
Malam harinya.
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Seperti yang Bams katakan tadi siang, setelah makan siang mereka pun pulang ke rumah dan bergelut seharian di atas ranjang dengan tidak lupa menaati protokol keselamatan ibu hamil muda.
"Eugh..." lenguh Belva sambil mengerjapkan matanya.
"Jam berapa ini?" Lirih Belva sambil melihat jam dinding di kamarnya.
"Astaga, udah jam sebelas. Pantes laper." Ucap Belva lagi.
Belva pun menoleh ke sisi sebelahnya, tempat Bams tertidur.
"Kak... kak Bams." Belva membangunkan Bams sambil menggoyang-goyangkan tubuh suaminya pelan.
Karena Bams tidak kunjung bangun, Belva pun mendekati suaminya itu.
"Kak.. kak Bams, bangun dong." Sekali lagi Belva membangunkan Bams sambil mengelus pipi suaminya itu.
"Mmm... kenapa sayang? Kamu mau lagi?" Tanya Bams.
"Ish.. apaan sih!! Aku laper, ayo bangun." Omel Belva.
Bams pun mengerjapkan matanya.
"Jam berapa ini?"
"Jam sebelas."
"Astaga." Kaget Bams sambil mendudukkan dirinya.
"Kenapa?" Tanya Belva terheran-heran.
"Aku kan harus mabar sayang." Jawab Bams tanpa dosa.
"Iiikh.. aku kira apa!! Gak taunya mabar!!! Mabar terus, mabar terus!!! Udah aku bilang aku laper!!! Anak kita laper, malah mabar lagi yang di pikirin!!!" Omel Belva sambil memukul Bams dengan bantal.
"Eeeeh.... iya.. iya.. iya. Ampun sayang, ampun." Mohon Bams.
Belva pun berhenti memukul Bams dengan bantal.
"Awas yah kalau kakak masih lebih mentingin game online daripada aku. Aku aduin sama Mama-Papa." Ancam Belva.
"Maaf sayang, namanya juga udah kebiasaan. Aku janji akan aku kurangi. Tapi jangan minta aku langsung berhenti, karena akan susah. Tapi kalau aku kurangi, mungkin bisa. Gak pa-pa kan sayang?"
Belva diam sejenak untuk berpikir.
"Boleh lah sayang, kan cuma itu hiburan aku. Dari pada aku cari hiburan di club malam, ayo." Bujuk Bams lagi.
"Iya juga yah." Gumam Belva dalam hati.
"Ya udah. Tapi kakak mabarnya cukup tiga jam aja sehari yah." Jawab Belva.
Bams pun menganggukkan kepalanya setuju.
"Jadi kamu mau makan apa ini? Biar aku suruh mbak bikinin."
"Ini udah jam sebelas kak, jangan bangunin mbak lagi. Mending kita masak sendiri."
"Emang kamu mau makan apa?"
__ADS_1
"Gimana kalau masak mie instan aja yang cepet."
"Gak!! Gak boleh!!! Masa anak aku di kasih makan mie instan. Yang lain!!" Omel Bams.
"Aku juga gak tau mau makan apa, aku bingung."
"Gimana kalau aku bikinin spaghetti carbonara? Lebih sehat."
"Boleh deh." Balas Belva.
Bams pun turun dari atas ranjang, memunguti pakaiannya lalu memakainya. Setelah itu memunguti pakaian Belva dan memakaikan pakaian itu ke tubuh Belva.
Mereka pun keluar dari dalam kamar.
Tanpa harus turun ke lantai bawah, Bams dan Belva pun berjalan menuju dapur yang masih ada di lantai itu. Dapur yang hampir tak pernah terjamah baik sebelum Bams menikah maupun setelah Bams menikah.
"Udah kamu duduk aja, biar aku yang masak." Ucap Bams.
"Gak akh, aku mau potongin bahan-bahannya."
"Gak usah. Kalau aku bilang kamu duduk aja yah duduk aja. Jangan ngeyel." Omel Bams.
Mau tak mau Belva pun hanya duduk melihat Bams beraksi menjadi suami siaga.
Setelah kurang lebih setengah jam, akhirnya spaghetti carbonara buatan Bams pun siap di hidangkan.
Bams pun memindahkannya ke piring, lalu menyajikannya ke meja.
"Silahkan dimakan Nyonya Bams Simeon." Ucap Bams sambil meletakkan piring yang berisi spaghetti carbonara itu di depan Belva.
"Terimakasih Ayah." Balas Belva.
"Kapan lagi jadwal kontrol kamu?" Tanya Bams sambil menikmati makanan buatannya.
"Sekitar dua minggu lagi."
"Aku gak sabar pengen tau perkembangannya." Ucap Bams.
"Emang waktu tadi kakak jenguk si dedek, kakak gak bisa lihat perkembangannya." Balas Belva asal.
"Uhuk.. uhuk.." mendengar kata-kata Belva, Bams yang sedang menyeruput spaghetti sampai tersedak.
Cepat-cepat Belva menyodorkan air minum pada Bams.
"Pelan-pelan dong kak makannya. Gak ada yang mau minta kok." Ucap Belva sambil menepuk punggung Bams.
