
"Saya minta maaf Tuan atas pemberitaan yang beredar, gara-gara saya, Tuan Simeon jadi terbawa-bawa." Ucap Belva merasa bersalah.
Tuan Simeon tersenyum tipis mendengar permohonan maaf Belva.
"Untuk apa kamu minta maaf, kan kamu juga korban disini."
"Tapi karena pemberitaan ini, saham Simeon's Group kan jadi anjlok Tuan."
"Namanya bisnis pasti ada turun naiknya, jangankan nilai saham yang turun, bangkrut dan harus tidur di kamar petakan saja saya pernah merasakannya. Jadi ini hal biasa bagi saya." Jawab Tuan Simeon.
"Sebenarnya kedatangan saya dan istri saya kesini karena ada hal penting yang harus kita bicarakan." Ucap Tuan Simeon.
"Hal penting? Hal penting apa Tuan?"
"Sebentar, masih ada dua orang lagi yang harus kita tunggu."
"Dua orang lagi? Siapa?" Tanya Belva.
"Nanti kamu juga tau." Jawab Tuan Simeon sambil tersenyum tipis.
Lima belas menit kemudian.
Ting Tong Ting Tong. Bunyi bel unit apartemen Belva.
Belva hendak mengangkat bokongnya dari kursi, tapi Tuan Simeon melarangnya.
"Biar saya saja yang membuka pintu." Ucap Tuan Simeon.
Tuan Simeon pun mengangkat bokongnya dari sofa dan berjalan menuju pintu.
Ceklek.
"Bel..." Bams pikir yang membuka pintu adalah Belva.
"Bal... Bel... Bal... Bel!!!" Omel Tuan Simeon.
"Maaf Pah, Bams pikir yang buka pintu Belva." Jawab Bams tertunduk malu.
"Masuk!" Perintah Tuan Simeon dengan nada tegas.
Bams pun masuk ke dalam. Lalu Ayah dan anak itu berjalan menuju ruang tengah dimana Belva dan Nyonya Kalina berada.
Mata Belva membelalak sempurna saat melihat Bams berjalan bersama Tuan Simeon.
Ingin sekali Belva mengusir Bams seandainya tidak ada Tuan Simeon
Melihat putra tunggalnya datang, Nyonya Kalina pun mengangkat bokongnya dari sebelah Belva.
"Duduk disini Bams." Ucap Nyonya Kalina meminta anaknya duduk di sofa yang sama dengan Belva. Sedangkan Nyonya Kalina pindah di sofa yang masih kosong.
Tanpa perlu berpikir lagi, Bams pun menuruti permintaan Mamanya, sedangkan Belva langsung memasang wajah ketusnya. Sekali lagi, ingin melarang pun Belva tak bisa.
"Ada apa ini Pah?" Tanya Bams sambil mendaratkan bokongnya di sofa.
__ADS_1
"Papa dan Mama ingin memberikan hadiah pada mu karena sudah berhasil mengatasi permasalah yang terjadi kemaren." Jawab Tuan Simeon.
"Hadiah apa?" Tanya Bams.
"Sabar, kita tunggu satu orang lagi." Jawab Tuan Simeon.
Bams pun diam tapi matanya sesekali melirik pada Belva.
Sepuluh menit kemudian.
Ting Tong Ting Tong. Bel apartemen Belva kembali berbunyi.
"Biar saya yang buka Tuan." Ucap Belva karena merasa tidak enak jika Tuan Simeon yang harus membuka pintu lagi.
Belva pun mengangkat bokongnya lalu berjalan menuju pintu.
Ceklek. Mata Belva membulat saat melihat orang yang ada di depan pintu.
"Om Tora." Ucap Belva terkaget.
"Belva." Balas Om Tora lalu memeluk keponakannya itu.
"Kamu gak pa-pa kan nak?" Tanya Om Tora yang sangat mengkhawatirkan Belva sejak pemberitaan buruk tentang Belva.
"Mm.. Belva gak pa-pa kok Om." Jawab Belva dalam pelukan Om Tora.
"Ada apa Om kesini?" Tanya Belva sambil melepaskan pelukan Om Tora.
"Tadi orang suruhan Tuan Adrian menjemput Om dan membawa Om kesini."
"Apa satu orang yang di tunggu Tuan Simeon adalah Om Tora?" Gumam Belva dalam hati.
"Ya udah yuk Om, masuk." Ucap Belva.
Mereka pun masuk dan berjalan menuju ruang tengah dimana ada formasi lengkap keluarga Simeon.
Mata Om Tora membulat saat melihat sosok Tuan Simeon, karena ini juga pertama kalinya Om Tora melihat langsung sosok Tuan Simeon.
