Ketika Istri Tak Lagi Menarik

Ketika Istri Tak Lagi Menarik
Cemburu


__ADS_3

Keesokan harinya jam empat sore Andovi pulang ke rumah dengan perasaan kecewa sekali, lantaran klien besarnya tetap ingin membatalkan kerja sama dengan perusahaannya. Meski demikian, Mira akan terus berusaha membujuk klien terus untuk meneruskan kerja sama yang sudah masuk kontrak sebelumnya.


Mikaya menyambut suaminya yang baru saja pulang. Tanpa menanyakan banyak hal terlebih dahulu, ia meminta pria itu untuk duduk di sofa agar sedikit lebih tenang. Namun, Andovi di bikin salfok oleh penampilan Mikaya yang berbeda. Seketika Andovi lupa akan apa masalahnya.


"Sayang .. Kamu-" Andovi melihat penampilan istrinya dari atas sampai dengan ujung kaki dengan perasaan takjub.


Mikaya mengangguk seolah tahu apa yang sedang ada dalam pikiran suaminya.


"Iya, mas. Aku berusaha menuruti permintaan kamu agar aku berusaha menjaga penampilan aku kan?"


Andovi pun menganggukan kepalanya.


"Iya, sayang. Aku mau kamu seperti ini, tetap anggun dan cantik. Kamu harus berusaha dandan untuk suami kamu."


Mikaya semakin melebarkan senyumnya.


"Aku akan berusaha tetap menjaga penampilan aku, mas. Kebetulan Afgari juga sedang tidak rewel. Setelah dari villa kemarin, Afgari banyak senyum bahkan tawa dengan suara. Mungkin Afgari senang kita ajak dia pergi jalan-jalan."


Andovi jadi merasa bersalah lantaran ia tidak menepati janji untuk menginap selama tiga hari di villa karena urusan mendadak.

__ADS_1


"Maaf ya, sayang. Kita jadinya cuma nginap semalam di villa. Aku gak bisa ninggalin urusan aku untuk beberapa hari ke depan. Aku janji, nanti kalau urusannya sudah clear, aku pasti bakal bawa kalian jalan-jalan lagi."


"Iya, mas. Meskipun semalam di sana, tapi membuat aku sangat berkesan. Afgari juga, dia sangat menikmati waktu kita bersama."


Andovi lekas membawa Mikaya ke dalam pelukannya. Mikaya terlihat nyaman dalam pelukan sang suami. Hingga ia teringat akan sesuatu yang ia pikirkan semalaman.


"Oh iya, mas. Semalam kamu nginap di apartemen mana?" tanya Mikaya usai melepaskan pelukannya.


Andovi sedikit gugup, namun ia berusaha untuk menutupinya agar Mikaya tidak curiga. Meski demikian, ia tetap akan jujur pada Mikaya.


"Aku semalam nginap di apartemen tempat Mira tinggal, sayang."


Perasaan Mikaya langsung berubah tidak enak, apa yang ia khawatirkan dan takutkan ternyata memang benar terjadi.


"Jangan berpikir yang macam-macam, ya. Lagian aku tidur di unit sebelah, kita beda unit. Aku nginap di apartemen yang sama dengan Mira juga karena ada alasannya, sayang. Jadi, urusan aku ini cukup berat. Klien besar yang sebelumnya sudah menandatangani kontrak kerja sama dengan perusahaan mendadak membatalkan kerja samanya," jelas Andovi.


Yang tadinya mau marah justru malah di paksa untuk memaklumi. Lagipula, Mikaya tidak ingin hubungannya dengan Andovi yang sempat membaik kacau lagi hanya karena perdebatan yang seharusnya tidak ia perdebatkan. Selama masih dalam batas wajar, maka ia tidak akan mempermasalahkan sesuatu yang tidak perlu di permasalahkan. Ia lebih baik diam.


Mikaya pun mengulas senyum supaya suasana mencair kembali.

__ADS_1


"Iya, aku paham, mas."


"Makasih atas pengertiannya, sayang."


Andovi mengecup kening Mikaya.


"Kamu pasti capek, lelah. Mau aku buatkan kopi?" tawar wanita itu kemudian.


"Iya, tapi aku mau mandi dulu, ya. Soalnya badan aku udah lengket banget."


"Iya, mas. Nanti aku siapkan pakaian gantinya juga di atas kasur, ya."


"Iya, sayang."


Andovi bangun dari duduknya, mengusap pucak kepala istrinya sebelum dia beranjak menuju kamar mandi yang terdapat di kamar. Mikaya pun menyusul langkah pria itu untuk menyiapkan pakaian ganti. Baru ia ke dapur untuk membuatkan kopinya.


Sebelum pergi ke dapur, Mikaya memastikan Afgari yang masih tidur. Sepertinya bocah itu masih tertidur pulas. Sehingga tidak apa jika ia tinggal sebentar ke dapur.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2