan dari Belva, cepat-cepat membuka celananya.


"Eh.. jangan disini kak, nanti Bian keganggu." Omel Belva karena melihat Bams membuka celananya.


"Ya udah, kita di sofa aja. Ayo." Bams yang sudah tidak sabaran pun menarik tangan Belva.


Belva hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya yang tidak sabaran.


Sesampainya di sofa, Bams langsung menarik tangan Belva sampai istrinya itu terduduk di pangkuannya.


Dengan tidak sabaran Bams langsung menarik tengkuk Belva dan mengunyah rakus bibir Belva.


"Hemph..." Belva mendorong tubuh Bams sekuat tenaga sampai kunyahan bibir suaminya itu terlepas.


"Pelan-pelan kak." Protes Belva.


"Gak tahan lagi sayang." Balas Bams.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2