Ketika Aku Sudah Glow Up

Ketika Aku Sudah Glow Up
# 45. Menuju Launching


__ADS_3

Tiga bulan kemudian.


Usia kandungan Belva kini sudah memasuki sembilan bulan, sudah lewat satu minggu dari hari perkiraan lahir. Mungkin karena bayi nya laki-laki dan bobotnya juga besar membuat anak pertama Bams dan Belva lebih lama keluar dari dalam kandungan ibunya.


"Hari ini jadwalnya kontrol si dedek kan?" Tanya Bams saat Belva sedang memakaikan dasi untuknya.


Belva hanya menjawab dengan anggukkan.


"Kenapa? Ada yang bikin kamu kesal?" Tanya Bams saat melihat wajah Belva yang murung.


Belva menggeleng.


Merasa ada yang tidak beres, Bams menarik tangan Belva dan mendudukkan istrinya itu di pinggiran ranjang.


"Bilang sama aku, ada apa?" Tanya Bams sambil menatap dalam kedua bola mata Belva .


"Aku takut kak." Jawab Belva lirih.


"Takut apa?"


"Kalau aku gak bisa lahiran normal dan harus operasi gimana?"


"Ya gak pa-pa."


"Tapi kan kakak mau punya anak banyak."


"Astaga sayang. Punya anak banyak kan bukan berarti sepuluh. Dua atau tiga aja juga udah cukup kok. Yang penting jangan tunggal, karena aku tau gimana rasanya jadi anak tunggal. Gak enak Bel." Jawab Bams.


"Udah akh jangan cemberut. Nanti kalau Mama tau kamu cemberut gara-gara mikirin lahiran mau cara apa, kamu kena omel loh sama Mama." Ucap Bams lagi.


"Apapun cara lahirannya, yang penting kamu dan bayi kita selamat." Lanjut Bams lalu memeluk Belva.


Belva yang tadi sempat merasa tak percaya diri jika harus melahirkan secara operasi, kini kepercayaan dirinya kembali terkumpul berkat semangat dari sang suami.


"Udah yuk turun. Pasti si dedek udah laper minta sarapan." Ucap Bams.


Belva kembali menganggukkan kepalanya.


Belva dan Bams pun keluar dari dalam kamar dan turun ke lantai bawah lalu berjalan ke ruang makan dimana Tuan dan Nyonya Simeon sudah menunggu mereka.


"Selamat pagi anak perempuan Mama yang cantik." Sapa Nyonya Kalina.


"Pagi Mah." Balas Belva sambil mencium punggung tangan Mama mertuanya.


"Selamat pagi cucu Grandma yang ganteng. Muah." Nyonya Kalina menyapa cucu nya yang masih ada dalam perut Belva lalu mencium perut menantunya itu.


Setelah dari Nyonya Kalina, Belva pun mencium punggung tangan Tuan Simeon.


Sama seperti apa yang di lakukan Nyonya Kalina, Tuan Simeon juga menyapa dan mengelus perut menantunya itu.


"Gerakannya masih aktif kan?" Tanya Nyonya Kalina.


"Masih Mah, apalagi kalau habis di jenguk Ayahnya." Ceplos Belva.


"Uhuk... uhuk.." Tuan Simeon sampai tersedak salivanya sendiri gara-gara ucapan Belva.


Sedangkan Bams matanya melotot ke arah Belva sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Sedangkan Nyonya Kalina tersenyum tipis mendengar jawaban menantunya.

__ADS_1


"Nanti jadwal kamu kontrol kan?" Tanya Nyonya Kalina.


Belva menganggukkan kepalanya.


"Nanti pergi sama Mama aja yah, kita langsung kerumah sakit, gak usah singgah ke kantor dulu."


"Loh terus Bams gimana?" Protes Bams.


"Papa juga gimana?" Timpal Tuan Simeon.


Calon Ayah dan calon Grandpa itu tidak pernah mau melewatkan waktu kontrol Belva, jadi setiap Belva kontrol tiga orang itu selalu menemani Belva.


"Ya kita ketemuan di rumah sakit lah." Jawab Nyonya Kalina.


"Gak, kita harus pergi sama-sama nanti. Nanti kamu curangin Papa sama Bams lagi, bilang jadwal kontrol jam satu, ekh.. gak taunya jam sebelas." Protes Tuan Simeon lagi.


"Emang aku pernah kayak gitu? Lagian yang bikin janji kan Adrian, janji gak mungkin lah Mama bohongin kalian berdua." Balas Nyonya Kalina.


"Kasihan cucu Mama kalau harus muter-muter, rumah-kantor-rumah sakit." Kata Nyonya Kalina lagi.


Tuan Simeon dan Bams diam sejenak memikirkan kata-kata Nyonya Kalina.


"Ya udah, kita ketemuan di rumah sakit, tapi kalau kita belum datang, bilang sama dokternya jangan di periksa dulu sampe kita berdua datang." Ucap Tuan Simeon.


