
Dan akhirnya resepsi pernikahan Belva dan Bams pun menjadi tranding nomor satu di jejaring sosial.
Teman-teman Belva semasa SMA tak menyangka kalau Belva Si Dakocan menikah dengan pewaris Simeon's Group.
Beneran itu Belva Si Dakocan? Kok beda banget?
Iya, gue juga gak yakin kalau itu Si Dakocan. Mirip doang kali.
Tapi kalau beneran itu Si Dakocan, parah banget itu glowingnya.
Eh.. tapi loe tau gak sih kalau ternyata Si Dakocan sepupunya Cellia?
Hah serius loe?
Iya, emang loe gak liat apa tadi waktu bokapnya Cellia di wawancara?
Gak.
Wah.. kalau gitu bisa nih, kita minta Si Dakocan untuk masukin kita ke Simeon's Group.
Jangan panggil Dakocan lagi. Mulai sekarang kita harus panggil Nona Belva.
Kok Nona Belva sih? Nyonya Muda Simeon.
Iya bener. Biar bisa di masukkin ke Simeon's Group.
Seperti itu lah isi group chat teman-teman SMA Belva.
Melihat Belva sudah glow up di tambah menikah dengan pria idaman para wanita, membuat sebagian dari mereka ada yang iri dan masih menjelekkan Belva dan sebagian lagi mengatur strategi untuk menjadi pen•ji•lat agar bisa masuk ke Simeon's Group.
Meninggalkan group chat teman-teman SMA Belva. Sekarang Belva dan Bams sudah berada di dalam kamar VIP di sebuah hotel milik Simeon's Group. Kamar VIP yang juga kamar pengantin mereka.
Mata Belva membulat saat masuk ke dalam ruang tidur. Banyak taburan bunga mawar di ranjang king size dan dua handuk yang di bentuk menyerupai angsa yang sedang berciuman.
"Kamu suka?" Tanya Bams sambil melingkarkan lengan kekarnya di pinggang Belva dari belakang.
"Ikh.. apaan sih megang-megang!!!" Omel Belva sambil menyentak tangan Bams dari pinggangnya.
"Emang salah kalau aku megang kamu? Kan kamu udah jadi istri aku sekarang." Balas Bams.
Belva tak menjawab, ia memilih untuk melangkahkan kakinya ke ruang ganti dimana Nyonya Kalina meletakkan koper yang berisi pakaian ganti untuk Belva dan Bams disana.
"Bel, kamu kenapa sih jutek terus sama aku? Emang salah aku apa?"
"Kakak gak merasa bersalah dengan pernikahan ini? Coba waktu itu kakak gak bilang ke publik kalau kita udah nikah secara agama, gak mungkin sekarang kita di nikahkan beneran gini!!"
"Iya aku akui aku salah, tapi aku gak nyesel ngelakuin itu. Karena ujung-ujungnya aku bisa dapetin kamu."
__ADS_1
Belva memutar bola matanya malas mendengar jawaban Bams. Ia pun memilih diam karena malas berdebat panjang lebar dengan Bams.
Begitu berada dalam ruang ganti, Belva langsung mencari koper yang katanya sudah Nyonya Kalina letakkan di dalam lemari yang ada diruang ganti.
Belva pun membuka lemari empat pintu itu.
Mata Belva dan Bams membulat seketika begitu melihat tiga lingerie tanpa jubah yang tergantung di dalam lemari. Satu berwarna putih, satu berwarna merah dan satu lagi berwana cream.
Bams menelan salivanya kasar saat fantasi liar mulai menguasai jalan pikirannya.
Sama seperti Bams, Belva juga tau apa maksud lingerie itu tergantung di dalam lemari. Jantung Belva sontak berdegup sangat kencang.
Tak ingin pikiran aneh-aneh menguasai otaknya, Belva pun kembali mencari keberadaan kopernya.
"Ah.. ini dia." Ucap Belva senang seperti orang yang mendapat harta karun.
Belva pun cepat-cepat membuka koper itu untuk mengambil piyama nya.
Tapi sayang, ternyata koper itu hanya berisi pakaian dalam Belva dan pakaian dalam Bams.
"Apa ini? Kok isinya cuma ini? Baju aku mana?" Teriak Belva tak terima sambil mengeluarkan isi koper untuk mencari pakaian yang tadi ia bawa dari rumah.
