
Sewaktu Bams menghubungi Nyonya Kalina untuk menyuruh orang mengantarkan pakaian untuk mereka, Nyonya Kalina tau pasti ada sesuatu yang tidak beres dengan Bams dan Belva. Tapi Nyonya Kalina memilih untuk
pura-pura tidak tau, karena bagaimanapun kini Bams dan Belva sudah menjadi suami-istri, tidak baik bagi orangtua mencampuri urusan rumah tangga anaknya, meskipun sebenarnya mulut Nyonya Kalina sudah sangat gatal ingin bertanya.
"Kalian udah sarapan?" Tanya Nyonya Kalina basa-basi sambil berjalan memasuki rumah.
"Sudah Mah." Jawab Belva.
"Mah, Bams naik ke kamar dulu yah." Ucap Bams menyela pembicaraan basa-basi Mama nya dan Belva.
Nyonya Kalina menganggukkan kepalanya.
Bams pun melangkahkan kakinya meninggalkan Belva dan Mama nya.
"Bams kenapa?" Tanya Nyonya Kalina.
Belva menggedikkan bahunya.
"Gak tau Mah, daritadi begitu."
"Apa jangan-jangan malam pertama mereka gagal makanya Bams seperti itu?" Gumam Nyonya Kalina.
"Apa tadi malam kamu dan Bams...."
"Gak terjadi apa-apa kok Mah, kita berdua sepakat untuk menunda sampai Belva benar-benar siap." Jawab Belva berbohong.
"Maaf yah Mah." Ucap Belva lagi.
"Iya gak pa-pa sayang. Mama ngerti kok, gak mudah bagi seorang perempuan melepas kesuciannya. Apalagi pernikahan kalian juga dadakan." Balas Nyonya Kalina.
"Kalau gitu kamu susul suami kamu. Mana tau aja Bams butuh sesuatu." Ucap Nyonya Kalina.
Belva menganggukkan kepalanya dan hendak melangkahkan kakinya. Sebenarnya daritadi ia juga sangat ingin menyusul Bams, tapi tidak enak dengan Mama mertuanya.
Tapi baru saja ia melangkah satu langkah, Belva kembali memutar tubuhnya.
"Ngomong-ngomong, kamar Kak Bams dimana yah Mah?" Tanya Belva dengan polosnya.
"Ada di lantai tiga. Kamu pake lift aja naiknya, biar gak capek. Di lantai tiga itu ruang pribadinya Bams. Mulai dari kamar, tempat gym, tempat main game, mini bar, studio musik, bioskop mini, pokoknya lantai tiga itu daerah kekuasaannya Bams." Jawab Nyonya Kalina.
__ADS_1
"Oh..." Belva hanya membulatkan mulutnya.
"Belva naik dulu yah Mah." Pamit Belva.
Belva pun meninggalkan Nyonya Kalina dan berjalan menuju lift sesuai arahan Mama mertuanya itu.
Kini Belva sudah berada di lantai tiga, lantai dimana khusus untuk Bams.
"Woaah... ini mah kayak model penthouse." Gumam Belva saat melihat lantai khusus area pribadi suaminya.
"Ekhem." Tiba-tiba saja ada suara deheman. Dan suara deheman itu berhasil membuat Belva mengalihkan pandangannya.
"Kamarnya disitu. Istirahat lah." Ucap Bams sambil menunjuk kamar tidurnya lalu berjalan menuju ruangan untuk bermain game. Ia ingin melampiaskan kekesalannya karena permintaan Belva tadi malam dengan cara bermain game.
"Kak, tunggu!!! Kita harus bicara!!" Ucap Belva sambil mengekori Bams dari belakang.
"Nanti aja, aku sibuk." Jawab Bams.
Tak terima dengan alasan Bams, Belva pun menarik tangan Bams.
"Aku bilang kita harus bicara!!" Ucap Belva dengan nada meninggi.
"Mau bicara apa?" Tanya Bams to the poin sambil mendaratkan bokongnya di sofa yang ada di kamarnya.
"Kakak kenapa sih, kok dari tadi dingin banget sama aku?"
"Bukannya ini yang kamu mau? Ya aku cuma nurutin permintaan kamu. Apa kamu udah buat surat kontraknya?"
"Kakak marah gara-gara aku minta kita nikah kontrak aja?"