"Iya." Balas Nyonya Kalina.


***


Jam sudah menunjukkan pukul satu siang. Setelah selesai mengisi lambung dengan makan siang, Nyonya Kalina dan Belva pun berangkat ke rumah sakit karena jadwal kontrol Belva yang tadinya pukul satu di undur ke pukul dua karena dokter kandungan yang menangani Belva ada operasi mendadak.


Nyonya Kalina tak lupa menghubungi si calon Ayah dan si calon Grandpa agar mereka juga segera berangkat ke rumah sakit.


Saat dalam perjalanan menuju rumah sakit, Belva merasa perutnya tiba-tiba mulas tapi ia berusaha menyembunyikan rasa mulasnya dari sang Mama mertua.


"Kamu kenapa?" Tanya Nyonya Kalina.


Belva menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Jangan bohong kamu!! Bilang sama Mama apa yang kamu rasakan? Sakit?" Tanya Nyonya Kalina.


Belva tak lagi bisa menahan rasa sakitnya. Perutnya yang tadi hanya mulas, kini menjadi keram dan sakit.


"Sakit Mah..." ringis Belva.


"Astaga..." Nyonya Kalina pun mengambil air mineral kemasan lalu memberikannya pada Belva.


"Minum dulu." Ucap Nyonya Kalina pada Belva.


"Pak, cepetan Pak, kayaknya Belva mau melahirkan." Ucap Nyonya Kalina pada pak supir.


"Baik Nyonya." Balas pak supir.


"Mah.. sakit." Ringis Belva lagi setelah menenggak setengah air mineral kemasan.


"Iya sayang, sabar yah." Balas Nyonya Kalina.


"Ayo tarik nafas, terus buang perlahan." Ucap Nyonya Kalina lagi.


Belva pun mengikuti arahan dari sang Mama mertua.

__ADS_1


"Inget yang di pelajari di kelas ibu hamil. Jangan panik, dan pas rasa sakit datang, tarik nafas, buang perlahan. Oke."


Belva menganggukkan kepalanya.


Nyonya Kalina mengambil ponselnya lalu menghubungi nomor Bams.


Tuut Tuut Tuut. Bunyi nada sambung.


"Halo Mah. Mama udah sampe?" Tanya Bams di seberang telepon.


"Sebentar lagi." Jawab Nyonya Kalina.


"Bams, kamu lagi nyetir?"


"Iya Mah, kenapa?"


"Kasih ponsel kamu sama Papa."


Bams pun memberikan ponselnya pada sang Papa.


"Iya Mah, kenapa?"


"Pah, Belva kayaknya mau melahirkan, perutnya udah mules ini."


"Astaga. Ya udah, tetap tenang kamu yah Mah, kalau kamu panik, Belva panik kasihan supirnya nanti jadi ikutan panik. Papa akan telepon pihak rumah sakit untuk nunggu kalian di depan ugd."


Panggilan pun berakhir.


"Mereka udah dimana Mah?" Tanya Belva di tengah-tengah rasa sakitnya.


"Udah di jalan. Nanti pas kita sampe, mereka juga sampe kok." Jawab Nyonya Kalina.


Sedangkan di mobil lain, setelah panggilan dari Nyonya Kalina berakhir, Bams yang mendengar pembicaraan orang tuanya di telepon pun penasaran dengan apa yang terjadi.


"Kenapa Pah?"


"Belva mau melahirkan." Jawab Tuan Simeon dengan tenangnya.


Cyiiiiiit. Tiba-tiba Bams mengerem mendadak. Untung saja jarak mobil di belakang mereka tidak terlalu dekat kalau tidak sudah di pastikan akan terjadi tabrakan beruntun karena ulah Bams.


"Kamu apa-apaan sih!! Bahaya tau gak ngerem mendadak gitu!!" Bentak Tuan Simeon.


"Maaf Pah, Bams kaget." Jawab Bams.


"Aduh Pah, gimana nih, Bams takut." Ucap Bams. Sangking takutnya tangannya sampai gemetaran.


"Apa yang kamu takutkan?"


"Belva yang mau melahirkan Pah, Bams takut Belva kenapa-kenapa." Jawab Bams.


"Semua akan baik-baik saja. Istri kamu aja biasa aja, masa kamu yang ketakutan. Justru sekarang kamu harus kuat, biar bisa memberikan kekuatan untuk Belva saat melahirkan nanti." Ucap Tuan Simeon.


"Udah ayo jalan lagi. Mereka udah mau nyampe di rumah sakit katanya." Ucap Tuan Simeon lagi.


Bams menggelengkan kepalanya.


"Kenapa lagi?"


"Kaki dan tangan Bams gemetaran Pah, Bams gak bisa nyetir."

__ADS_1


"Astaga.....!!!" Tuan Simeon menepuk jidatnya melihat kelakuan anak semata wayangnya itu. Sangking takutnya, ia sampai tak bisa menyetir.


Bersambung...


__ADS_2