
Di kamar rawat Belva.
"Adrian, ini sudah di sterilkan kan?" Tanya Tuan Simeon pada Tuan Adrian sambil menunjuk ranjang yang akan di pakai Belva.
"Sudah Tuan." Jawab Tuan Adrian.
"Sepertinya ada yang kurang, tapi apa yah..." gumam Tuan Simeon.
"Ah.. aku tau!!" Ucap Tuan Simeon lagi.
"Adrian, box bayi untuk cucu ku belum ada. Tolong kamu ke toko perlengkapan bayi sekarang dan beli kan box bayi untuk cucu ku." Perintah Tuan Simeon.
Tuan Adrian menghela nafasnya.
"Tuan, paling Nona Belva dan cucu anda hanya dua hari berada di rumah sakit. Jadi tidak perlu membawa box bayi, lagi pula rumah sakit menyediakan box bayi untuk cucu anda." Jawab Tuan Adrian.
"Benarkah?" Tanya Tuan Simeon. Maklum dulu waktu Bams lahir ekonomi Tuan Simeon belum seperti ini. Bams juga lahir di klinik bersalin.
"Benar Tuan." Jawab Tuan Adrian.
"Oh.. Adrian, aku sangat gugup. Ini cucu pertama ku. Aku hanya ingin memastikan kalau cucu dan menantu ku mendapatkan yang terbaik." Ucap Tuan Simeon.
"Kamu tau Adrian, dulu sewaktu Bams lahir, banyak sekali kekurangan ku. Aku ingin memberikan ini-itu untuk istri dan anak ku, tapi aku tidak bisa. Makanya sekarang aku ingin membayar semua kekurangan ku pada menantu dan cucu ku." Curhat Tuan Simeon lagi.
"Anda sudah melakukan yang terbaik Tuan. Anda Ayah mertua dan Kakek yang hebat." Jawab Tuan Adrian.
"Oh.. iya, sofa ini sudah di sterilkan?" Tanya Tuan Simeon.
"Sudah Tuan, semua sudah di sterilkan." Jawab Tuan Adrian.
"Kenapa heboh sekali sih." Gerutu Tuan Adrian dalam hati.
***
Satu jam kemudian.
Setelah satu jam di observasi, Belva dan bayi laki-lakinya pun di pindahkan ke kamar rawat.
"Selamat yah sayang." Ucap Tuan Simeon pada Belva.
"Makasih yah Pah, udah mau di repotin." Jawab Belva.
"Papa gak ngerasa di repotin kok sayang." Jawab Tuan Simeon.
"Selamat yah Bams udah jadi Ayah kamu sekarang. Papa gak nyangka anak introvert kayak kamu bisa juga ngasih Papa cucu." Ucap Tuan Adrian.
"Iya, cuma nyetaknya doang. Giliran istrinya mau ngelahirin malah pingsan." Sindir Nyonya Kalina.
"Ish.. Mama, sindir aja terus!!" Omel Bams.
"Selamat Tuan Muda, Nona Muda." Ucap Tuan Adrian.
__ADS_1
"Terimakasih Paman, Tuan." Jawab Bams dan Belva bersamaan.
"Ini dia cucu Grandpa." Ucap Tuan Simeon saat melihat cucu pertamanya, lalu menggendong bayi laki-laki itu.
"Ya ampun Mah, ini kok mirip banget sama Bams." Ucap Tuan Simeon lagi.
"Terus mau Papa mirip siapa? Mirip Paman Adrian gitu?" Celetuk Bams.
"Saya lagi.." gumam Tuan Adrian yang hanya menjadi pendengar tapi selalu menjadi kambing hitam.
"Ya gak gitu juga. Tapi ini kok gak buang wajah kamu. Kalau kamu kan masih ada perpaduan Papa dan Mama. Lah ini gak ada bagian dari Belva yang diikutin." Jawab Tuan Simeon.
"Ya kan Bams yang capek mompa, Pah." Jawab Bams.
"Ish.. kak Bams!!" Omel Belva sambil menepuk lengan Bams pelan.
"Maaf Tuan, Nyonya, sebaiknya Nona Belva di baringkan di ranjang terlebih dahulu. Kasihan tenaganya belum terkumpul sempurna." Ucap Tuan Adrian tiba-tiba.
"Astaga, kamu benar Adrian." Ucap Nyonya Kalina.
Bams pun mendorong kursi roda Belva menuju ranjang lalu membantu Belva berbaring di ranjang.
"ASI kamu sudah keluar?" Tanya Tuan Simeon.
"Belum Pah."
"Gak pa-pa, di rangsang terus aja." Balas Tuan Simeon.
"Hah, Bams bantu ngapain?"
"Ya... di... itu... yah.. gitu.." balas Tuan Simeon salah tingkah sendiri.
"Di massage pabrik susu nya, di bantu hi sap." Nyonya Kalina membantu menjawab.
