Ketika Aku Sudah Glow Up

Ketika Aku Sudah Glow Up
# 35. Amora


__ADS_3

Seminggu kemudian.


Setelah penyeleksian yang cukup ketat, akhirnya sekretaris untuk membantu Belva sudah terpilih. Amora, nama wanita yang akan membantu Belva.


"Ini meja mu. Sedangkan Nona Belva akan berada di dalam ruang kerja Tuan Muda." Ucap Tuan Adrian.


Belva dan Bams belum datang.


"Baik Tuan." Jawab Amora.


Tak lama, Bams dan Belva pun datang.


"Selamat pagi Tuan Muda, Nona Belva." Sapa Tuan Adrian.


"Selamat pagi Paman, Tuan Adrian." Balas Bams dan Belva.


"Kenalkan Tuan, Nona, ini adalah sekretaris yang akan membantu Nona Belva." Ucap Tuan Adrian.


"Kenalkan nama saya Amora Tuan, Nona." Ucap Amora memperkenalkan diri.


"Baik Amora, saya rasa Paman Adrian sudah memberitahu pekerjaan mu disini."


"Iya Tuan."


"Semoga kamu tidak mengecewakan saya." Ucap Bams lagi lalu berjalan ke dalam ruang kerjanya.


"Selamat bekerja Amora." Ucap Belva ramah, lalu menyusul Bams ke dalam ruang kerja suaminya itu.


"Baiklah, sekali lagi selamat bekerja Nona Amora." Ucap Tuan Adrian, lalu pergi dari hadapan Amora.


"Hish, ngapain sih si dakocan itu harus seruangan sama Kak Bams!!" Geram Amora pelan setelah Tuan Adrian pergi.


"Lihat saja nanti, gue pasti bisa ngerebut Kak Bams dari si dakocan itu!!" Katanya lagi.


Amora pun duduk di mejanya. Tak lama setelah Amora duduk, Belva pun keluar dari ruang kerja Bams.


"Ada yang bisa di bantu Nona?" Tanya Amora ramah.


"Saya mau bikinin kopi buat Tuan Bams." Jawab Belva.


"Oh.. biar saya saja Nona."


"Gak usah, biar saya saja."


"Gak pa-pa Nona, biar saya saja Nona tunggu saja, kata orang kalau lagi hamil muda gak boleh lama berdiri."


"Ya sudah. Gulanya satu sendok saja yah."


"Baik Nona."


Belva pun kembali masuk ke dalam ruang kerja Bams dan Amora berjalan ketempat mesin kopi berada.


Lima menit kemudian.


Tok.. Tok.. Tok..

__ADS_1


Amora mengetuk pintu ruang kerja Bams.


"Masuk."


Ceklek. Dengan lenggak-lenggok bak model, Amora berjalan ke arah meja kerja Bams dengan nampan yang berisi secangkir kopi.


"Ini kopinya Tuan." Ucap Amora sambil meletakkan kopi diatas meja kerja Bams.


Sedangkan dari mejanya, Belva menatap tidak suka pada Amora semenjak Amora masuk ke dalam ruang kerja Bams, di mata Belva, cara jalan Amora dan cara bicara Amora sangatlah di buat-buat.


"Ekhem." Belva berdehem agar Amora sadar ada dirinya diruangan itu.


"Cih." Decih Amora dalam hati.


"Saya permisi Tuan, Nona." Pamit Amora lalu keluar dari ruang kerja Bams.


Setelah Amora keluar, Belva pun berjalan mendekat ke meja kerja Bams.


"Aku gak suka deh kak sama Amora." Ucap Belva.


"Kenapa?"


"Dia kayak genit gitu."


"Perasaan kamu aja itu sayang. Lagian mau dia genit-genit gimana juga aku gak bakal tertarik, dimata aku cuma kamu yang paling menggoda." Balas Bams.


"Tapi kalau nanti dia ngelakuin hal-hal yang nekat untuk dapetin kamu gimana?"


"Jangan berpikiran negatif dulu sayang. Amora kan baru sehari kerja, nanti kalau dia udah menunjukkan gelagat yang aneh baru kita berhentikan dia."


Belva pun diam. Meski ia memiliki firasat buruk tentang Amora, tapi ia berusaha untuk berpikir positif.


***


Belva dan Bams keluar dari dalam ruang kerja.


