Ketika Cinta Bertahta

Ketika Cinta Bertahta
Eps 57


__ADS_3

"Dimana?" pesan singkat yang diketik oleh jari Roy yang otomatis langsung terkirim pada yang tertuju.


"Baru masuk rumah eh tiba-tiba ngilang,sekalian aja gak usah pulang"


"Ini rumah juga ada peraturan ...kalau enggan menuruti tinggal sapu bersih milik mu dan bersiaplah untuk tidak kembali"


" ini bukan hanya sekedar kata lewat tulisan"


Deretan chat masuk berurutan di hp Zee,notif yang masih sama dari satu pengirim.Bukan niat nya pengabaikan ,tapi karena ramainya pengunjung butik yang membuat nya tak mengganggap benda pipih itu ada.


Seharian Zee terus berada di butik miliknya tanpa berfikir untuk pulang.Dia baru sadar kala adzan ashar di kumandangkan.


"Mbak ..saya keatas dulu,kalau ada coustamer layani dulu."pamit Zee kala mendengar peringatan untuk bertemu sang Rabb nya.


Zee tak pernah meninggalkan nya,sesibuk dan serumit apapun kondisinya ia pasti luangkan waktunya untuk beribadah.


"Iya mbk" jawab salah satu pegawai butik.


Zee bekerja di ruang ber-AC sehingga membuat keringat di tubuhnya tak menampakkan jati dirinya.Seharian harus melayani customer meski di bantu beberapa pegawainya tak luput membuat dirinya letih di tambah kondisinya yang berbadan dua.

__ADS_1


Ia hempaskan bobot tubuhnya pada kasur di kamar yang terletak dilantai dua.Tangannya pun ikut terulur menggambil hp yang di tinggalnya cukup lama.


Setelah data di aktifkan deretan chat masuk berurutan,dan bagaikan bom yang menghunus mendapati banyaknya chat, bukan hanya dari group atau sahabatnya bahkan chat dari Roy pun ikut hitungan,pesan WA dari Roylah yang paling banyak.


Ia buka chat dari Roy yang statusnya masih menjadi suami.Bibirnya terus membaca setiap kata yang diketok oleh jemari Roy.


Sesak ,pasti.karna ia mendapati chat yang seakan mengusirnya secara halus bahkan itu langsung dari Roy ,walau tak berhadapan cara penyampaiannya.


"Sebegitu nya kamu bang...aku gk pernah berfikir sejauh ini.Kamu yang memulai dan aku yang mengakhiri" batin Zee.


Ia tutup kembali hp yang membuat fikirannya terus berkecamuk.Zee bangkit dari tempat tidur langsung membersihkan dirinya dilanjut dengan menunaikan sholat.


Pintu yang tak terkunci dan hanya tertutup separuh membuat langkahnya terus maju.Belum sempat menuju kamarnya tangan nya terlebih dulu di tahan oleh sang pemilik rumah.


"Sudah ngelayap nya?" suara yang masih terkontrol namun membuat jantung siapapun berdetak tak karuan.


"pergi gk pamit,pulang pun tak ucap salam" sindir Roy.Zee enggan menanggapi ucapan Roy.


"Bosen terus dirumah" tanya Roy" Taukan caranya agar gk bosen? atau perlu aku ajari" imbuhnya.

__ADS_1


Zee masih tetap diam menunggu kata apalgi yang akan di ucap dari mulut suaminya itu.


"Dari tadi di tanya kok gak jawab,gk pernah di ajari sopan santun sama yang lebih tua,atau selalu dilantarkan sama orang tua yang membuat sikap angkuhmu datang"ucap Roy .


"Pribadi aku tidak ada sangkut pautnya dengan orang tuaku,jika membenciku jangan menyeret orang tuaku juga" tegas Zee yang tak tahan dengan ucapan Roy.


"Aku sudah mundur dan selayaknya juga aku angkat kaki dari sini.Hati memang sudah terpaut namun aku bisa mengontrol nya.Mungkin rasa ini tak sedalam seperti ini jika aku membasminya sejak awal,Karena kegagalanku lah yang membuatnya semakin parah" imbuh Zee memberanikan untuk terus menyalurkan rasa yang selama ini memuncak di sanubarinya dan seakan ingin meledak dan melumer ke luar.


Zee melepas cekalan Roy ,kemudian menata semua barang miliknya kedalam koper.Hatinya masih luka dan tak kunjung tertutup,semakin hari semakin parah.Dia menampiknya beberapa kali agar tak seburuk ini,namun hal lain berkata demikian.


Air mata nya tiba-tiba deras bercucuran,kakinya pun gontai seiring pikirannya yang linglung.Segini beratnya beban yang ia bawa, tanpa pengetahuan siapapun pengecualian sahabat dekatnya.


Roy terus berdiri di ambang pintu melihat Zee mondar mandir memasukkan semua barang miliknya tanpa ada kata pencegahan yang meluncur dari bibirnya.


Gadis yang dinikahi nya beberapa bulan lalu, kemudian di bawa kerumahnya dengan hormat harus pulang dengan cara yang seperti ini.Tak adil bila di rasa ,namun garis kehidupan di lauhful mahfud sudah berbicara.


Seakan tak ada yang tersisa dikamar itu.Kamar yang dihuni nya sejak awal Zee melangkahkan kakinya ke rumah ini.Semua barang pribadinya di sapu bersih dari tempat semula.Tegar adalah kata yang terus menjadi teman Zee kedepannya tanpa mengingat masa kelamnya.


Author balik lagi nih...udah lama gk nerusin kisah mereka jadi rada kaku ...yuk boom like,vote,dan hadiah nya

__ADS_1


__ADS_2