"Oh.. tenang saja Pah, gak usah Papa suruh pasti Bams bantu kok. Iya kan sayang?" Jawab Bams.
"Jadi siapa nama si gantengnya Grandpa ini?" Tanya Tuan Simeon.
"Biantara Simeon." Jawab Bams.
"Nama yang gagah. Papa suka." Balas Tuan Simeon.
"Halo Bian, ini Grandpa sayang." Ucap Tuan Simeon pada Bian.
"Ini Grandma, Bian ganteng." Ucap Nyonya Kalina pada cucu pertamanya.
"Pah, kayaknya kita gak usah perjalanan bisnis lagi deh, biar gantian Bams sekarang yang perjalanan bisnis. Kita stay aja di negara ini." Ucap Nyonya Kalina.
"Ya kamu benar sayang, Papa juga sempat berpikir begitu." Balas Tuan Simeon.
Sedangkan yang menjadi korban membelalakkan matanya mendengar ucapan kedua orangtuanya.
__ADS_1
"Kok gitu? Istri Bams baru melahirkan, masa kalian tega misahin Bams dari Belva."
"Ya gak sekarang. Nanti kalau Bian sudah enam bulan, kalau sekarang biar Adrian yang keluar negri, mengontrol perusahaan kita disana."
Gantian, sekarang Tuan Adrian lah yang membulatkan matanya sempurna mendengar kata-kata Tuan Simeon.
"Menyesal saya datang kesini." Gumam Tuan Adrian dalam hati.
"Kamu gak pa-pa kan Adrian kalau harus berkeliling mengontrol perusahaan kita?" Tanya Tuan Simeon.
"Tidak pa-pa Tuan." Jawab Tuan Adrian. Memangnya dia bisa jawab apalagi selain menjawab iya.
"Jadi kalau Bian udah enam bulan, gantian Bams yang gantiin Papa gitu?"
"Iya. Kenapa? Kamu keberatan?"
"Ya keberatan lah Pah, terus Belva gimana?"
"Ya Belva ikut lah sama kamu."
"Bian?"
"Bian sama Papa dan Mama." Jawab Tuan Simeon dengan gampangnya.
"Lagian kalian kan bisa pulang sebulan sekali lihat anak kalian." Timpal Nyonya Kalina.
"Lah, kok ini Bian jadi di kuasain Grandma dan Grandpanya?" Gumam Bams dalam hati.
"Ya gak bisa gitu dong Mah, masa Bian masih kecil udah di pisahin sama kita berdua." Protes Bams.
"Emangnya dulu kamu gimana? Sekarang masih mending, kamu bisa lihat anak kamu sebulan sekali, dulu Mama sama Papa baru bisa ketemu sama kamu lagi paling cepet tiga bulan sekali." Jawab Nyonya Kalina saat mengingat Bams kecil yang terpaksa di rawat oleh orangtua Nyonya Kalina karena Nyonya Kalina harus menemani suaminya merintis usaha. Tapi semua pengorbanan Tuan dan Nyonya Simeon berbuah manis, mereka berhasil membangun usaha mereka yang kini sudah menjalar ke luar negri.
"Ya tapi bukan berarti apa yang kalian lakukan pada Bams harus terulang lagi pada Bian dong Mah. Emangnya Mama ngerasain apa yang Bams rasain waktu kalian nitipin Bams sama Kakek-Nenek? Gak kan? Karena Bams tau bagaimana rasanya, makanya Bams gak mau hal itu kejadian lagi dengan Bian." Balas Bams.
Dan jawaban Bams berhasil menohok hati terdalam Tuan dan Nyonya Simeon.
Mereka tak bisa lagi berkata-kata. Karena apa yang Bams katakan benar adanya.
"Maaf Bams, kalau selama ini Mama dan Papa gak ngerti perasaan mu bagiamana." Balas Nyonya Kalina.
"Gak pa-pa Mah, Bams ngerti kok kalau apa yang kalian lakukan dulu untuk masa depan Bams. Tapi Bams harap apa yang kalian lakukan dulu pada Bams, jangan sampai kejadian lagi pada Bian. Karena alasan apa yang ingin Bams katakan pada Bian nanti kalau Bian bertanya alasan kami menitipkannya pada kalian? Masa Bams mau bilang untuk masa depan Bian? Bukannya Bian lahir dalam kondisi yang serba ada, serba berkecukupan. Pasti Bian gak akan bisa menerima alasan yang Bams berikan."
"Baik lah. Kalau begitu, biar Papa dan Mama saja yang tetap mengontrol perusahaan kita." Ucap Tuan Simeon.
Mendengar itu, Tuan Adrian bernafas lega.
"Akhirnya..." gumam Tuan Adrian dalam hati.
"Tapi tetap setelah usia Bian enam bulan, soalnya Papa belum bisa move on dari cucu ganteng Papa ini." Ucap Tuan Simeon lagi.
"Huuuft..." keluh Tuan Adrian dalam hatinya.
__ADS_1
Bersambung...