
Semua mata kini mengarah pada Belva.
"Jadi bagaimana Belva?" Tanya Nyonya Kalina.
"Mmmm.. Nyonya, saya..." Belva ragu harus menjawab apa.
"Belva sayang, bukan maksud kami memaksa. Tapi tolong pikirkan lah keselamatan Simeon's Group. Ada puluhan ribu karyawan yang menggantungkan hidup mereka disana. Kalau sampai Simeon's Group sampai gulung tikar, apa kamu tidak kasihan dengan nasib puluhan ribu karyawan itu? Apalagi delapan puluh persen karyawan Simeon's Group sudah berumah tangga." Rayu Nyonya Kalina.
Belva melihat sejenak Tuan Simeon lalu Om Tora dan terakhir Belva menatap Bams. Dari tatapan mereka, Belva bisa melihat kalau semua orang yang ada di ruangan berharap Belva memberi jawaban IYA. Apalagi sorot mata Bams.
Dan...
"Baik lah Nyonya saya akan menerima pernikahan ini demi kesejahteraan ratusan ribu karyawan Simeon's Group." Jawab Belva dengan penuh penekanan di akhir kalimatnya, seolah ingin memberitahu pada Bams kalau ia menerima pernikahan itu semata-mata hanya karena para karyawan Simeon's Group bukan sebagai jawaban perasaan Bams padanya.
Mendengar jawaban Belva, jelas saja Tuan Simeon, Nyonya Kalina dan Om Tora bernafas lega. Hanya Bams yang nafasnya masih menggantung karena jawaban Belva itu.
"Kalau begitu, sekarang kita ke butik Miss Mince untuk mencari gaun pengantin dan tuxedo untuk resepsi kalian." Ucap Nyonya Kalina.
"Iya, kalian pergi lah. Biar saya dan Tuan Tora yang mengurus hal lainnya." Timpal Tuan Simeon.
"Ayo sayang." Ajak Nyonya Kalina sambil mengangkat bokongnya, ia sangat bersemangat.
"Tunggu Nyonya, saya bersiap dulu." Sangking bersemangatnya, Nyonya Kalina sampai tidak sadar kalau penampilan Belva sangat berantakan.
"Astaga. Baik lah sayang, sana siap-siap. Jangan lama yah." Balas Nyonya Kalina.
Belva pun keluar dari ruang tengah dan berjalan menuju kamarnya.
Begitu Belva masuk ke dalam kamar, Tuan Simeon langsung menjentikkan jarinya kode untuk tiga orang bodyguard yang ia suruh menyusup di apartemen Belva.
Mata Bams dan Om Tora membelalak saat melihat tiga wanita berbadan tinggi, kekar keluar dari tempat persembunyian mereka.
"Mereka si-siapa?" Tanya Om Tora kaget.
"Mereka anak buah saya. Saya menyuruh mereka menyusup ke sini untuk berjaga-jaga, takut Belva down dan melakukan hal yang tidak diinginkan karena pemberitaan yang kemaren." Jawab Tuan Simeon.
"Ooo." Om Tora hanya membulatkan mulutnya.
"Keluar lah kalian." Perintah Tuan Simeon.
__ADS_1
Tiga bodyguard wanita itu pun keluar dari dalam unit apartemen Belva.
"Jadi kemaren waktu aku nyium Belva, tiga orang itu...." gumam Bams dalam hati.
"Mampus lah aku!!! Pasti mereka sudah ngasih laporan ke Papa dan Mama." Gumam Bams lagi.
"Kenapa wajah mu begitu Bams?" Tanya Tuan Simeon. Ia tau apa yang anaknya itu sedang pikirkan.
"Ah... tidak ada. Bams hanya kaget aja ternyata ada mereka disini."
"Kamu gak berbuat yang macam-macam kan?" Tanya Tuan Simeon dengan tatapan mengintimidasi.
"Berbuat macam-macam apa? Gak kok." Jawab Bams.
"Orang cuma nyium Belva doang." Gumam Bams dalam hati.
Tuan Simeon dan Nyonya Kalina hanya tersenyum tipis mendengar jawaban Bams.
"Jadi Tuan Simeon, apa anda sudah tau siapa dalang di balik penyebaran berita hoaks ini?" Sela Om Tora.
Tuan Simeon menganggukkan kepalanya, tapi ia tidak mau memberitahu Om Tora siapa dalangnya karena salah satu dalangnya adalah istri Om Tora.
"Oh... iya Tuan Tora, apa Tuan Adrian ada mengatakan sesuatu pada anda?" Tanya Tuan Simeon yang tiba-tiba teringat kalau dirinya meminta Tuan Adrian untuk menawarkan Om Tora masuk di Simeon's Group, karena sebentar lagi perusahaan Tuan Haris akan di ratakan oleh Simeon's Group.
