
Ceklek. Belva membuka pintu ruang game Bams dengan kasar.
Sontak Bams yang sedang asyik mabar game online pun menoleh ke arah pintu.
"Kamu belum tidur sayang?" Tanya Bams.
"Gak usah panggil-panggil sayang deh, kalau kenyataannya kamu lebih sayang sama game kakak itu." Omel Belva sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Melihat Belva sedang badmood, tanpa bicara apa-apa, Bams langsung keluar dari game online nya dan berjalan mendekati Belva yang masih berdiri di depan pintu.
"Gak baik loh sayang, ibu hamil ngomel-ngomel. Nanti anak kita jadi tukang ngomel-ngomel juga." Ucap Bams menenangkan Belva.
"Ya habisnya, istri lagi hamil malah mabar. Bukannya jenguk si dedek kek."
Mata Bams membulat seketika mendengar bagian terakhir kata-kata Belva.
"Kamu serius, aku boleh jenguk si dedek lagi?"
Belva mengangguk malu-malu.
Tanpa basa-basi yang berkepanjangan dan sebelum Belva berubah pikiran, Bams pun cepat-cepat menggendong istrinya ala bridal style menuju kamar mereka. Dan malam hari itu, Belva dan Bams pun kembali memblender banana smoothies.
***
Keesokan harinya.
Jam masih menunjukkan pukul setengah delapan, seperti biasa Amora sudah datang terlebih dulu dari Bams dan Belva. Namanya juga Bams dan Belva Presdir dan Nyonya Presdir.
Tuan Adrian yang juga baru sampai pun menghampiri meja kerja Amora.
"Nona Amora, nanti pukul sepuluh Tuan Muda dan Nona Muda ada pertemuan di luar, jadi kalau ada yang ingin bertemu di jam segitu, kamu undur keesokan harinya. Kamu paham?" Tanya Tuan Adrian pada Amora.
"Iya Tuan Adrian, saya paham." Jawab Amora.
Tuan Adrian pun membalikkan tubuhnya dan meninggalkan Amora.
Setelah Tuan Adrian masuk ke ruang kerjanya, Amora tersenyum licik.
"Gak akan aku biarkan si dakocan itu pergi bersama Kak Bams." Gumam Amora dalam hati.
Setengah jam kemudian, Bams dan Belva pun datang.
"Selamat pagi Tuan Bams, Nona Belva." Sapa Amora ramah.
"Se.." belum selesai Bams bicara Belva sudah mencengkram tangan Bams erat, sebagai kode kalau Bams tidak perlu membalas sapaan Amora.
"Selamat pagi juga Amora." Balas Belva.
"Kamu gak usah bikinin kopi untuk suami saya, karena saya sudah membawakan kopi yang di buat dengan penuh cinta dan kasih sayang dan saya masukkan ke dalam termos ini, jadi kopinya tetap panas. Jadi kamu bisa fokus dengan pekerjaan kamu." Ucap Belva dengan senyum meremehkan Amora.
__ADS_1
"Woah, benarkah Nona? padahal kemaren baru saya ingin mengusulkan itu pada Nona Belva." Balas Amora.
"Iya kah? Tapi kenapa kata-kata mu ini terdengar seperti penjilat yah?" Sindir Belva dengan tatapan mengintimidasi.
Amora menggertakan giginya mendapat sindiran menohok dari Belva.
"Sayang, masuk yuk, aku kan harus cepet-cepet meriksa berkas-berkas, nanti jam sepuluh kita kan mau ketemuan Tuan William." Ucap Bams sambil menarik tangan Belva.
Ceklek. Bams membuka pintu ruang kerjanya.
"Kakak apa-apaan sih!!! Kok kesannya kakak belain dia terus sih!!!" Omel Belva.
"Bukan bela dia sayang, kan emang bener aku harus cepet-cepet periksa dokumen, nanti jam sepuluh kan kita mau ketemu Tuan William."
"Ya udah, kakak kerja aja. Biar aku selesaikan dulu urusan ku sama perempuan ular itu."
"Sayang. Ini kantor. Kalau kamu membalas dia, bisa aja dia membalikkan fakta dan menggiring opini publik kalau kamu membully dia. Kamu ingat kan sayang, perusahaan ini anti pembullyan?" Ucap Bams.
"Kalau memang dia punya rencana untuk menggoda aku dan memisahkan kita, kita pura-pura gak tau aja dan harusnya kita makin mesra di depan dia, biar dia tambah menunjukkan taringnya." Ucap Bams lagi.
"Tapi aku gak sabar kak. Aku takut nanti dia makin nekat."
