Ketika Aku Sudah Glow Up

Ketika Aku Sudah Glow Up
# 46. Gara-Gara Kepala, Bams Pingsan


__ADS_3

Kini Belva sudah sampai di ruang bersalin dan sedang di periksa oleh dokter kandungan yang menangani Belva.


Bams dan Tuan Simeon yang baru sampai di rumah sakit pun langsung berlari menuju ruang bersalin.


"Mana istri saya Pak?" Tanya Tuan Simeon dan Bams bersamaan pada supir yang mengantar Belva dan Nyonya Kalina.


Mendengar pertanyaan Tuan Simeon dan Bams yang bersamaan menanyakan istri mereka, pak supir sampai menganga.


"Dua-dua nya di dalam Tuan." Jawab pak supir.


Tuan Simeon dan Bams pun berjalan dengan langkah panjangnya mendekati pintu ruang bersalin.


Ceklek. Tuan Simeon membuka pintu ruang bersalin itu lalu masuk ke dalam, hanya Tuan Simeon saja yang masuk. Karena setelah Tuan Simeon membuka pintu, suara Belva yang sedang berteriak kesakitan membuat nyali Bams langsung menciut, tubuhnya bergetar hebat lagi sampai-sampai membuat kakinya lemas tak bergerak.


Saat pintu terbuka, sontak orang-orang yang ada di dalam ruang bersalin menoleh ke arah pintu.


"Gimana Belva? Udah pembukaan berapa?" Tanya si calon Grandpa, raut wajah kepanikan tak bisa lagi ia sembunyikan, seolah istrinya yang akan melahirkan.


"Masih pembukaan tiga Pah, tapi..."


"Tapi kenapa?" Tanya Tuan Simeon.


"Tapi air ketubannya merembes Tuan, dan volume air ketubannya juga sudah mulai berkurang." Jawab dokter.


"Lalu?"


"Jalan satu-satunya harus operasi." Jawab dokter itu lagi.


"Lakukan yang terbaik untuk menantu dan cucu saya. Pokoknya menantu dan cucu saya harus selamat." Ucap Tuan Simeon.


"Baik Tuan." Jawab dokter.


"Sus, siapkan prosedur operasi." Ucap dokter pada perawat yang ada disampingnya.


"Baik dok."


"Gak pa-pa yah Nak di operasi? Kamu tetap wanita hebat." Ucap Nyonya Kalina pada Belva.


Belva hanya menganggukkan kepalanya, rasa sakit membuatnya tak sanggup berkata-kata.


"Loh Pah, Bams mana?" Tanya Nyonya Kalina saat baru menyadari tidak ada si calon Ayah di ruangan itu.


Tuan Simeon menoleh ke belakang dan benar saja tidak ada Bams di ruangan itu.


"Perasaan tadi anak itu di belakang Papa deh." Lirih Tuan Simeon.


"Pasti anak itu ketakutan lagi." Gumam Tuan Simeon.


Tuan Simeon pun berjalan keluar ruangan itu untuk mencari Bams di luar. Dan benar saja feelingnya Bams tidak ikut masuk ke dalam ruang bersalin karena takut.


"Kok gak ikut masuk?" Tanya Tuan Simeon pada Bams.


"Bams gak sanggup Pah. Denger suara Belva teriak kesakitan aja kaki Bams udah gemetaran." Jawab Bams.


"Istri kamu butuh kamu Bams, dia harus segera di operasi, karena air ketubannya udah mulai sedikit padahal masih pembukaan tiga. Cepat masuk, temani istri kamu di dalam!!" Ucap Tuan Simeon dengan nada tegas.

__ADS_1


Bams pun menarik nafasnya dalam-dalam lalu membuangnya kasar untuk mengumpulkan kekuatan sebelum menemui istrinya. Setelah merasa dirinya cukup kuat, Bams pun berdiri dari tempat duduknya.


Namun baru saja Bams berdiri, tubuhnya sudah terhuyung lagi kebelakang.


"Eeekh..." teriak Tuan Simeon dan pak supir dan langsung menarik tangan Bams.


"Kamu gak pa-pa?" Tanya Tuan Simeon.


"Bams gak bisa Pah, Bams takut." Rengek Bams.


PLAAK. Tuan Simeon memukul lengan putranya itu pelan.


"Bikin aja tau nya!!! Giliran bikinnya kuat, tiba istri mau melahirkan takut!!" Omel Tuan Simeon.


"Ayo." Tuan Simeon langsung menarik tangan si calon Ayah dan membawa si calon Ayah ke dalam ruang bersalin.


"Nah itu dia suami kamu." Ucap Nyonya Kalina saat melihat Bams yang di tarik paksa masuk oleh Tuan Simeon.


"Kamu darimana aja sih!! Istri kamu lagi butuh kamu tau gak!!" Omel Nyonya Kalina.


"Dia ketakutan Mah." Jawab Tuan Simeon.


