
Sebulan berlalu.
Kedua puluh orang teman Belva itu pun sudah menjalani pekerjaan baru mereka sebagai office boy / office girl. Awalnya mereka ingin menuntut, tapi setelah mereka membaca kontrak kerja yang sudah mereka tanda tangani mereka pun pasrah harus bekerja setahun sebagai office boy / office girl.
Cellia juga sudah di kirim ke Negara R sedangkan pernikahan Om Tora juga sudah kandas. Om Tora sudah sah menyandang status duda dua minggu yang lalu.
Hubungan Belva dan Bams juga belum ada kemajuan, padahal Bams sudah sangat giat menunjukkan keseriusan dan ketulusannya untuk Belva. Ditambah lagi seminggu belakangan ini pekerjaan Bams sangat lah padat, membuat mereka sama-sama tenggelam dengan pekerjaan masing-masing.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh, sudah saat Bams keluar untuk meeting dengan rekan bisnisnya. Kali ini Bams pergi meeting hanya dengan Tuan Adrian, karena Bams tidak tega dengan Belva kalau harus ikut dengannya kesana-kemari.
Bams keluar dari ruang kerjanya lalu berjalan dengan tergesa-gesa menuju lift tanpa mengatakan sesuatu ataupun menoleh ke arah Belva.
Dan itu membuat Belva terheran-heran karena tak biasanya suaminya itu seperti itu sekalipun terburu-buru.
"Kak Bams kenapa? Apa kak Bams marah sama aku, gara-gara aku gak mau ikut ke kota B besok?" Gumam Belva dalam hati.
Belva hanya bisa menerka-nerka. Ingin bertanya langsung pada suaminya itu, tapi rasanya sangat gengsi. Dengan rasa penasaran yang berkecamuk dalam dada, Belva pun kembali melanjutkan pekerjaannya.
Teeeeet. Bunyi bel jam makan siang.
Belva pun membereskan meja kerjanya, lalu turun ke kantin perusahaan untuk makan siang.
"Belva.." teriak seorang pria dari arah belakang saat Belva sedang berjalan menuju kantin perusahaan.
Belva pun menoleh lalu mengernyitkan keningnya.
"Kayak pernah liat, tapi siapa?!" Gumam Belva dalam hati.
"Kamu gak ingat aku?" Tanya pria tersebut.
Belva menggelengkan kepalanya.
"Ini aku Erik. Temennya Bams waktu kuliah, masa kamu gak ingat sih?" Ucap Erik memperkenalkan dirinya.
"Oh... iya... iya. Aku ingat." Balas Belva.
"Kakak ngapain kesini?"
"Aku baru pulang dari Negara A, terus lewat sini, makanya aku singgah mau ketemu kalian, sekalian mau ngasih kado pernikahan buat kalian. Kan waktu kalian nikah, aku gak bisa dateng." Jawab Erik.
"Bams mana?" Tanya Erik saat melihat Bams tidak ada disekitar Belva.
"Oh.. Kak Bams ada meeting di luar."
"Jadi kamu mau makan siang sendirian di kantin?"
Belva menganggukkan kepalanya.
"Wah... keren kamu, jarang loh ada istri Presdir yang mau makan di kantin perusahaan."
__ADS_1
"Masa sih?"
"Kayaknya baru kamu." Jawab Erik sambil menganggukkan kepalanya.
"Kakak udah makan? Kita makan bareng aja yuk di kantin." Tawar Belva.
"Boleh deh." Balas Erik.
Mereka pun berjalan beriringan menuju kantin perusahaan.
"Gak nyangka yah kalau ternyata kamu yang jadi jodohnya Bams. Padahal dulu aku pikir dengan sifat Bams yang menutup diri dari perempuan, dia gak akan nikah-nikah. Eh.. gak tau nya nikah juga sama juniornya yang selama ini dia bela-bela." Kata Erik sambil mereka melangkahkan kaki.
Belva tak mengeluarkan komentar apa-apa, iya hanya tersenyum malu.
"Oh.. iya Bel, aku sempet liat loh video kamu waktu nembak Bams dulu." Kata Erik membuka luka lama.
Senyum di wajah Belva seketika hilang tatkala mengingat hinaan yang ia dapatkan dari mahasiswa-mahasiswi di kampusnya dulu.
"Aku heran sama si Jessica, kok bisa-bisanya yah dia nyebarin video itu." Kata Erik lagi.
Mendengar nama Jessica, Belva langsung menoleh ke Erik.
"Jessica? Bukannya video itu kerjaan kalian?" Tanya Belva.
Erik menggelengkan kepalanya.
