
Dan disini lah pasangan pengantin baru itu, di meja kerja mereka masing-masing.
KRIIIING. Bunyi nada dering panggilan masuk di ponsel Belva.
Belva pun mengambil ponsel itu.
"Siapa ini?" Gumam Belva saat melihat tak ada nama si pemanggil.
Karena penasaran Belva pun menggeser tombol hijau.
"Halo."
"Halo Bel, ini gue Hanna. Masih inget gak loe sama gue?" Tanya perempuan yang melakukan panggilan padanya.
Ternyata yang menghubungi Belva adalah teman semasa SMA nya.
"Hanna? Hanna anak SMA XXX?" Tanya Belva.
"Iya bener. Iikh seneng deh ternyata loe masih inget gue." Jawab Hanna.
"Kamu tau nomor ponsel aku dari mana?"
"Dari Cellia. Aku maksa dia untuk ngasih nomor kamu." Jawab Hanna.
"Aku baru tau loh Bel, kalau ternyata Cellia itu sepupu kamu. Dia tuh jahat banget yah sampe gak ngakuin kamu sepupunya. Untung aja aku nonton berita waktu pernikahan kamu dengan pewaris Simeon's Group." Ucap Hanna.
"Cih.. dasar penji•lat!!!" Gumam Belva dalam hati.
"Jadi intinya kamu hubungin aku ini apa sekarang?" Tanya Belva.
"Mmm... gini loh Bel, bisa gak kamu masukin aku ke perusahaan Simeon's Group? Pasti bisa lah yah, kan kamu udah jadi Nyonya Muda di keluarga Simeon's Group."
Mendengar permintaan Hanna, Belva pun tersenyum licik.
"Sekarang aja kalian baru mandang aku!!!" Gumam Belva dalam hati.
"Oke. Saat nya bermain-main dengan kalian!!" Gumam Belva lagi.
"Oh.. itu, itu mah gampang. Kamu kumpulin aja temen-temen yang mau masuk di Simeon's Group. Biar aku kasih sama suami aku, nanti suami aku yang nempatin mereka dimana. Tapi kamu mau kan di tempatin dimana aja? Kamu kan tau Simeon's Group banyak banget anak perusahaannya."
"Mau lah Bel. Dimana pun di tempatkan, pasti aku mau dan aku yakin temen-temen yang lain juga mau." Jawab Hanna kesenangan.
"Oke. Kalau gitu kamu kumpulin aja yah temen-temen yang mau kerja di Simeon's Group dan yang mau di tempatkan dimana aja." Ucap Belva.
"Maksimal berapa orang nih?"
"Sekitar dua puluh orangan lah." Jawab Belva.
__ADS_1
"Oke. Secepatnya aku kasih kabar ke kamu." Balas Hanna.
Panggilan pun berakhir.
Belva pun terus tersenyum licik membayangkan apa yang akan ia lakukan pada dua puluh orang teman-temannya semasa SMA itu. Belva yakin, Hanna pasti akan mengajak sembilan belas orang yang waktu itu ada di acara reunian.
Sedangkan di dalam ruang kerjanya, ada Bams yang sedang menunggu pesanannya datang. Pesanan yang ia tujukan untuk Belva.
Tadi begitu ia sampai di ruang kerjanya, Bams langsung mencari informasi untuk mengambil hati wanita dari situs pencarian.
Dan dari informasi yang ia dapatkan langkah pertama adalah dengan memberikan bunga, cokelat atau boneka.
Tanpa pikir panjang, Bams pun langsung memesan online toko bunga dan memesan bunga yang melambangkan rasa cinta, sekalian juga ia memesan cokelat dan boneka dari toko itu.
Setelah melakukan pembayaran, baru lah Bams tenang melanjutkan pekerjaannya.
Sekarang tinggal menunggu pesanan itu sampai di meja kerja Belva.
Tak sampai dua puluh menit atau lebih tepatnya sepuluh menit setelah Belva mengakhiri panggilannya dengan Hanna, pesanan Bams pun datang.
"Nona Belva, ini ada kiriman untuk Nona." Ucap seorang office girl.
"Dari siapa?"
"Gak tau, gak ada namanya Nona."
Belva mencari nama si pengirim di bunga, tidak ada. Lalu mencari nama si pengirim di boneka, juga tidak ada. Belva pun membuka kotak berbentuk hati yang berisi cokelat, ternyata ada kartu di dalamnya.
