Ketika Aku Sudah Glow Up

Ketika Aku Sudah Glow Up
# 31. Pembalasan


__ADS_3

Keesokan harinya.


"Kak..." panggil Belva saat Bams sedang mengemudikan mobilnya menuju kantor.


"Hemh..."


"Aku boleh gak masukin dua puluh temen SMA aku di perusahaan Simeon's Group?" Tanya Belva.


"Dua puluh? Kok banyak banget?"


"Ada sesuatu yang ingin aku lakuin sama kedua puluh orang itu." Jawab Belva dengan sorot mata penuh dendam.


Bams menghela nafasnya saat melihat sorot mata Belva yang penuh dendam.


"Lakukan lah apa yang ingin kamu lakukan, asal ingat batasan." Jawab Bams.


Bams sengaja mengijinkan Belva melakukan apa yang mau ia lakukan, agar Belva bisa melepaskan semua dendam dalam hatinya. Mungkin dengan terkikisnya rasa sakit, rasa dendam, rasa kecewa dalam hati Belva, Belva bisa membuka mata hatinya untuk melihat ketulusan Bams.


Bukan kah orang yang hatinya di penuhi rasa dendam, rasa marah, rasa kecewa, susah untuk melihat ketulusan seseorang? Karena rasa dendam dan kecewanya itu membuat ia menjadi orang yang terus curiga dan terus membentengi dirinya.


"Terimakasih." Balas Belva.


Kini mobil yang Bams kemudikan sudah berada di depan pintu lobi.


Bams dan Belva pun turun dari dalam mobil, lalu memberikan kunci mobil pada petugas valet sebelum mereka masuk ke dalam gedung perusahaan.


Dengan menggunakan lift khusus, kini Belva dan Bams sudah berada di lantai dimana ruang kerja Bams berada.


"Selamat bekerja." Ucap Bams begitu mereka di depan meja kerja Belva sebelum masuk ke dalam ruang kerjanya.


"Selamat bekerja juga." Balas Belva.


Setelah mendapat balasan dari Belva, Bams pun masuk ke dalam ruang kerjanya.


Tak lama setelah Bams masuk, Tuan Adrian pun datang.


"Selamat pagi Nona Belva." Sapa Tuan Adrian ramah.


"Selamat pagi Tuan Adrian." Balas Belva.


"Jangan panggil Tuan, anda sekarang Nona Muda di perusahaan ini."


"Saya menjadi Nona Muda saat di rumah Tuan, kalau di kantor, saya hanya lah sekretaris Tuan Muda Bramasta." Balas Belva.


"Ya.. ya.. ya. Terserah anda saja Nona." Ucap Tuan Adrian, ia tak terlalu suka berdebat.


"Kalau begitu saya temui dulu Tuan Muda." Ucap Tuan Adrian lagi.


Tuan Adrian pun masuk ke dalam ruang kerja Bams.


"Selamat pagi Tuan Muda." Sapa Tuan Adrian.


"Selamat pagi Paman." Balas Bams.


"Apa Paman sudah membaca pesan yang ku kirim tadi malam?" Tanya Bams.

__ADS_1


"Iya Tuan, saya sudah membacanya. Saya juga sudah menyuruh orang di sana untuk mengurus pendaftaran Nona Cellia untuk masuk asrama itu." Balas Tuan Adrian.


"Bagus lah."


"Oh iya paman, tadi Belva bilang ia ingin memasukkan dua puluh teman SMA nya di Simeon's Group, tolong urus yah Paman."


Mata Tuan Adrian membelalak.


"Dua puluh orang? Apa tidak salah? Satu orang saja harus melewati seleksi sangat ketat." Gumam Tuan Adrian dalam hati.


"Tapi Tuan..."


"Lakukan saja Paman, aku yakin Belva tidak mungkin mempekerjakan ke dua puluh orang itu di devisi yang penting." Ucap Bams saat tau apa yang ada di pikiran Tuan Adrian.


"Baik Tuan." Jawab Tuan Adrian pasrah.


"Ini Tuan, dokumen yang harus tanda tangani, saya sudah memeriksa semua itu." Ucap Tuan Adrian sambil menyerahkan beberapa map keatas meja kerja Bams.


"Kalau begitu saya permisi dulu Tuan Muda." Pamit Tuan Adrian.


"Jangan lupa Paman, apa yang saya katakan tadi." Ucap Bams mengingatkan Tuan Adrian.


"Baik Tuan."


Tuan Adrian pun keluar dari dalam ruang kerja Bams.


"Nona Belva, tadi Tuan Muda mengatakan anda ingin mempekerjakan dua puluh orang teman SMA anda, apa benar?" Tanya Tuan Adrian.


Belva menganggukkan kepalanya.


"Apa ada aturan atau syarat khusus dalam kontrak itu?"