"Astaga. Sampai keringet dingin begini." Ucap Nyonya Kalina saat melihat anak semata wayangnya.


"Kamu gak pa-pa? Sanggup gak nemenin Belva? Kalau gak sanggup biar Mama aja." Tanya Nyonya Kalina.


Bams melihat wajah Belva. Wajah yang sangat berharap dirinya lah yang menemani sang istri dalam proses kelahiran buah cinta mereka.


"Bams bisa kok Mah, biar Bams aja yang nemenin Belva." Jawab Bams mantap. Melihat wajah Belva, ia seperti mendapat kekuatan super tiba-tiba.


"Permisi Tuan, silahkan Tuan dan Nyonya Simeon keluar dulu. Biar Nona Muda kami bersihkan dulu." Ucap perawat.


"Tapi saya bisa disini kan sus nemenin istri saya?" Tanya Bams.


"Bisa Tuan. Suami memang harus menemani istrinya." Jawab perawat.


Tuan dan Nyonya Simeon pun keluar dari dalam ruang bersalin.


Sedangkan di dalam ruang bersalin, perawat terlebih dulu membersihkan tubuh Belva dan mencukur semak belukar yang tumbuh di sekitaran **** ***** Belva.


"Suster mau ngapain?" Tanya Bams saat melihat perawat memegang pisau cukur.


"Saya mau cukur rambut bawah Nona, Tuan." Jawab perawat.


"Cukur rambut bawah?" Gumam Bams. Tak lama matanya membulat saat ia sudah mengerti apa yang perawat katakan.


"Eh.. tunggu sus, biar saya aja!!" Cepat-cepat Bams mengambil alih pisau cukur dari tangan si perawat.


"Biar saya aja yang cukur rambut bawah istri saya." Ucap Bams. Ia tidak mau goa kramat Belva di lihat oleh orang lain sekalipun itu perawat.


Perawat hanya tersenyum melihat tingkah Bams.


"Saya juga punya kali Tuan Muda." Gumam si perawat dalam hati.


"Buka lebar kakinya Nona." Ucap perawat pada Belva.

__ADS_1


Belva menurut dan membuka kakinya lebar agar Bams mudah mencukur rambut bawahnya.


Namun saat melihat penampakan goa kramat Belva, Bams terdiam sejenak sambil mengernyitkan keningnya.


"Apaan tuh." Lirih Bams bertanya-tanya sendiri saat melihat sesuatu dari dalam goa kramat.


Bams mengucek-ngucek matanya untuk memastikan kembali apa yang netranya lihat.


"Kenapa Tuan?" Tanya perawat.


"Sus, ini apa yah? Kok begini?" Tanya Bams.


Perawat yang tadi di larang Bams untuk melihat goa kramat Belva pun mendekat dan melihat yang Bams tunjuk.


"Astaga, itu kepala bayinya." Ucap perawat itu kaget. Perawat pun berlari menekan tombol untuk memanggil dokter.


"Hah? Kepala bayi?" Lirih Bams yang tak kalah kaget dari si perawat.


BRUUK. Bams pun ambruk seketika.


Sontak perawat yang sedang berusaha memanggil tenaga kesehatan yang lainnya pun menoleh ke arah Bams yang sudah terkapar di lantai.


"Sus, suami saya kenapa?" Tanya Belva di tengah-tengah rasa sakitnya.


"Tuan Muda pingsan. Saya panggil orang dulu." Ucap perawat itu sambil berlari menuju pintu.


Tapi belum sampai di pintu, tiba-tiba pintu ruang bersalin terbuka. Ternyata dokter dan dua bidan yang datang.


"Ada apa sus?" Tanya dokter.


"Kepala bayinya kelihatan dok." Ucap si perawat itu.


Dokter pun berjalan mendekati Belva untuk mengecek sendiri.


"Loh ini Tuan Muda kenapa?" Tanya dokter saat melihat Bams terkapar di lantai.


"Pingsan dok. Kayaknya shock habis ngelihat kepala bayinya." Jawab perawat.


"Panggil orang untuk angkat Tuan Muda. Lalu baringkan saja di ranjang itu." Perintah dokter.


Si perawat pun keluar untuk mencari bala bantuan untuk mengangkat Bams.


"Kenapa sus?" Tanya Nyonya Kalina.


"Kepala bayi Nona Muda sudah kelihatan. Jadi kita akan melakukan prosedur melahirkan normal Nyonya." Jawab perawat


"Tuan Simeon, bisa minta tolong angkatkan Tuan Muda, Tuan Muda pingsan." Ucap perawat itu lagi.


"Astaga Bams." Tuan Simeon dan Nyonya Simeon pun masuk ke dalam ruang bersalin.


"Pak, ayo bantu." Ucap Nyonya Kalina pada pak supir karena pak supir tidak ikut masuk ke dalam ruang bersalin.


Pak supir pun masuk ke dalam dan membantu menggotong Bams lalu membaringkan Bams di ranjang yang tak jauh dari tempat Belva.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2