Belva mengambil kartu itu dan membukanya.
Kamu adalah orang terakhir yang ada dalam pikiran ku sebelum aku tidur dan orang pertama yang ada dalam pikiran ku ketika aku bangun pagi.
Walaupun tidak ada yang bisa kamu percaya di dunia ini, tapi percayalah akan satu hal, aku mencintai mu sepenuh hati ku.
Bams.
"Kak Bams." Lirih Belva sambil melirik ruang kerja Bams.
Hati Belva meleleh seketika mendapat kata-kata cinta dari Bams. Tapi sekali lagi rasa takut Bams mempermainkannya lagi membuat Belva tak berani meruntuhkan benteng yang sudah ia bangun untuk tidak lagi terbawa perasaan pada Bams.
Belva berdiri dari tempat duduknya. Lalu berjalan menuju ruang kerja Bams.
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Belva langsung membuka pintu ruang kerja suaminya itu dan masuk ke dalam.
Melihat pintu ruang kerjanya terbuka sontak Bams pun mengalihkan pandangannya ke pintu.
Bams tersenyum saat melihat Belva membawa bunga, cokelat dan boneka yang ia pesan tadi.
__ADS_1
"Ini dari anda kan Tuan Muda Bramasta?" Tanya Belva begitu ia berdiri tepat di depan meja kerja Bams.
"Gak usah formal gitu Bel." Protes Bams karena panggilan Belva padanya.
"Ini kantor Tuan. Bukannya Tuan Muda sendiri yang selalu mengatakan harus profesional."
"Iya, tapi kan kamu istri aku sekarang."
"Saya menjadi istri Tuan, kalau saya ada di rumah. Kalau di kantor, hubungan kita hanya sebatas atasan dan bawahan."
"Oke... oke... oke. Terus ada apa perlu apa kamu datang keruangan saya? Apa saya punya jadwal meeting?"
"Ini. Saya tidak bisa menerima ini." Belva meletakkan pemberian dari Bams ke atas meja kerja Bams.
"Kenapa?"
"Karena anda mengirimnya saat jam kantor."
Bams menghela nafasnya sambil memijat pangkal hidungnya.
"Bel, tolong yah, masalah sepele seperti ini tidak usah di perpanjang. Ambil lah bunga, cokelat dan boneka ini."
"Maaf, saya tidak bisa Tuan. Saya tidak mau jadi bahan omongan para karyawan. Apa kata para karyawan yang lain kalau mereka tau kalau Presdir mereka mengirimkan hadiah untuk istrinya yang notabene adalah sekretarisnya. Pasti yang ada di pikiran mereka Tuan sangat tidak profesional."
"Baik lah kalau itu mau mu. Kalau begitu, saya simpan dulu semua ini dan nanti jam istirahat saya akan memberikannya lagi." Jawab Bams mengalah. Lebih baik mengalah dari pada harus melanjutkan perdebatan yang menguras emosi ini.
Tanpa sepatah kata Belva pun keluar dari ruang kerja Bams.
"Kamu terlalu profesional sayang!!! Masa masalah begini saja di besar-besar kan!!!" Dumel Bams begitu Belva keluar dari ruang kerjanya.
***
Jam makan siang pun tiba.
Cepat-cepat Bams membereskan meja kerjanya, lalu keluar dari ruang kerjanya dengan membawa bunga, cokelat dan boneka yang tadi Belva kembalikan. Niatnya, Bams ingin langsung memberikan ketiga barang itu pada Belva dan ingin mengajak Belva makan siang di restoran terakhir yang Bams dan Belva kunjungi.
Namun betapa kecewanya Bams saat melihat meja kerja Belva kosong.
"Kemana dia?" Gumam Bams.
Bams pun mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomor Belva tapi ternyata Belva tidak membawa ponselnya. Ponsel Belva ada di dalam laci meja kerja.
Bams pun menghubungi Tuan Adrian dan menanyakan keberadaan Belva.
Ternyata Belva sudah berada di kantin perusahaan dan sudah duduk manis dan menyantap makan siang dengan para karyawan wanita yang lainnya.
Bams menghela nafasnya, niatnya ingin makan siang dalam VIP room yang sudah ia reservasi dari pagi pun harus gagal.
__ADS_1
Bersambung...