"Gimana ini? Masa aku tidur pake gaun yang berat ini?" Gumam Belva dalam hati.
"Pasti kerjaannya Mama nih." Gumam Bams juga dalam hatinya.
Tak terima karena pakaian yang sudah ia siapkan tidak ada di dalam koper, Belva pun keluar dari dalam ruang ganti. Niatnya ia ingin menghampiri kamar Mama mertuanya untuk menanyakan keberadaan pakaian-pakaiannya.
Belva pun beralih mengambil ponselnya terlebih dulu.
Mama Kalina. Begitulah nama yang tertera di layar ponsel Belva.
Cepat-cepat Belva mengusap tombol hijau ke atas.
"Halo sayang, pasti kamu nyariin pakaian kamu yah? Maaf yah cantik, pakaian kamu dan Bams, Mama sita sementara. Tapi berhubung Mama baik hati, jadi Mama masih ninggalin lingerie dan pakaian dalam untuk mu dan boxer untuk Bams. Jadi kalian pake itu dulu yah sementara. Tiga hari lagi Mama balikin pakaian kalian." Ucap Nyonya Kalina.
"Mama...." Belum sempat Belva melayangkan protesnya, Nyonya Kalina langsung mengakhiri panggilannya.
"Aargh...!!!" Teriak Belva kesal.
"Kenapa?" Tanya Bams.
"Kenapa... kenapa... kenapa!!! Menurut kamu aku kayak gini emang kenapa?!" Jawab Belva.
"Ya mana aku tau."
"Aaargh... masa aku harus terkurung disini selama tiga hari sih!!!" Teriak Belva frustasi.
__ADS_1
"Maksud kamu apa sih Bel, ngomong tuh yang jelas!!"
Belva tak menjawab. Tiba-tiba saja ia kepikiran untuk kabur di malam pertamanya.
Belva pun kembali melangkahkan kakinya menuju pintu.
"Kamu mau kemana?" Tanya Bams sambil mengikuti langkah kaki Belva dari belakang.
"Aku mau pulang aja."
"Gi•la kamu yah!!! Di bawah masih banyak wartawan, kamu mau bikin wartawan bikin headline macam-macam lagi tentang kita?"
Belva pun menghentikan langkah kakinya.
"Terus gimana? Aku pake baju apa?"
"Kan ada lingerie, ya itu aja pake."
"Gak!!! Aku gak mau!!"
"Kenapa? Kamu takut aku ngapa-ngapain kamu kalau kamu make lingerie itu?"
Belva tak menjawab.
"Tenang aja, aku gak akan ngapa-ngapain kamu tanpa seijin kamu. Nanti aku tidur di sofa ruang tamu kalau kamu gak mau kita tidur seranjang."
Belva menatap dalam bola mata Bams.
Terlihat kesungguhan dalam bola mata itu dan bukan hanya sekedar kata-kata modus agar Belva bisa masuk perangkapnya.
"Ya udah. Awas yah kalau bohong."
"Iya. Udah sana bersihin tubuh kamu. Habis itu kita istirahat." Ucap Bams.
Belva pun kembali ke ruang tidur, lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
***
Kini Bams dan Belva sudah sama-sama bersih.
Bams sudah berada di ruang tamu dan Belva berada di ruang tidur.
Karena selimut hanya satu, mau tak mau Bams tidur menggunakan bathrobe untuk melindungi tubuhnya dari rasa dingin. Maklum, Nyonya Kalina hanya meninggalkan boxer untuk Bams. Kebayang tidak pempek lenjer yang gondal-gandul karena tak dibelenggu jeruji kain.
Sama seperti Bams, Belva juga merasa risih dengan lingerie tipis yang dia pakai. Apalagi dua bakpao susunya tidak di tempatkan kedalam batok kain.
Walau Belva biasa tidur tanpa memakai batok kain pada bakpao susunya, tapi karena sekarang ada Bams, ia pun menjadi sangat risih karena dua kacang tanah yang ada di ujung bakpao susunya tercetak jelas pada lingerie. Ia malu kalau Bams sampai melihat cetakan dua kacang tanahnya itu.
__ADS_1
Ingin memakai bathrobe, tapi bathrobe hanya satu dan sudah di pakai Bams. Jadi mau tak mau Belva harus menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
Bersambung...