
"Kamu pukulin dia? Seberapa parah?"
Afgari menggeleng. "Enggak sampai pukulin, ma. Aku juga tahu batasan. Aku cuma ngeluarin unek-unek aku, itu aja."
Mikaya menghela napas lega. Beruntung ia sudah memberi bekal pengertian pada Afgari, bagaimanapun pria itu tetap saja ayah kandungnya. Ia hanya sakit hati, namun tidak dengan menaruh dendam apalagi sampai membenci.
"Sekarang kamu udah tahu gimana bentuk papa kandung kamu. Terus sekarang kamu mau bagaimana?"
Afgari menoleh dan menatap wajah ibunya lekat-lekat.
"Aku rasa ini udah cukup, ma. Cukup untuk pertemuan yang pertama dan yang terakhir kalinya, aku gak mau lihat wajah dia lagi."
"Kamu beneran gak mau ketemu dia lagi?"
"Iya, buat apa? Dia bahkan tidak pantas aku sebut papa seharusnya."
__ADS_1
"Tapi kamu lakukan saat bertemu dengannya?"
Afgari mengangguk.
"Kenapa?"
"Mungkin itu sebagai bentuk rasa terima kasih aku juga sama dia, rasa terima kasih karena tanpa dia aku tidak akan pernah ada di dunia ini. Oleh karena itu aku panggil dia dengan sebutan papa di hadapannya."
Mikaya mengulas senyum tipis. Pengertian yang selama ini coba ia berikan pada Afgari ternyata tidak sia-sia. Afgari masih bisa mengontrol emosinya sekalipun itu di depan orang yang selama ini sudah menyakitinya.
"Mama bangga sama kamu, nak. Kamu mampu mengendalikan diri kamu dari amarahmu."
Afgari melepaskan pelukannya ketika ia teringat sesuatu.
"Oh iya, ma. Ada perempuan calon mahasiswi di kampus aku yang mau daftar dan dia sempat di bully oleh senior. Katanya dia anak dari korban pelleccehhan dua puluh tahun lalu. Aku berpikir itu anak tante Mira, korban manusia biaddabb itu."
__ADS_1
Mikaya terkejut mendengarnya. Setelah sekian lama, kini baru ada kabar lagi soal Mira.
"Kamu yakin?"
"Wajahnya agak mirip sama tante Mira dari foto yang pernah mama tunjukin ke aku. Aku rasa memang dia anaknya tante, Mira. Tapi, menurut mama apa dia hasil dari-"
"Bukan," pungkas Mikaya cepat. "Kalaupun memang iya dia anaknya Mira, mama yakin dia bukan saudara kamu. Kejadian itu terjadi ketika kamu masih berusia enam bulan, kalau dia anak dari papa kamu, usianya pasti tidak jauh dari kamu. Pasti setahun lebih muda dari kamu. Tapi kamu bilang dia baru mau daftar kuliah, kan? Sementara kamu udah hampir tiga tahun kuliah. Usia dia perkiraan delapan belasan, sementara kamu udah dua puluh satu. Mungkin Mira sembuh dari trauma nya dan jadi nikah sama tunangannya yang pada hari itu datang ke apartemen dan menyelamatkannya."
Afgari mengangguk-anggukan kepalanya.
"Iya, itu masuk akal juga, ma. Berarti tante Mira beneran udah sembuh."
"Mama berharap juga begitu. Syukurlah kalau Mira memang sudah sembuh dan bahagia bersama keluarga kecilnya. Kalau bisa mama minta tolong sama kamu buat memastikan apa perempuan itu anak Mira atau bukan. Kalau benar, kamu coba bicara baik-baik sama dia, kamu tanya alamat tinggal dia dimana, mama pengen banget ketemu sama Mira."
"Iya, ma. Nanti aku coba bicarakan sama dia kalau aku ketemu lagi."
__ADS_1
Mikaya berharap jika Mira memang beneran sudah sembuh dan memiliki keluarga kecil. Ia juga turut prihatin atas kejadian di dua puluh tahun lalu. Ia tidak berniat ingin membahasnya lagi dan membuat mental dan luka lama Mira terbuka kembali, ia hanya ingin bersilaturahmi. Itu saja.
_Bersambung_