
Andovi, istri dan anaknya kini tengah berjalan santai untuk melihat pemandangan sekitar villa. Mikaya jadi betah di sana. Rasanya ia ingin berlama-lama tinggal di villa tersebut. Akan tetapi ia sadar jika itu tidaklah mungkin.
Pandangan Mikaya tertuju pada taman kecil yang terdapat banyak bunga cantik di sana.
"Mas, kita kesana yuk!" Ajak Mikaya seraya menunjuk taman itu.
"Iya, ayo."
Sebelum berjalan ke taman itu, Andovi minta Afgari agar ia yang gendong saja. Mikaya senang dengan perhatian kecil suaminya.
Saat mereka tengah berjalan ke taman itu, Andovi mendapat panggilan telepon masuk.
"Afgari sini dulu, nak." Mikaya mengambil alih Afgari kembali sementara Andovi mendapat telepon.
Sekilas Mikaya melihat nama Mira di layar hp suaminya. Andovi segera mengangkat telepon tersebut, menempelkan benda pipih itu ke daun telinganya.
"Halo, Mir? Kenapa?"
Tiba-tiba kening dan alis Andovi berkerut, Mikaya jadi penasaran apa yang di sampaikan oleh Mira pada suaminya.
Andovi kelihatan panik usai menerima telepon dari Mira. Mikaya jadi cemas.
"Ada apa, mas?"
"Sayang, sepertinya kita harus pulang ke rumah sekarang. Soalnya aku ada urusan mendadak dan aku harus segera ke kantor sekarang," ujar pria itu.
"Iya tapi ada apa, mas?"
"Sekarang kita siap-siap pulang. Nanti aku ceritain kalau kita udah di rumah."
__ADS_1
Mikaya khawatir sebenarnya apa yang terjadi, akan tetapi suaminya tidak cerita.
Niat akan menginap di villa selama tiga hari gagal, baru satu malam mereka harus sudah pulang karena ada urusan yang tidak bisa di tinggalkan. Mikaya sedikit kecewa, akan tetapi ia bisa apa.
Sepanjang perjalanan pulang tidak ada obrolan di antara mereka. Beruntung Afgari tidur pulas. Begitu sampai di rumah, Andovi langsung pergi lagi.
"Hati-hati ya, mas," teriak Mikaya begitu pria itu pergi bersama mobilnya.
Mikaya berharap sesuatu buruk tidak terjadi. Ia harap itu hanya urusan biasa dan bisa di selesaikan dengan segera.
***
Andovi memberi kabar pada istrinya jika ia malam ini tidak akan pulang. Dia akan menginap di apartemen. Entah kenapa Mikaya merasa cemas. Begitu ia tanya dia nginap di apartemen mana, Andovi sudah offline. Mikaya jadi takut jika Andovi nginap di apartemen yang sama dengan Mira.
Meskipun ia tahu Mira merupakan seorang sekretaris dan urusan mereka hanya urusan pekerjaan saja, akan tetapi Mikaya takut jika mereka terlalu dekat akan menimbulkan sesuatu yang di takutkan selama ini.
"Afgari, tidur lagi ya, nak."
Mikaya berusaha menenangkan si kecil. Mungkin ikatan batin mereka kuat, sehingga Afgari bisa merasakan apa yang saat ini ia khawatirkan.
Sementara di tempat lain, Andovi duduk di sofa. Ia tidak juga melepaskan pandangannya dari layar laptop. Ia sedang mengusahakan agar klien besarnya tidak jadi membatalkan kerja sama di antara keduanya. Sebab sebelumnya mereka sudah fix dan sepakat, namun di tengah-tengah justru klien nya ingin membatalkan kerja sama begitu saja.
Seorang wanita datang dengan membawa secangkir kopi. Dan meletakannya di atas meja samping laptop Andovi.
"Kopinya, pak."
"Iya, makasih," ucap pria itu tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.
Andovi meraih cangkir kopinya lalu menyeruput kopi tersebut. Sedetik kemudian ia segera menyemburkan kopinya hingga tumpah sedikit ke pakaiannya.
__ADS_1
Mira langsung kaget.
"Pak Andovi kenapa, pak?"
"Panas," ujar pria itu.
Mira menghela napas. "Iya itu memang baru jadi kopinya, pak."
Saking fokusnya pada layar laptop, Andovi sampai tidak sadar jika kopi yang ia minum barusan masih mengepul mengeluarkan asap panas.
"Sebentar ya, pak. Saya ambil tisu buat bersihin baju bapak."
Mira bangkit dari duduknya untuk mengambil tisu ke unit kamarnya, tidak lama kemudian wanita itu kembali dengan membawa beberapa helai tisu di tangannya.
"Saya bantu bersihkan ya, pak."
Tanpa menunggu jawaban Andovi, langsung saja Mira mengelap bekas tumpahan kopi di kemeja hitam Andovi. Jarak mereka kini cukup dekat sekali, sehingga mata Andovi kini terpaku pada wajah Mira.
Mira menghapus noda tumpahan kopi di baju Andovi sampai bersih dan sadar jika pria itu saat ini tengah memperhatikannya. Sepasang mata mereka bertemu dan saling menatap satu sama lain. Sebelum kemudian Mira mengalihkan pandangannya ke arah lain dan sedikit menjauh.
"Sudah selesai, pak. Mau saya buatkan kopi yang baru?" tawar wanita itu tanpa berani menatap wajah itu lagi.
"Enggak, gak usah. Kamu istirahat aja, besok kita harus pergi pagi-pagi."
"Baik, pak. Permisi."
Mira pamit untuk kembali ke unit kamarnya yang bersebelahan dengan unit kamar pria itu. Andovi melihat kepergian Mira sampai wanita itu hilang di telan pintu. Ia tertegun sejenak mengingat hal barusan. Namun ia segera menepis pikiran tersebut.
_Bersambung_
__ADS_1