Ketika Aku Sudah Glow Up

Ketika Aku Sudah Glow Up
# 33. Menyusul


__ADS_3

Merasa hatinya tak tenang, Belva pun kembali ke kantor.


Dengan tergesa-gesa, Belva berjalan menuju ruang kerja Tuan Adrian.


Ceklek. Belva membuka kasar pintu ruang kerja Tuan Adrian.


Tuan Adrian yang sedang fokus dengan layar laptopnya pun menoleh ke arah pintu. Matanya tak lepas dari langkah Belva yang berjalan ke arahnya.


"Tuan, saya ingin menyusul Kak Bams." Ucap Belva to the point.


Tuan Adrian mengernyitkan keningnya.


"Tuan, ayo urus. Aku mau nyusul Kak Bams." Rengek Belva seperti anak kecil sambil menarik-narik tangan Tuan Adrian.


"Eh... iya Nona... iya, baik saya akan lakukan." Jawab Tuan Adrian pasrah.


Tuan Adrian pun mengambil ponselnya dan menghubungi orang yang akan mengurus kepergian Belva.


"Paspor anda masih berlaku kan, Nona?"


Belva menganggukkan kepalanya.


Urusan keberangkatan Belva pun selesai. Tinggal menunggu jam keberangkatan Belva pukul empat sore ini.


***


Setelah melakukan perjalanan yang memakan waktu belasan jam, akhirnya Belva sampai juga di unit kamar hotel yang Bams tempati. Jangan bertanya bagaimana cara Belva masuk, yang pasti lewat pintu.


Saat Belva masuk di dalam, unit kamar itu kosong.


"Pasti Kak Bams lagi kerja." Gumam Belva dalam hati.


Niat hati Belva ingin langsung menyusul suaminya ke kantor, tapi kondisi tubuh Belva yang sedang jetlag membuat ia menyerah menyusul Bams dan memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya.


Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, Belva juga sudah membersihkan dirinya dan memesan makan malam untuk dirinya dan Bams.


Mendengar suara pintu terbuka, Belva yang sedang duduk di sofa ruang tengah pun mengangkat bokongnya dan berjalan setengah berlari ke depan pintu.


Ia memasang senyum close up nya.


Ceklek. Pintu pun terbuka.


Mata Bams membulat sempurna saat melihat sosok gadis yang di cintainya ada di depan matanya.


Rasa lelah yang panggul mulai dari pagi hingga malam seakan menguar melihat sosok istrinya itu.


"Ka-kamu kok bisa disini?" Tanya Bams terkejut.


"Bisa lah, kan masuk dari pintu." Balas Belva.

__ADS_1


"Cih.." decih Bams sambil mengulum senyum.


"Maksud aku, kenapa gak ngabarin kalau kamu mau dateng. Terus tadi siapa yang jemput di bandara?"


"Orang suruhannya Tuan Adrian yang jemput."


"Oh... jadi ini kerjaannya Paman Adrian?" Gumam Bams dalam hati.


"Kakak udah makan? Kita makan yuk, aku udah siapin makan malam untuk kakak." Ajak Belva.


Bukannya senang dengan ajakan Belva dan sikap Belva yang tiba-tiba manis, Bams malah curiga. Curiga kalau Belva membahas tentang kontrak pernikahan dengannya.


"Kok diem? Udah makan belum?" Tanya Belva lagi.


"Eh.. iya, tapi aku mandi dulu yah." Jawab Bams.


Belva menganggukkan kepalanya sedangkan Bams berjalan menuju ruang tidur.


Tak sampai lima belas menit, Bams keluar dari ruang tidur dengan handuk kecil di lehernya dan dengan rambut yang setengah basah. Bams berjalan menuju ruang makan dimana Belva sudah menunggu disana.


Mata Belva ternganga melihat penampakan Bams yang menurutnya begitu seksi dan macho.


"Ini kamu beli dimana?" Tanya Bams sambil menarik kursi makan.


"Aku pesen dari layanan kamar kak." Balas Belva.


"Oh... makanya aku heran, emang kamu tau situasi negara ini."


Mereka pun mulai menyantap makan malam mereka dengan elegan tanpa mengeluarkan satu patah kata pun tapi saling berbicara dengan bahasa tubuh.


Lima belas menit kemudian.