"Yang pertama, harus bersedia di tempat kan di anak perusahaan mana saja sekalipun itu di daerah terpencil dan terima ditempatkan di devisi mana saja. Kontrak kerja berlangsung setahun tahun. Dan kalau dalam waktu tiga tahun mereka ingin resign, mereka harus membayar pinalti sebanyak tiga miliar."


"Kalau boleh tau, pekerjaan apa yang Nona rencanakan untuk mereka?" Tanya Tuan Adrian penasaran.


"Office Boy dan Office Girl." Jawab Belva.


"Oo.." Tuan Adrian menganggukkan kepalanya.


"Apa dua puluh orang itu akan Nona tempatkan semua disini?"


"Tidak. Tuan Adrian pencar saja mereka." Balas Belva.


"Baik lah Nona saya akan membuatkan surat kontrak itu. Tapi saya harus menuliskan tugas mereka di surat itu, agar mereka tidak bisa menuntut balik atas dugaan penipuan. Nona paham maksud saya kan?"


"Belva menganggukkan kepalanya. Mau Tuan Adrian tulis dengan huruf kecil atau besar, aku yakin mereka tidak akan membacanya terlebih dulu dan langsung menandatanganinya." Balas Belva.


"Baik Nona, akan saya kerjakan sekarang. Nanti kalau selesai, saya akan kesini lagi." Balas Tuan Adrian.


"Apa Nona yang ingin mengurus ini? Atau perlu bagian HRD yang mengurus?"


"Saya sendiri saja Tuan." Jawab Belva sambil tersenyum licik.


"Baik Nona. Kalau begitu, saya permisi dulu." Tuan Adrian pun pergi dari hadapan Belva.

__ADS_1


"Kalian harus merasakan apa yang aku rasakan dulu!!" Gumam Belva dalam hati.


***


Jam makan siang pun tiba.


Dengan dua puluh surat perjanjian di tangannya, Belva pergi kesebuah restoran tempat ia membuat janji dengan teman-temannya.


Dan kali ini Belva datang di temani Bams.


Sengaja Belva membawa Bams, apalagi alasannya kalau bukan untuk pamer.


Bams dan Belva berjalan menuju private room yang sudah Belva reservasi sebelumnya, dimana ke dua puluh temannya sudah menunggu dirinya.


Ceklek. Pelayan yang mengantar Belva-Bams membuka pintu.


"Terimakasih." Ucap Belva ramah sebelum masuk ke dalam private room.


"Hai Bel..." sapa ke dua puluh orang yang sudah menunggu Belva. Ada dua belas orang perempuan dan delapan laki-laki.


Sebenarnya kedua puluh orang ini sudah memiliki pekerjaan tetap sebelumnya, tapi karena bekerja di Simeon's Group lebih menjanjikan secara financial dan secara gengsi sosial, maka kedua puluh orang ini rela melepas pekerjaan mereka sebelumnya.


"Hai. Maaf yah lama." Balas Belva ramah, padahal dalam hati. "Cih... menjijikkan!!"


"Kalian udah dari tadi?"


"Belum kok, baru sepuluh menit an lah."


"Oh.."


"Kenalin dong Bel, suaminya."


"Astaga. Aku sampe lupa." Balas Belva penuh drama.


"Sini kak." Belva menarik tangan Bams.


"Kenalin ini temen-temen aku waktu SMA." Ucap Belva.


Bams pun menyalami satu persatu teman istrinya itu.


"Banyak juga yah temen kamu waktu SMA." Ucap Bams setelah selesai berkenalan dengan kedua puluh orang itu.


Sepertinya Bams sedang menyindir kedua puluh orang-orang itu, buktinya saat Bams mengucapkan kalimat itu, wajah kedua puluh orang itu langsung memerah dan langsung salah tingkah.


"Iya dong. Aku kan orang baik dan orang baik pasti selalu di kelilingi orang baik juga." Sindir Belva.


Tanpa Belva jelaskan maksud perkataannya, Bams juga tau kalau istrinya itu sedang menyindir kedua puluh orang itu.


Setelah berkenalan, Bams dan Belva pun duduk di kursi yang masih kosong. Mereka pin mengisi perut mereka terlebih dahulu sebelum membicarakan tentang pekerjaan.


Setelah hampir dua puluh menit mengisi perut, kini meja sudah bersih kembali.


Mereka pun mulai membahas soal pekerjaan.


Belva memanggil satu persatu temannya itu untuk di mintai tanda tangan. Dan benar dugaan Belva, tak ada satu pun dari dua puluh orang itu yang membaca isi kontrak kerja. Belva pun tersenyum penuh kemenangan membayangkan reaksi mereka begitu mereka tau kalau mereka hanya di jadikan office boy / office girl di Simeon's Group.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2