"Gak akan sayang, senekat-nekatnya dia, emang dia bisa langsung nyentuh kita? Inget yang pernah aku bilang gak? Dia harus lewati dulu brikade penjaga kita." Balas Bams.
"Ya udah deh." Belva pun berjalan menuju meja kerjanya.
Baru saja Belva mendaratkan bokongnya di kursi, tiba-tiba ponselnya berbunyi, tanda notifikasi pesan di ponselnya.
"Tuan Adrian." Gumam Belva dalam hati saat melihat nama Tuan Adrian yang tertera mengirim pesan untuknya.
Belva pun membuka pesan yang di kirimkan Tuan Adrian padanya.
Tuan Adrian : Nona, saat membaca pesan ini, saya harap Nona tenang dan jangan heboh dan jangan memberitahu Tuan Muda. Sebentar lagi Amora masuk ke ruang kerja Tuan Muda, ia ingin memberikan teh untuk anda. Anda jangan meminumnya Nona. Karena Amora memasukkan sesuatu ke dalamnya yang saya tidak tau apa itu. Anda cukup berpura-pura meminumnya di depan Amora. Apa anda mengerti maksud saya Nona Muda?
"Breng sek!!! Ternyata dia mau mencelakai saya. Baru tadi di bilang dia bakal berbuat nekat, gak taunya gak nunggu nanti-nanti." Gumam Belva dalam hati.
Belva : Baik Tuan Adrian, saya mengerti.
Tok Tok Tok. Dan benar saja, tak lama pintu ruang kerja Bams terketuk.
"Masuk." Jawab Bams.
Belva langsung pura-pura sibuk membaca berkas.
"Ada apa Amora?" Tanya Bams.
"Ini Tuan, saya ingin memberikan ini untuk Nona Belva. Boleh kan? Karena saya lihat wajah Nona Belva pucat sekali."
"Sayang..." panggil Bams.
__ADS_1
"Ya." Sahut Belva.
"Amora membawakan teh untuk kamu, kamu mau?"
"Woah... makasih yah Amora. Semenjak saya hamil, bawaannya lemas terus, apalagi tadi malam si dedek di jenguk Ayahnya sampe dua kali." Ucap Belva sekaligus memanas-manasi Amora.
Amora tersenyum kecut mendengar kata-kata Belva.
"Ini Nona tehnya. Semoga bisa memulihkan tenaga anda." Ucap Amora sambil meletakkan secangkir teh di atas meja kerja Belva.
"Diminum dong Nona, biar saya tau, teh buatan saya sesuai selera anda atau tidak."
"Saya minum yah." Belva pun mengangkat cangkir dan pura-pura menyeruput.
"Ini enak kok. Makasih yah Amora, ternyata kamu baik sekali." Jawab Belva.
"Syukurlah kalau Nona Belva suka, kalau begitu saya permisi dulu." Amora pun keluar dari dalam ruang kerja Bams.
Tak sampai tiga menit Amora keluar, Tuan Adrian pun masuk kedalam ruang kerja Bams.
"Ada apa Paman Adrian?"
"Maaf Tuan, saya ingin mengambil teh yang Amora berikan untuk Nona Belva. Karena saya melihat dari cctv kalau Amora memasukkan sesuatu ke dalam minuman Nona Belva."
"Apa!!!" Panik Bams. Bams pun berdiri dari tempat duduknya dan hendak menghampiri istrinya.
"Tenang Tuan, saya sudah memberitahu Nona Muda."
"Jadi kamu gak minum teh ini kan?"
Belva menggelengkan kepalanya.
Melihat Belva menggeleng, Bams pun menghela nafasnya lega.
"Kenapa Paman gak bilang sama saya dulu sih?"
"Sengaja Tuan, karena kalau saya bilang, pasti Tuan sudah panik dan emosi duluan. Jadi lebih baik saya memberitahu Nona Belva terlebih dulu."
"Tuan, bisa kah kita bekerja sama?"
"Kerjasama apa?"
Tuan Adrian, Belva dan Bams pun mendekatkan kepala mereka dan Tuan Adrian pun memberitahu rencana yang ingin di jalankan Tuan Adrian.
"Oke, saya setuju dengan ide Paman." Ucap Bams setelah mendengar rencana Tuan Adrian.
"Kalau kamu sayang?" Tanya Bams pada Belva yang terlihat bimbang.
Melihat suaminya mantap setuju, Belva tak punya pilihan lain selain mengikuti rencana Tuan Adrian, toh semua rencana Tuan Adrian tak pernah ada yang gagal.
__ADS_1
Bersambung...