"Apa maksud Tuan Simeon tentang tawaran untuk bekerja di Simeon's Group?"
Tuan Simeon mengangguk.
"Bisa saya memikirkannya dahulu Tuan Simeon?" Jawab Om Tora. Karena Tuan Adrian menawarkan Om Tora menjadi General Manager di anak perusahaan Simeon's Group yang ada di Negara S.
"Silahkan Tuan Tora. Tapi saya harap sebelum hari pernikahan Belva dan Bams, Tuan Tora sudah memberikan kami jawaban. Karena kami sangat butuh orang yang bertanggung jawab seperti Tuan Tora.
"Baik Tuan, saya akan memberikan jawabannya sebelum hari pernikahan Belva dan Tuan Bams."
"Jangan panggil Tuan, Om. Kan sebentar lagi Om Tora akan jadi Papa mertua saya." Timpal Bams yang sejak tadi hanya menyimak pembicaraan Ayahnya dan Om Tora.
Belva pun keluar dari dalam kamar. Ia sudah mandi, sudah berpakaian rapih dan siap pergi ke butik Miss Mince untuk mencari gaun dan tuxedo untuk pernikahannya dengan Bams.
"Apa kamu sudah siap sayang?" Tanya Nyonya Kalina.
__ADS_1
"Sudah Nyonya."
"Jangan panggil Nyonya, panggil Mama, seperti Bams memanggil saya." Balas Nyonya Kalina.
"Aakh... i-iya Mah." Jawab Belva ragu-ragu.
"Ya sudah. Ayo Bams kita berangkat. Kamu harus gandeng Belva, biar para wartawan percaya kalau kalian memang sudah menikah, walaupun masih secara agama." Kata Nyonya Kalina.
"Di bawah ada wartawan?" Tanya Belva.
"Kalau wartawan yang berkerumun tidak ada sayang, tapi kalau wartawan yang sembunyi-bunyi pasti banyak. Jadi kita harus tetap waspada."
"Ya sudah, ayo kita pergi." Ajak Bams sambil mengangkat bokongnya, ia sudah tidak sabar berjalan sambil bergandengan tangan dengan Belva.
Belva nampak ragu-ragu. Ragu untuk menggandeng tangan Bams dan ragu untuk keluar dari unit apartemennya karena takut dengan wartawan, takut di buat berita yang tidak-tidak lagi tentangnya.
"Tenang sayang. Tidak akan ada lagi yang berani lagi membuat berita tidak bagus tentang mu. Apa kamu lupa siapa kami?" Ucap Nyonya Kalina agak menyombong.
***
Sehari setelah pertemuan mereka di apartemen Belva, Tuan Simeon memberitahu wartawan tentang resepsi pernikahan Bams dan Belva.
Dan sehari sebelum resepsi, Bams dan Belva terlebih dulu mengikrarkan janji pernikahan mereka secara agama, setelah itu mencatatnya di catatan sipil dengan tertutup dan hanya di saksikan oleh Om Tora dan Tuan Adrian sebagai pihak dari Belva dan Tuan Simeon dan Nyonya Kalina sebagai pihak dari Bams.
Tak ada Tante Monika dan Cellia karena Tuan Simeon meminta Om Tora merahasiakan ini dari Tante Monika dan Cellia, bahaya kalau sampai mereka tau. Tante Monika dan Cellia cukup tau tentang resepsi pernikahan Bams dan Belva, bahkan Tuan Simeon juga meminta pada Om Tora untuk mengatakan pada Tante Monika dan Cellia kalau dirinya juga mengetahui tentang pernikahan diam-diam Bams dan Belva sebelum Belva melanjutkan studi nya keluar negri.
Om Tora juga sudah mengambil keputusan yang di tawarkan oleh Tuan Simeon dan keputusan Om Tora, Om Tora menerima tawaran Tuan Simeon.
Tapi sayangnya, Om Tora terpaksa harus pindah seorang diri. Karena Tante Monika dan Cellia tidak mau ikut dengan Om Tora ke Negara S. Karena apalagi kalau bukan karena mereka ingin hidup bebas.
Dan inilah hari yang di tunggu-tunggu, hari resepsi pernikahan Bams dan Belva.
Walaupun persiapan sangat sangat singkat tapi acara resepsi pernikahan Bams dan Belva terlihat sangat sempurna, mewah dan megah.
Banyak para petinggi negara dan para pengusaha hebat yang datang ke resepsi pernikahan itu. Tuan Simeon juga mengijinkan para wartawan untuk meliput acara resepsi pernikahan anak tunggalnya itu.
Resepsi yang megah, dengan para tamu undangan yang bukan orang sembarangan serta di liput banyak media, baik media lokal dan media asing. Membuat pasangan ibu dan anak kebakaran jenggot. Siapa lagi pasangan ibu dan anak itu kalau bukan Tante Monika dan Cellia.
Bersambung...
__ADS_1