"Tuan Simeon." Sapa Om Tora.
Melihat Om Tora sudah berada di ruang tengah, Tuan Simeon pun berdiri dari duduknya untuk menyambut calon besannya itu.
"Senang berjumpa dengan anda Tuan Tora." Ucap Tuan Simeon sambil menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Om Tora.
"Harusnya saya yang bicara seperti itu Tuan." Balas Om Tora sambil menyambut tangan Tuan Simeon.
"Senang bertemu anda Tuan Tora." Ucap Nyonya Kalina, ia pun menjulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Om Tora.
"Senang juga bertemu dengan anda Nyonya Simeon." Balas Om Tora.
"Silahkan duduk Tuan Tora." Ucap Tuan Simeon mempersilahkan duduk Om Tora di sofa yang tadi ia duduki sedangkan Tuan Simeon duduk bersama dengan istrinya di long sofa.
"Belva, ayo duduk lagi nak disebelah Bams." Ucap Nyonya Kalina.
__ADS_1
Belva pun terpaksa duduk lagi di sofa yang sama dengan Bams.
"Baik lah, karena semua sudah lengkap, jadi mari kita langsung bicara ke intinya saja." Ucap Tuan Simeon membuka pembicaraan.
"Ada apa ini Tuan?" Tanya Om Tora.
"Saya rasa Tuan Tora sudah melihat klarifikasi yang putra saya berikan tadi malam."
"Ya saya melihatnya. Lalu?"
Tuan Simeon menghela nafasnya.
"Karena putra saya sudah terlanjur mengatakan Nona Belva adalah istrinya, maka dari itu saya dan istri saya, akan merealisasikan apa yang Bams katakan tadi malam."
Mata Om Tora membelalak. Ah.. bukan hanya Om Tora, melainkan Bams dan Belva juga sama-sama kaget.
"Papa.."
"Diam kamu! Papa belum menyuruh mu membuka suara!"
"Tapi Pah..."
"Tapi apa? Kamu tidak mikir kalau sampai wartawan tau kalau klarifikasi mu itu hanya kebohongan semata? Kalau wartawan tau, makin buruk nama Belva."
"Bams tau Pah. Makanya Bams meminta Paman Adrian untuk membuatkan surat pernikahan palsu untuk sementara."
"Kalau bisa buat surat pernikahan yang asli kenapa harus yang palsu, Bams." Ucap Nyonya Kalina membuka suara.
"Niat Bams juga begitu, tapi Bams gak yakin kalau Belva akan setuju." Lirih Bams.
"Belva, kamu mau kan sayang?" Tanya Nyonya Kalina.
"Hah.." Belva ternganga bingung. Ia tak tau harus menjawab apa. Masih sakit hati tapi benih-benih cinta tak pernah layu dalam hati Belva.
"Tunggu sebentar Tuan-Nyonya. Saya masih tidak mengerti apa yang Tuan dan Nyonya katakan." Potong Om Tora.
"Jadi Tuan Tora, kami berniat ingin menikahkan Bams dan Belva dalam minggu ini." Ucap Tuan Simeon.
"Hah.... Minggu ini?!!!" Teriak Bams dan Belva bersamaan.
"Sebelum para wartawan mengendus kebohongan dari klarifikasi Bams." Lanjut Tuan Simeon. Ia tidak menghiraukan teriak Bams dan Belva.
"Tapi Tuan, ini pernikahan. Tadinya saya pikir klarifikasi yang putra anda berikan adalah salah satu trik untuk mengalihkan berita yang beredar. Dan saya juga berpikir Tuan Adrian meminta saya datang ke sini untuk menyatukan suara jika ada wartawan yang mendatangi saya. Saya tidak menyangka kalau Tuan dan Nyonya malah merealisasikan klarifikasi Tuan Bams tadi malam." Ucap Om Tora.
"Jadi apakah anda setuju Tuan Tora kalau keponakan anda yang cantik ini menikah dengan anak saya?" Tanya Nyonya Kaliana.
"Kalian semua baik, Tuan Bams juga baik. Saya rasa tidak ada alasan untuk saya menolak permintaan Tuan dan Nyonya Simeon ini."
"Ralat Tuan, bukan permintaan tapi lamaran." Balas Nyonya Kalina.
"Tapi semua sekarang tergantung Belva, karena Belva lah yang akan menjalaninya bukan saya." Kata Om Tora lagi.
Semua mata kini mengarah pada Belva.
__ADS_1
"Jadi bagaimana Belva?" Tanya Nyonya Kalina.
Bersambung...