Setelah selesai menyantap makan malam mereka dan membereskan meja makan, Belva dan Bams pun duduk di ruang tengah.


"Mmm... kak." Panggil Belva malu-malu.


"Hemh... kenapa?"


"Aku minta maaf yah."


"Minta maaf? Untuk?"


"Kedua karena aku udah ngajak kakak nikah kontrak."


"Terus yang pertama?"


"Yang pertama karena aku udah menyimpan dendam yang salah."


"Dendam yang salah? Dendam karena aku dulu nolak kamu, gitu?"

__ADS_1


Belva menggelengkan kepalanya.


"Sebenarnya alasannya bukan itu kak." Jawab Belva. Belva menjenda kalimatnya untuk menarik nafasnya sebelum ia mengatakan apa yang ada dalam hatinya.


"Sebenarnya karena aku sakit hati dengan orang yang merekam dan menyebarkan video saat aku nembak kakak."


"Masa sih? Emang ada video itu? Kok aku gak tau." Balas Bams sambil mengernyitkan keningnya.


"Video itu booming banget kak di kampus. Dan karena video itu booming, aku jadi bahan bullyan. Aku di bilang gak tau diri, gak ngaca karena udah nembak kakak. Dan yang membuat aku sakit hati lagi, karena Jessica mengatakan kalau kakak dan teman-teman kakak lah pelakunya. Kakak sengaja baik sama aku hanya untuk bikin aku baper supaya kakak bisa mempermalukan aku."


"Astaga. Aku gak seperti itu Belv."


"Iya kak, aku percaya. Bodohnya aku percaya disaat aku sudah menyakiti kakak." Balas Belva.


"Aku gak merasa tersakiti ku. Ya, awalnya aku kesal dan marah sama kamu dan hampir menyerah untuk meyakinkan kamu. Tapi.. setelah aku pikir-pikir dan aku mencoba menjadi diri kamu, aku pasti akan memasang benteng pertahanan yang sama dengan mu."


"Jadi kakak gak marah?"


Bams menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, lalu menarik tangan Belva dan membawanya dalam pelukannya.


Cup. Bams mengecup puncak kepala Belva.


"Aku cinta kamu, Bel. Percayalah." Ucap Bams.


Belva mendongakkan wajahnya untuk berhadapan dengan Bams.


"Aku juga cinta kamu, Kak." Balas Belva dengan tersenyum.


Melihat senyum Belva yang merekah, membuat Bams tidak kuasa menahan dirinya untuk tidak mencicipinya.


Cup. Bams pun mengecup lembut bibir istrinya itu sesaat lalu melepaskannya lagi.


Tapi godaan dalam dirinya semakin membuncah. Ia tak bisa hanya sekedar mengecup bibir manis itu, ia ingin juga melahap dan mengunyahnya.


"Bodo amat lah, toh juga Belva istri aku sendiri." Gumam Bams dalam hati.


Bams pun menarik tengkuk Belva dan mendaratkan bibirnya di bibir Belva. Mengunyah bibir itu dengan lembut sampai Belva membalas kunyahan bibirnya. Dan disaat Belva membalas kunyahan bibir itu, Bams pun menarik tengkuk Belva dan kunyahan pun semakin di perdalam.


Bams melepaskan kunyahan bibir itu disaat Belva mendorong tubuhnya, sebagai tanda jika asupan oksigen dalam paru-paru Belva mulai menipis.


"Bel.. apa kamu sudah siap?" Tanya Bams.


Belva sangat mengerti apa yang Bams katakan.


Belva pun mengangguk malu-malu.


Melihat istrinya mengangguk, tanpa banyak bicara Bams pun menggendong tubuh Belva ala bridal style menuju kamar.


Sesampainya di dalam kamar, Bams pun membaringkan tubuh Belva di atas pembaringan. Menindihnya lalu mengunyah bibir istrinya lagi dengan setengah lembut mendekati urakan.

__ADS_1


Tangan Bams yang tidak mahir itu pun menjalar kesana-kesini bak pemain yang sangat mahir. Memang begitu lah laki-laki, meski belum pernah melakukannya tapi kalau perkara memberi kenikmatan pada pasangan, para perjaka tidak ada bedanya dengan sang casanova.


Bersambung...


__ADS_2