"Ya jelas lah Bel!!! Aku tuh serius dengan pernikahan ini, serius ingin membina rumah tangga dengan kamu, tapi malah kamu patahkan dengan nikah kontrak!!" Jawab Bams.
"Sekarang jujur sama aku, apa kamu ingin kita nikah kontrak karena kamu punya laki-laki lain?"
"Bukan."
"Kalau bukan terus apa? Apa kamu masih sakit hati sama aku gara-gara aku nolak kamu dulu?"
Belva diam. Dia bukan sakit hati karena itu, tapi lebih tepatnya karena video yang beredar dan Belva mengira itu adalah perbuatan Bams dan teman-temannya.
__ADS_1
"Oke, aku akuin dulu memang aku gak punya perasaan apapun sama kamu. Tapi bukan berarti aku menutup kemungkinan untuk gak suka sama kamu. Dulu fokus aku cuma menyelesaikan pendidikan aku makanya pada saat itu aku gak mau menjalin hubungan dengan perempuan manapun." Ucap Bams, ia menjeda sejenak kata-katanya untuk menarik nafas.
"Tapi setelah bertemu lagi dengan mu dan kita sering bersama dan aku juga melihat kamu sangat menyayangi Mama, aku pun sadar kalau aku sudah jatuh cinta sama kamu." Lanjut Bams.
"Yakin karena itu? Bukan karena aku sudah berubah? Bukan karena aku sudah glow up?" Tanya Belva.
"Aku gak sepicik itu Bel. Aku gak pernah mandang orang dari fisiknya. Aku rasa kamu juga tau itu!! Kalau aku memang orang seperti yang ada di pikiran kamu, untuk apa dulu aku selalu membela kamu." Balas Bams.
"Untuk bikin aku baper dan setelah aku baper, terus kakak bisa seenaknya mempermalukan aku."
"Kamu ngomong apa sih!!! Aku gak gitu Belva!!!" Bentak Bams emosi. Bagaimana tidak emosi kalau keseriusannya selalu saja dicurigai.
Belva terdiam mendapat bentakan dari Bams.
Melihat Belva terdiam, Bams menjadi merasa bersalah. Bams pun berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Belva.
"Aku minta maaf." Ucap Bams sambil mengelus rambut Belva.
"Aku tau Bel kamu belum bisa percaya sama kata-kata aku, sama perasaan aku. Aku bisa maklumi itu, mungkin kamu masih sakit hati dengan penolakan aku dulu. Mungkin kamu pikir dulu aku nolak kamu karena fisik kamu, penampilan kamu. Tapi jujur aku bilang, bukan itu Bel alasannya. Alasannya karena memang aku ingin fokus ke pendidikan aku." Ucap Bams lembut.
"Sekarang kamu kasih tau aku, apa yang harus aku lakukan untuk membuktikan rasa cinta ku ini? Apa pun akan aku lakukan Bel, asal jangan kamu minta aku menerima permintaan nikah kontrak mu itu."
"Aku juga gak tau Kak, aku bingung, karena yang aku mau saat ini hanya pernikahan kontrak itu." Balas Belva.
Bams hanya bisa menghela nafasnya, lagi dan lagi kata-kata Bams tidak mampu meruntuhkan benteng yang Belva bangun dalam hatinya.
"Ya udah kamu istirahat aja. Mungkin karena kamu kurang tidur makanya kamu jadi belum bisa mikir jernih." Ucap Bams.
"Aku tinggal dulu yah." Pamit Bams.
Bams pun memilih untuk pergi dan memberikan waktu untuk Belva sendiri.
***
Keesokan harinya.
Hari ini hari Selasa. Hari yang seharusnya masih menjadi hari cuti untuk Bams dan Belva, tapi Bams memilih untuk tidak cuti berlama-lama. Selain karena pekerjaan yang pasti akan menumpuk, cuti lama-lama pun tidak ada gunanya kalau Bams hanya menghabiskan waktu dan tenaganya untuk bermain game.
Karena Bams memilih untuk kembali bekerja, otomatis Belva pun harus ikut masuk bekerja, padahal Bams sudah melarang Belva untuk tidak masuk kantor selama seminggu. Tapi Belva menolak, alasannya karena Belva akan merasa bosan jika harus berada di rumah saja.
__ADS_1
Bersambung...