"Ngapain juga kami ngerekam kamu nembak Bams, apalagi sampe nyebarin. Kurang kerjaan. Lagian kamu kan tau kalau Bams paling gak suka perundungan." Jawab Erik.
"Kakak tau darimana kalau itu kerjaannya Jessica?"
"Kalau aku gak salah inget, lusa setelah video itu tersebar, Jessica di keluarin dari kampus. Dan video itu langsung lenyap begitu saja." Jawab Erik.
"Kak Bams tau?"
"Kayaknya sih dia gak tau, karena sehari setelah boomingnya video itu, Bams izin gak masuk kampus, katanya ada urusan keluarga." Jawab Erik.
"Kita semua gak tau loh kalau Bams ternyata anaknya Tuan Simeon. Yang kita tau orang tua Bams itu pengusaha aja dan tinggal di Negara S." Ucap Erik kala mengingat masa-masa pertemanannya dengan Bams semasa kuliah.
Disaat Erik terus mengoceh bernostalgia tentang pertemanannya dengan Bams semasa kuliah, disaat itu otak Belva sedang bekerja menyusun kenangan saat pertama kali ia bertemu dengan Bams sampai detik dimana Bams keluar dari ruangannya tanpa pamit atau pun menoleh padanya.
"Apa Kak Bams udah mulai nyerah dengan pernikahan kami karena keegoisan ku?" Gumam Belva dalam hati. Ia kembali menarik kesimpulan sendiri.
"Bel... Bel... kok kamu bengong?" Tanya Erik.
"Ah.. gak pa-pa kak." Jawab Belva.
"Kak, kakak makan siang sendiri aja yah. Aku baru inget tiba-tiba ada urusan penting." Ucap Belva.
Belva pun meninggalkan Erik dan berlari menuju lift khusus. Ia ingin mengambil tasnya dan menyusul Bams di restoran tempat Bams melakukan meeting.
__ADS_1
***
Sekarang Belva sudah berada di restoran tempat Bams meeting.
"Coba cek sekali lagi. Masa reservasi atas nama Tuan Bramasta gak ada. Saya loh mbak yang mereservasi." Desak Belva pada resepsionis restoran.
"Iya gak ada Buk. Ini kalau gak percaya." Jawab resepsionis itu sambil memutar layar komputernya untuk memberi bukti pada Belva.
"Ada apa ini?" Tanya manager restoran.
Belva pun membalikkan tubuhnya.
"A-anda Nona Muda Simeon kan?" Tanya Manager restoran kaget.
"Iya." Jawab Belva.
"Jadi begini Pak, kemaren saya mereservasi VIP room atas nama Tuan Bramasta untuk di pakai hari ini pukul sepuluh. Tapi kenapa mbak ini bilang kalau nama Tuan Bramasta tidak ada?"
"Oh.. itu. Tuan Bramasta sudah membatalkannya pukul sepuluh itu juga Nona."
"Apa? Membatalkan? Kenapa? Kok gak ada yang kasih tau saya?"
"Maaf, kalau untuk alasannya kami tidak tau. Tuan Simeon melalui orang suruhannya hanya datang membayar ganti rugi saja." Jawab Manager restoran.
Kaki Belva lemas seketika. Pikirannya tentang Bams yang sudah menyerah dengan pernikahan mereka pun semakin menjadi-jadi.
"Ya sudah terimakasih Pak." Belva pun keluar dari dalam restoran.
Di luar restoran, Belva mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi Bams. Tapi sayang nomor Bams tidak aktif.
Tak ingin putus asa, Belva pun menghubungi Tuan Adrian.
Tuut... Tuut... Tuut. Bunyi nada sambung.
"Halo Nona Belva."
"Tuan, dimana kalian? Saya menyusul ke restoran tapi kalian tidak ada disini."
"Kalau saya sedang di kantor Nona, tapi Tuan Muda, dia sudah berangkat ke Negara L."
"Apa? Kak Bams ke Negara L? Kok gak bilang-bilang?"
"Maaf Nona, keadaannya sangat darurat, ada sedikit masalah disana. Sedangkan Tuan Besar tidak bisa menghandle karena Nyonya Besar sedang sakit. Jadi mau tak mau Tuan Muda lah yang pergi kesana." Jawab Tuan Adrian.
"Apa benar seperti itu?"
"Benar Nona." Jawab Tuan Adrian.
Belva pun mengakhiri panggilan teleponnya.
__ADS_1
Meski Tuan Adrian sudah menjelaskan alasan kepergian Bams yang sangat mendadak, tapi tetap saja hati Belva tidak tenang. Ia ingin segera bertemu dengan Bams dan memohon maaf pada suaminya itu karena selama ini ia menyimpan dendam yang salah pada suaminya itu.
Bersambung...