
Andovi mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tujuannya sekarang ke apartemen dimana Mira tinggal. Baginya ini semua tidaklah adil, Mira yang ia kira akan membantu dirinya, justru malah berkhianat.
"Awas aja kamu, Mir. Kalau aku beneran cerai sama Mikaya, setidaknya aku harus dapetin kamu dulu. Kamu gak bisa pergi gitu aja, Mir. Kamu gak akan bisa lepas semudah itu dari aku. Apalagi kamu tiba-tiba bilang mau menikah sama orang lain."
Wajah Andovi sudah di penuhi oleh dendam. Kedua tangannya mengepal menahan gejolak amarah yang sebentar lagi akan terluapkan.
Andovi sampai di apartemen tempat Mira. Ia masuk ke dalam lift untuk sampai ke lantai atas dimana unit Mira berada. Tidak berapa lama lift yang membawanya naik ke lantai atas terbuka pintunya. Ia keluar dengan langkah yang tergesa menuju unit Mira.
Lima meter lagi ia hampir sampai di depan pintu unit Mira. Saat langkahnya tinggal dua meter lagi, pintu unit Mira terbuka. Memperlihatkan wanita yang tengah menarik koper.
"Pak Andovi," ujar wanita itu lirih dengan kedua mata terbuka lebar.
Pandangan Andovi jatuh pada koper yang sedang di pegang oleh Mira. Ia berpikir jika Mira akan pergi dan kabur darinya. Tapi tidak akan semudah itu, ia tidak akan membiarkan Mira lepas sebelum ia mencapai tujuannya.
Andovi menyunggingkan bibirnya membentuk senyum yang mengerikan.
"Mau kemana, Mir?"
Nada bicara pria itu saja sudah berubah terdengar menakutkan. Mira mundur selangkah secara perlahan, ia berusaha untuk tetap tenang untuk menghadapi situasi ini.
__ADS_1
"S-saya .." Mira berusaha mengulur waktu agar ia bisa masuk kembali ke dalam unit.
"Saya mau ke .." Ini sudah saatnya Mira untuk menutup pintunya, ia tatap terlebih dahulu wajah pria itu dengan wajah tenang.
Bugh ..
Sedetik kemudian Mira menutup pintunya dengan kecepatan kilat. Namun sayang, sepertinya Andovi bisa membaca situasi. Pria itu kini menahan pintunya.
"Aghh .." Mira berusaha mendorong pintunya dengan sekuat tenaga, sedikit lagi pintunya hampir tertutup rapat.
"Kamu kenapa ketakutan begitu, Mira. Aku datang kesini untuk berterima kasih sama kamu. Kamu jadi kan datang ke rumah orang tua Mikaya untuk bantu aku?" Andovi sengaja bicara seperti itu supaya Mira lengah dan ia bisa masuk ke dalam.
Mira merogoh ponselnya, sementara satu tangannya lagi berusaha mendorong pintu. Ia mencari kontak tunangannya yang katanya akan menjemput dirinya pagi ini.
Namun, tunangannya tidak kunjung menjawab teleponnya. Berulang kali ia coba, tapi tetap saja tidak di jawab.
"Ah ya ampun, aku harus bagaimana?" gumam Mira di antara paniknya.
"Aaaaa .." Mira menjerit ketika ia terjatuh ke lantai akibat dorongan keras pintu oleh Andovi, ponselnya jatuh terlempar jauh.
__ADS_1
Andovi berjalan mendekatinya, Mira kian ketakutan. Suasana apartemen cukup sepi karena orang-orang sudah pada pergi untuk menjalani aktivitas rutinitas masing-masing.
"Pak Andovi, kamu mau apa?" tanya Mira dengan bibir gemetar.
Andovi mengangkat sebelah sudut bibirnya membentuk seringai tipis.
"Aku sudah bilang, Mira. Aku cuma mau ngucapin terima kasih sama kamu karena kamu udah berhasil bantu aku untuk menjelaskan sama keluarga Mikaya. Makasih, ya."
Mira menelan salivanya dengan susah payah. Jujur, dari senyuman pria itu sudah membuat perasaannya berubah tidak enak. Mengingat jika pria itu pernah menciumnya saat ada tugas di luar kota.
Mira kemudian mengangguk. Andovi lekas mengulurkan tangannya pada wanita itu. Mira menatap telapak tangan Andovi di hadapannya, beralih menatap wajah pria itu.
Andovi mengangguk sebagai kode agar Mira mau menjabat tangannya. Dia berniat baik untuk membantu membangunkan Mira yang masih terduduk di lantai. Perlahan tangan Mira bergerak meraih tangan Andovi. Saat tangan mereka sudah berjabatan, Andovi menarik tangan Mira sampai berdiri, membalikan badan Mira sekaligus menyeretnya ke daun pintu hingga pintu yang semula terbuka kini tertutup rapat.
Mira sampai terkaget-kaget dengan apa yang di lakukan oleh Andovi. Kini mereka berdiri berhadapan dengan jarak yang cukup dekat. Perlahan tangan Andovi bergerak untuk mengunci pintunya tanpa melepaskan pandangan dari wajah Mira.
"Pak Andovi, bapak mau apa?" tanya Mira setengah panik.
Lagi-lagi Andovi melempar senyum yang terlihat mengerikan.
__ADS_1
_Bersambung_