"Habis kamu ngomongnya ada-ada aja sih. Mana bisa banana aku lihat perkembangan anak kita. Emangnya banana aku alat usg atau alat endoskopi apa!" Balas Bams.
"Banana aku cuma alat menyuburkan aja." Lanjut Bams.
Belva malah merespon dengan tawa terbahak-bahak.
"Hahahaha. Kakak lucu ikh." Ucap Belva. Bukan kata-kata Bams yang membuat Belva tertawa, melainkan karena ekspresi wajah Bams yang terlihat seperti anak kecil yang di tuduh mencuri snack yang disimpan mamanya di bawah tumpukan pakaian di lemari.
"Udah cepetan habisin makanannya, biar kita tidur lagi. Udah jam berapa tuh lihat. Besok kan kita masih harus kerja. Inget, kamu udah gak punya asisten lagi sekarang." Ucap Bams.
***
Keesokan paginya.
__ADS_1
Bams dan Belva pun sudah berada di perusahaan Simeon's Group.
Karena Belva tak memiliki asisten, maka tugas sekretaris seutuhnya Belva kerjakan. Dan itu membuat Bams menjadi khawatir, takut Belva kelelahan.
"Sayang, jangan capek-capek yah. Kalau capek istirahat." Ucap Bams memperingatkan.
"Capek kenapa sih kak, orang gak kerja berat juga." Balas Belva.
Mata Bams pun turun ke bawah, ternyata Belva memakai sepatu heelsnya, meski tidak terlalu tinggi tapi tetap saja memakai sepatu yang tidak rata, akan membuat kinerja kaki lebih cepat letih.
"Kok kamu pake sepatu itu sih, ganti!! Bukannya dari rumah tadi kamu pake flat shoes?"
"Ini sepatu yang aku simpen di loker kak."
"Lepas!! Ganti yang flat shoes tadi!!" Perintah Bams tegas.
Melihat wajah sangar Bams, Belva tak berani berdebat dan memilih untuk menuruti perintah suaminya itu.
"Selamat pagi Tuan Muda." Sapa Tuan Adrian.
"Selamat pagi Paman."
"Ada apa ini Tuan Muda? Apa ada sesuatu di meja Nona Belva? Apa meja itu harus di ganti karena sudah di pakai Amora?" Tanya Tuan Adrian.
Bams menggelengkan kepalanya.
"Paman, apa karyawan wanita yang sedang hamil di perusahaan ini masih memakai sepatu heels?" Tanya Bams.
"Hah?" Tuan Adrian tercengang mendengar pertanyaan Bams.
"Maaf Tuan, saya tidak memperhatikan sampai kesana." Jawab Tuan Adrian jujur.
"Kalau begitu buat peraturan baru!! Mulai besok, setiap karyawati yang sedang hamil di larang keras memakai sepatu heels dan hanya di perbolehkan memakai flat shoes atau sendal. Tapi jangan sendal Suwe Loe juga. Dan suruh kantin menyediakan makanan khusus untuk ibu hamil, makanan yang sehat dan bergizi. Dan bagi yang ingin mengambil cuti melahirkan berikan mereka cuti sampai anak mereka usia enam bulan. Dan jika ada karyawati yang baru memasuki hamil muda dan mengalami morning sickness sampai membuat mereka tidak sanggup bekerja, jangan potong gaji mereka. Tetap hitung mereka masuk. Paman paham kan maksud saya?"
"Iya Tuan Muda, saya paham." Balas Tuan Adrian.
"Kakak serius?" Tanya Belva tercengang dengan peraturan yang Bams buat untuk ibu hamil.
Bams menganggukkan kepalanya.
"Ngeliat kamu, aku jadi tau gimana perasaan suami-suami mereka. Dan apa yang aku lakukan agar para karyawati yang sedang hamil bisa tetap happy dalam bekerja." Jawab Bams.
"Kenapa gak sekalian aja kak, adakan kelas ibu hamil gratis setiap satu atau dua kali seminggu?" Ucap Belva.
"Woah. Ide kamu boleh juga." Jawab Bams menyetujui ide Belva.
"Paman, tambahkan apa yang istri saya katakan tadi." Ucap Bams pada Tuan Adrian.
"Baik Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu." Ucap Tuan Adrian. Tuan Adrian pun memutar tubuhnya hendak mengurus apa yang Bams perintahkan, tapi baru saja dirinya hendak melangkah, tiba-tiba Tuan Adrian baru teringat akan berkas-berkas yang sedang ia pegang yang harus Bams tanda tangani. Tuan Adrian pun memutar tubuhnya kembali.
"Maaf Tuan, hampir saya lupa. Ini berkas-berkas yang harus anda tanda tangani." Ucap Tuan Adrian sambil memberikan berkas itu.
Bams pun mengambil berkas itu dari tangan Tuan Adrian.
Setelah berkas berpindah tangan, Tuan Adrian pun kembali memutar tubuhnya dan berjalan menuju lift.
"Besok-besok kalau anak Tuan Muda sudah lahir, kira-kira peraturan baru apalagi yang akan dia buat?" Gumam Tuan Adrian dalam hati.
Bersambung...
__ADS_1