Ketika Istri Tak Lagi Menarik

Ketika Istri Tak Lagi Menarik
Pertemuan Kembali


__ADS_3

Dua puluh tahun berlalu. Afgari telah tumbuh menjadi anak muda yang sudah mulai dewasa. Sedikit banyaknya ia sudah mengetahui tentang ayahnya. Ibunya selalu memberi pengertian terhadap dirinya.


Afgari tumbuh menjadi pria tampan yang banyak di kagumi oleh banyak wanita. Tidak tanggung-tanggung, banyak wanita yang menyatakan cinta terhadap dirinya. Namun, ia mengabaikan banyak perasaan. Ia selalu mengingat pesan ibunya agar tidak pernah mempermainkan wanita, apalagi sampai mengikuti jejak ayahnya.


Selama dua puluh tahun ini, Afgari belum pernah bertemu lagi dengan ayahnya. Kabarnya, ayahnya sudah keluar dari penjara sejak beberapa tahun lalu. Namun ia tidak tahu kabar dimana ayahnya sekarang. Bahkan untuk sekedar tahu ayahnya masih hidup atau tidak.


Ibunya selalu memberi pengertian pada dirinya untuk tidak pernah membenci sang ayah bagaimanapun masa lalunya. Terkadang Afgari merasa marah atas perbuatan sang ayah terhadap ibunya.


Semasa kecil, Afgari tidak begitu memiliki banyak teman. Sebab mereka tahu jika ia putra dari seseorang yang tersandung kasus pellecehhan yang kejam hingga membuat korban depresi berat. Ibunya sudah membekali dirinya untuk tetap tegar dan menerima apapun yang terjadi. Sebisa mungkin ia mengabaikan mereka.


Seiring berjalannya waktu, hinaan itu tidak lagi terdengar. Banyak yang ingin berteman dengannya saat ia memasuki pendidikan kuliah. Namun mereka ingin mendekati dirinya karena mereka tahu jika ia pintar. Dan pastinya mereka dekat hanya ingin memanfaatkan kepintarannya.


Dan untuk para perempuan yang ingin sekali menjadi pacarnya, selain karena tampan dan juga pintar, ia juga lumayan populer karena prestasinya. Ia juga berasal dari keluarga berada. Oleh karena itu mereka mau menjadi pacarnya meskipun tahu layar belakangnya sebagai putra mantan napi.

__ADS_1


Perhatian Afgari seketika tersita pada pria yang duduk di bangku lapuk di jalanan sepi pada saat ia dalam perjalanan pulang menggunakan motor sport hitam dan helm full face nya. Ia menghentikan motornya beberapa meter di depan.


Ia melihat pria tua yang duduk menunduk di bangku lapuk itu dari kaca spion sebelah kirinya. Wajahnya serasa tidak asing baginya. Dan begitu di lihat secara baik-baik, ternyata wajah pria itu sama persis dengan wajah di foto yang ia miliki.


Afgari menoleh ke belakang untuk memastikan jika yang saat ini ia lihat benar-benar orang yang seperti dugaannya. Pria itu ikut menoleh ke arah dirinya ketika sadar sedang di perhatikan. Pria itu melempar senyum padanya, sebelum kemudian menunduk kembali.


Afgari sontak membuka helm dan turun dari motornya. Perlahan berjalan menghampiri pria yang duduk di bangku lapuk itu.


Pria itu melihat ada sepatu di depannya. Dia mendongakan kepalanya dan mendapati anak muda itu tengah berdiri di depannya.


"Kenapa jadi orang jahat?" tanya Afgari kemudian membuat pria tua itu bingung.


"Maaf, kamu siapa?" pria tua itu malah balik bertanya.

__ADS_1


"Kenapa sakitin mama?" tanya Afgari lagi semakin membuat pria itu kebingungan.


"Mama? Mama siapa?"


"Mamaku."


"Memangnya kamu siapa?"


Afgari diam. Ia sengaja ia tidak memberi tahu pria itu siapa dirinya. Cukup lama mereka saling lempar pandangan. Afgari menatap wajah pria itu dengan penuh kekecewaan jika ia mengingat apa yang sudah pria itu lakukan terhadap ibunya.


Afgari sudah tidak bisa mengendalikan diri, ia khawatir jika apa yang selama ini ia simpan akan meledak saat ini.


Dan benar saja, Afgari sudah tidak bisa lagi untuk menahan apa yang selama ini ia pendam.

__ADS_1


"KENAPA KAMU MENYAKITI MAMA, SIALAN! KENAPA SELINGKUHIN MAMA! KENAPA HARUS MENJADI PELAKU PELLECCEHAN YANG KEJAM?! KENAPA KAMU HARUS MELAKUKAN ITU?!"


_Bersambung_


__ADS_2