"Selamat siang Tuan, Nona."


"Kamu gak makan siang?" Tanya Belva.


"Iya Nona, ini saya mau turun." Jawab Amora.


"Oh.." Belva hanya membulatkan mulutnya.


"Ayo sayang." Ajak Bams.


Belva dan Bams pun berjalan menuju lift. Dan dengan tidak tau malunya Amora juga mengikuti Belva dan Bams dari belakang.


Kini Belva dan Bams sudah berada dalam lift.


Tapi Amora masih berdiri di depan pintu lift.


"Kamu gak masuk?" Tanya Bams.


"Tuan dan Nona saja duluan yang turun." Ucap Amora pura-pura merasa tidak enak hati.

__ADS_1


"Udah masuk saja, kita sama-sama turun." Balas Bams.


Dengan gaya sok malu-malu, Amora pun masuk ke dalam lift dan dengan tidak tahu malunya berdiri di sisi kiri Bams.


Melihat itu, Belva yang memang sudah mempunyai firasat tidak enak dengan Amora, langsung pindah ke sisi kiri Bams.


"Apa sih?" Tanya Bams pelan saat Belva menggeser tubuhnya.


"Aku gak suka aja di sebelah kanan kamu, kayaknya anak kita maunya di sebelah kiri kamu." Jawab Belva dengan suara yang sengaja di buat meninggi dan di buat manja.


Amora yang terpaksa harus mundur ke belakang Bams dan Belva pun hanya memutar bola matanya malas sambil berdecih dalam hati.


Ting. Pintu lift terbuka.


"Tuan dan Nona mau makan di kantin? Kalau iya, biar saya aja yang pesan." Ucap Amora.


"Iya-Tidak!!" Jawab Bams dan Belva bersamaan.


"Kamu gak mau makan di kantin? Tadi kamu bilang mau makan di kantin aja." Tanya Bams.


"Udah gak selera. Kayaknya anak kita mau makan di luar." Jawab Belva sambil mengelus perutnya.


"Oh.. ya udah."


"Kami makan di luar saja." Ucap Bams pada Amora.


"Baik lah Tuan."


Bams dan Belva pun berjalan keluar dari gedung Simeon's Group meninggalkan Amora yang geram melihat kemesraan Bams dan Belva.


"Ini gak bisa di biarin!!! Gue harus secepatnya nyingkirin si dakocan itu!!!" Gumam Amora dalam hati sambil mengepalkan tangannya.


Amora adalah adik sepupu Jessica. Selain adik sepupu Jessica, Amora juga merupakan teman satu sekolah Belva sewaktu SMA hanya saja sewaktu SMA Amora tidak seperti siswa lain yang ikut membully Belva, Amora merupakan murid yang pendiam dan kutu buku. Sangking pendiamnya, tak ada satu pun murid yang ingat dengan sosok Amora.


Tapi begitu mendengar kabar bahwa Jessica di keluarkan dari kampus karena menyebar video tentang Belva yang menembak Bams, darah Amora mendidih. Apalagi dari awal Amora juga tidak menyukai Belva. Dimata Amora, Belva sengaja membuat dirinya jelek untuk mencari perhatian.


***


Di restoran.


"Harusnya dari tadi kamu bilang dong sayang kalau mau makan di restoran. Kan aku bisa reservasi dulu. Kita jadi harus makan di table umum kan?"


"Ya gak pa-pa lah kak, aku malah lebih suka."


"Tapi kan kita makan jadi gak nyaman sayang."


"Gak nyaman kenapa? Waktu di Negara L aja kita makan gak pernah di private room, tapi makannya nyaman-nyaman aja kok."


"Beda dong sayang. Kalau di luar negri kan orang-orangnya gak ada yang suka urus urusannya orang, kalau disini.. Tuh kamu lihat aja, semua mata mengarah sama kita sekarang." Jawab Bams.


Belva pun melirik ke sekelilingnya dan benar saja ternyata sekarang mereka sedang menjadi pusat perhatian pengunjung restoran.


"Terus gimana dong?"


"Ya mau gimana lagi. Udah lah makan aja." Jawab Bams pasrah.

__ADS_1


Meski risih dengan tatapan orang, mau tak mau mereka tetap meneruskan makan siang mereka di tempat itu.


Bersambung...


__ADS_2